
Setelah seharian menghabiskan waktu bersama Aurel dan Kevin banyak diam, keduanya hanya berbicara seperlunya saja.
Tidak tau kenapa sikap Aurel berubah tiba-tiba, sebenarnya pun ia bingung kenapa ia bisa bersikap seperti itu.
"Kamu belum makan sayang, aku pesan makanan untuk kita. Kamu mau makan apa?" tanya Kevin.
"Kamu pesan untuk kamu aja, aku lagi tidak napsu makan," jawab Aurel.
"Aurel kamu harus makan, ingat kamu baru pulang dari rumah sakit. Jaga kesehatan kamu!" kata Kevin sedikit kencang.
"Kamu suka maksa," balas Aurel jengkel.
"Demi kebaikan kamu, cepetan kamu makan apa aku pesenin," kata Kevin.
"Gado-gado sama es teller," sahut Aurel sambil memajukan bibirnya.
"Ya udah aku pesenin sekarang," tutup Kevin sambil membuka aplikasi dan memesannya lewat online.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang Kevin duduk di samping Aurel.
"Sayang kamu serius untuk pergi ke London?" tanya Kevin mencoba untuk sabar dan tidak emosi.
Aurel menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu gak boleh marah kalau aku jadi tidak bisa menjaga kamu di sana, aku minta maaf. Aku harap kamu mengerti untuk sementara waktu aku harus menjaga dan fokus dengan kesehatan Siska. Kelihatannya ia semakin hari semakin lemah aku tidak tega untuk meninggalkannya," ucap Kevin mencoba bersabar.
"Terserah kamu, aku hanya fokus terhadap kehamilanku saat ini," balas Aurel sambil menitikkan air mata.
Setiap kali membahas tentang ini membuat ia sedih dan sesak, tetapi ini menjadi jalan terbaik baginya untuk tetap tenang di masa kehamilannya kelak.
Kalau di sini ia harus sembunyi-sembunyi untuk periksa kehamilannya dan kemungkinan rahasia pernikahannya akan cepat terbongkar.
"Dengan berat hati aku merelakan kamu pergi, jika ini menjadi pilihan terbaik bagimu. Satu hal yang harus kamu tau aku mencintai, menyayangi kamu dan anak kita," ucap Kevin sambil mencium kening Aurel.
Mendengar ucapan Kevin Aurel hanya diam tanpa suara dan ia sudah bulat tekadnya untuk pergi jauh. Menghindari media dan tidak berhubungan dengan dunia model dan infotainment sementara waktu sampai ia siap memulai itu kembali nanti setelah melahirkan.
__ADS_1
Setelah memeriksa kandungannya kembali ke dokter dan di nyatakan semuanya baik, Aurel langsung memesan tiket ke London dengan segera.
Ia tidak ingin menunda keberangkatannya karena semakin hari perutnya akan semakin membesar.
Kevin menghantar kepergian Aurel sampai di bandara dengan perasaan sedih dan tidak rela dalam hati kecilnya, namun ia tidak ingin menghalangi kemauan keras Aurel.
Perpisahan paling menyakitkan dalam hidup Aurel, ia harus meninggalkan dunia model yang sudah membesarkan namanya, ia harus meninggalkan suaminya yang mulai ia cintai walaupun di awal hanya semua rasa balas dendam namun seiring jalan perasaan sayangnya mulai tumbuh buat Kevin, ia harus pergi dengan kesedihan dan kekecewaan namun ini pilihan terbaik baginya meninggalkan semua kenangan indah hidupnya selama ini.
Kevin memeluk Aurel dan mencium kening istrinya, entah berapa lama mereka harus hidup terpisah. Perasaan sedih pun Kevin rasakan dengan kepergian Aurel saat ini, sedangkan wanita itu sudah menangis penuh deraian air mata.
"Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya, tidak tau nanti apa yang akan terjadi apakah aku akan kembali kepadamu atau akan menjadi perpisahan untuk kita. Terima kasih untuk semua perhatian dan cinta kamu untuk kami Kevin," ucap Aurel sambil memeluk erat tubuh Kevin.
"Kamu sedang bicara apa Aurel, kamu istri aku untuk selamanya. Jaga dia untuk aku!! Setelah semua urusanku selesai aku akan membawa kalian kembali," ucap Kevin sambil menciumi istrinya bertubi-tubi setitik air mata jatuh dari sudut matanya.
Aurel melepaskan pelukannya dan sambil mendorong koper miliknya sambil berlalu menjauh dari hadapan Kevin. Ketika hendak masuk pintu kaca yang menjadi pembatas tempat pengantar dan penumpang di bandara Aurel menoleh kebelakang melihat Kevin sedang melambaikan tangannya dan ia membalas dengan kiss bye ke arah Kevin.
Hanya Aurel yang tau apa yang ada di hatinya saat ini, semua rasa berkecamuk menjadi satu antara rasa sedih dan kecewa pada diri sendiri.
Setelah kepergian Aurel ke London, Kevin fokus untuk mendampingi Siska dan mengurus wanita itu. Semakin hari Siska semakin lemah dan tidak berdaya, kanker yang ada di rahimnya semakin cepat menggerogoti tubuhnya.
Sedang perasaan galau Kevin semakin hari semakin besar, sejak pergi ke London tidak sekalipun Aurel menghubungi. Semua komunikasi berputus sudah dengan wanita itu, ia berusaha mencari keberadaan Aurel namun semuanya seperti menutupinya.
Melihat Kevin yang mukanya seperti bingung dan sedih, timbul keinginan Siska untuk bertanya.
"Kevin boleh aku bertanya kepadamu dan jawab dengan jujur pertanyaanku?" tanya Siska dengan suara pelan karena banyak alat medis yang terpasang di tubuhnya.
"Apa yang mau kamu tanyakan Sis? Aku akan menjawabnya dengan jujur," jawab Kevin.
"Aku hanya ingin satu kejujuran dari mulutmu, apa pun nanti jawaban darimu aku akan menerimanya.
Apakah kamu pernah menduakan aku?" tanya Siska sambil menatap wajah Kevin.
Mendengar pertanyaan Siska membuat Kevin terdiam, ragu untuk menjawab. Apakah Siska merasakan saat ini kegalauan hatinya?
Kalau ia menjawab dengan jujur ini pasti akan menyakiti hati Siska tetapi ia juga tidak sanggup lagi untuk membohongi hatinya sendiri dan mendustai Siska.
__ADS_1
"Apakah kamu mau satu kejujuran dari aku Siska?" tanya Kevin.
"Heem" Siska menganggukkan kepalanya.
"Tanpa kamu menjawab sebenarnya aku sudah mendapat jawabannya, aku istrimu aku pasti bisa merasakan semua apa yang terjadi kepadamu," lanjut Siska.
"Maafkan aku Sis, aku banyak melakukan kesalahan kepadamu. Seringkali aku menduakan kamu, aku banyak mempermainkan wanita di luar tanpa sepengetahuan kamu, namun sekarang aku justru merasakan di permainkan wanita.
Aku mencintai seorang wanita yang sedang mengandung anakku, namun sekarang dia meninggalkan aku tanpa kabar." ucap Kevin sambil menunduk mencium tangan Siska.
Sedangkan Siska mendengarnya dan menjadi sedih.
"Kenapa kamu tidak berusaha mencarinya Kevin?" tanya Siska sambil menitikkan air mata.
"Aku akan di sini mendampingi kamu dan menjagamu menepati semua janji yang pernah aku ucapkan. Aku ingin membayar kesalahanku padamu Sis, aku ingin menjadi suami yang baik untukmu, maafkan aku yang brengsek ini," jawab Kevin.
"Terima kasih Kevin atas kejujuranmu dan aku merasa lega, waktuku tinggal sedikit lagi dan nanti kalau aku tidak lagi di sisimu ada mereka yang menggantikan aku. Beri mereka kebahagian dan jangan melakukan kesalahan yang sama, sayangi mereka dengan segenap hati dan jangan menyakitinya," ucap Siska sambil menangis.
"Kamu tidak marah dan kecewa kepadaku Siska?" tanya Kevin keheranan melihat sikap tenang istrinya.
"Untuk apa aku marah? Jangan sampai marahku menghalangi aku meraih surga di kehidupan kedua nanti kehidupan yang kekal," jawab Siska.
Kevin tidak tau lagi harus bicara apa melihat Siska yang selalu tenang dalam segala situasi, ia sangat malu dan bersalah sudah menyia-nyiakan istri sebaik Siska.
Namun suratan takdir siapa yang bisa menebak dan melawannya, baru sekarang ia bisa melihat ketulusan dan kebaikan hati Siska untuknya.
"Aku minta maaf Sis, sudah melukai dan menyakiti kamu, wanita surga yang sudah aku sia-siakan selama ini," ucap Kevin sambil mencium kening Siska.
Mendapat perhatian kecil dari suaminya sudah membuat Siska bahagia.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya setelah selesai membaca.
Happy reading.
__ADS_1