
Lisa tak banyak berbicara malam itu, selesai mandi, ia merebahkan dirinya di atas kasur.
Laura menatap Dewa seolah bertanya. Dewa hanya mengendikkan bahunya, sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Radit telah pulang, setelah Lisa dan Dewa pulang.
"Ada apa sih?" Tanya Laura penasaran sambil menaruh pantatnya di sofa, di samping Dewa.
"Tanya saja sendiri, Mbak?" Jawab Dewa.
"Sepertinya dia sedang ada masalah? Apa karena Dirga?" Tebak Laura.
Dewa menatap kakaknya, lalu menganguk pelan, sambil memberi isyarat diam dengan jari di bibirnya.
"Ada apa?" Tanya Laura sambil berbisik.
Dewa berdiri, hendak menjemur handuknya, enggan menjawab pertanyaan kakaknya.
"Wa, ada apa sih?" Cecar Laura sambil mengikuti adiknya di ruang laundry.
"Tanya sendiri sajalah,Mbak. Aku ga mau salah ngomong." Jawab Dewa, sambil berlalu meninggalkan kakaknya.
Laura mengetuk pintu kamar Lisa, tidak ada jawaban. Laura membuka pintu yang tak dikunci itu. Lalu duduk di bibir ranjang, Lisa duduk bersandar di sandaran kasur dengan memeluk bantalnya.
"Ada apa?"
"Bu Sisil meminta gue menjauhi Dirga."
__ADS_1
"Hah?"
"Alasannya?"
"Secara terang-terangan tidak bilang, tapi gue merasa karena Mama adalah istri kedua."
Laura mengelus pundak Lisa, berusaha menghibur.
"Gue juga bodoh, sudah tahu Dirga itu dijodohin sama Lo, gue masih ngotot jalan sama dia." Sambung Lisa geleng geleng kepala.
"Lo marah sama gue?"
"La, kalo gue marah, gue balik bakal balik ke sini lagi. Gue cuma ngrasa jadi orang paling bego sedunia! Kenapa gue selalu ga beruntung soal cowo?" Keluh Lisa.
"Heh, denger ya, umur Lo masih 24, belom 30an kayak gue. Masih kinyis-kinyis pulak. Tinggal tunjuk, pasti dapat." Jawab Laura sambil tersenyum.
"Tinggal tunjuk? Lu kira pesen warteg!" Ujar Lisa sambil tertawa.
Dewa terbangun saat mendengar suara tawa dari Laura dan Lisa, ia hanya tersenyum, lalu melanjutkan tidurnya kembali.
***
Satu Minggu kemudian....
Dewa telah menyelesaikan pekerjaannya di Jakarta, lusa ia akan pulang ke Yogya. Laura mengajaknya ke sebuah dealer mobil untuk menemaninya memilih mobil yang baru.
Laura sengaja mengajak Dewa, lalu menghubungi Ibu di Yogyakarta, memamerkan mobil baru Kakaknya.
__ADS_1
Beberapa Minggu yang lalu ternyata Ibunya Pras membuat kehebohan lagi dengan mengatakan, jika Laura itu numpang tinggal di rumah Lisa sang artis itu, lalu hanya jadi kacung bawahan selama bertahun-tahun dengan Bu Sisil. Lalu menggoda Dirga dengan pelet, dan lain lain.
Semua kabar itu dihembuskan oleh Ibu Pras, setelah kejadian Pras menabrak Laura. Saat itu kebetulan, Ibunya sedang mengunjunginya di Jakarta.
Ibu awalnya tidak mau menanggapi desas desus itu, namun makin lama makin membuat telinga Ibunya panas. Akhirnya menghubungi Dewa untuk mengatakan yang sejujurnya tentang keadaan Laura.
Dewa menceritakan semuanya kepada Ibunya. Tentang kecelakaan Kakaknya, akibat ditabrak oleh Pras dan mobilnya rusak parah. Lalu mengenalkan Lisa melalui video call, yang membuat heboh serumah, bahkan satu RT, meminta Ibu untuk sering sering video call, untuk melihat Lisa secara langsung.
Lisa pun menjelaskan semuanya, meluruskan semua berita tidak benar itu, lalu terakhir, Laura sengaja memamerkan mobil barunya pada Ibu, supaya dapat dibawa pulang saat liburan.
Laura juga menunjukkan tempat kerjanya, hingga kantor Bu Sisil.
Semua berita tak benar tentang Laura saat ini telah jelas dan terang benderang. Kini Ibunya Pras harus menanggung malu karena perbuatannya itu.
Beberapa kali adiknya Pras menelpon Dewa membuat klarifikasi dan meminta maaf atas perbuatan Ibunya.
Akhirnya Laura memilih sebuah mobil berwarna hitam kembali. Kini ukurannya lebih besar dari yang sebelumnya. Namun, mobil akan datang seminggu lagi.
Setelah itu, ia mengajak Dewa ke panti asuhan yang sering dikunjungi, ia meminjam motor Lisa. Laura membeli beberapa sembako di dekat tempat itu, lalu diantar ke panti asuhan.
Suster kepala sangat gembira dengan kedatangan Laura.
Dewa sangat terkesan dengan kakaknya itu. Ternyata kakaknya yang lama tidak pulang, memiliki sisi lain yang sangat mulia.
"Aku bangga padamu Mbak." Puji Dewa.
Laura hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
Lalu saat kembali ke Jakarta, Laura mengajak untuk membeli oleh-oleh untuk Ibu, Bude, Bulik, dan orang orang di rumah.
Dewa sampai kewalahan menemani Laura belanja.