Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Laura Pulang


__ADS_3

"Datanglah ke kedai kopi kecil milikku, di sana ada kopi dan teh juga. Teh yang sama yang kita minum kemarin." Ucap Nora sambil menyerahkan kartu namanya.


"Pasti. Aku akan datang ke sana. Oya, ini nomor ponselmu?" Tanya Laura.


"Bukan, itu nomor kantor. Sebentar, tolong tuliskan nomormu!" Pinta Nora sambil menyerahkan ponselnya.


Laura mengetikkan nomornya pada ponsel Nora, lalu ia mengembalikan pada Nora. Nora memencet nomor yang dibuat oleh Laura.


"Itu nomorku, tolong jangan lupa disimpan." Ucapnya sambil tersenyum.


"Pasti. Terima kasih." Jawab Laura.


Mereka saling berpelukan sebelum berpisah, lalu pergi ke tujuan masing masing.


Laura menyetir dengan santai. Karena masih pagi, jalanan masih belum terlalu macet. Saat itu perasaan lebih tenang dan bahagia. Dia telah menemukan salah satu jawaban, meskipun belum pasti.


Dia membuka pintu rumahnya, terlihat Lisa tidur di sofa. Laura segera menuju kamar mandi, lalu masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.


Ia menyeduh kopi dengan mesin pembuat kopi, aroma kopi semerbak membuat Lisa terbangun.


"Astaga Laura..!" Pekik Lisa sambil berlari memeluk sahabatnya itu.


"Akhirnya kamu kembali. Kami semua cemas mencarimu. Kamu kemana saja?" Tanya Lisa.


"Aku hanya ingin sendiri kemarin." Jawab Laura sambil menuangkan kopi ke cangkir.


"Aku akan menghubungi Dirga dan Radit, mereka sangat cemas saat kamu menghilang. Juga Ben, Bu Sisil, Pak Anton, Madam Lulu, Mas Andre, Anita, Winda, Alan, semuanya Nek...!"


Lisa segera mengirim pesan pada Radit dan Dirga. Sementara Laura sedang mengoles roti dengan selai cokelat, lalu memakannya.


Laura menikmati sarapannya sambil memeriksa ponselnya. Ia membaca puluhan pesan yang masuk dari Radit, lalu pesan dari Lisa, dan yang lainnya. Ratusan panggilan tak terjawab dari kekasih dan teman temannya. Lalu tiba tiba ada panggilan dari Radit, Laura segera menjawabnya.


"La... Laura.?" Panggil Radit terdengar cemas.


"Ya, ada apa. Aku lagi sarapan di rumah." Jawab Laura dengan santai.


Lisa heran melihat perubahan sikap Laura kini.


Setelah menutup panggilan ponselnya, Laura melihat ke arah Lisa yang tak berkedip menatap Laura.


"Nek, ini Lo kan? Atau Lo sudah masuk surga, atau Lo tau siapa gue?" Tanya Lisa memastikan Laura jiwanya masih Gwen atau sudah kembali menjadi Laura.

__ADS_1


"Jiwa gue masih di sini Lis. Gue masih Gwen yang terjebak pada tubuh Laura." Jawab Laura sambil menatap sahabatnya itu.


Tak lama terdengar suara pintu diketuk.


Lisa membukakan, lalu Radit muncul, menuju meja makan, duduk di sebelah Laura.


Ia menatap kekasihnya itu yang dengan santai masih menikmati roti sambil membalas beberapa email tentang pekerjaan.


"Kamu kemana saja?" Tanya Radit.


"Aku hanya butuh sedikit udara segar untuk membersihkan otakku." Jawab Laura.


"Tolong jangan pergi tanpa memberi kabar lagi ya!" Pinta Radit sambil menatap Laura.


"Maafkan aku, terima kasih karena kalian semua mencemaskan aku." Ucap Laura menatap Radit dan Lisa bergantian.


Lalu Dirga dan Ben masuk ke dalam rumah.


"Laura..!" Panggil Dirga, lalu disusul Ben.


"Astaga, rumah gue mendadak jadi rame lagi pagi gini!" Ucapnya sambil menatap mereka semua bergantian, sampai pada Ben.


"Aku antar kamu ke kantor!" Ucap Radit pada Laura.


"Oke, boleh. Terima kasih banyak, kebetulan aku sedang lelah untuk mengemudi saat ini." Jawab Laura, sambil membereskan tas kerjanya.


Radit menunggunya di ruang tamu. Dirga dan Ben duduk di ruang makan bersama Lisa.


"Lis, gue berangkat dulu ya. Sampai ketemu di kantor ya Ga. Bye Ben." Laura berpamitan, lalu menuju mobil Radit.


Lisa, Dirga, dan Ben hanya saling pandang melihat perubahan sikap Laura saat itu.


Lisa seperti itu Gwen. Dulu, saat Gwen sedang kesal atau terpuruk, biasanya ia akan pergi menyendiri di suatu tempat selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke rumah dan bersikap seolah-olah tak terjadi apapun.


Saat menjelang remaja, saat kesal pada Mama atau pacarnya, Gwen akan pergi ke rumah Lisa selama beberapa hari, ia akan curhat pada Lisa ataupun Tante Wulan, mamanya Lisa, lalu setelah tenang, ia akan pulang dan kembali ceria.


Saat Mama Papanya bercerai, Gwen juga sempat menghilang selama seminggu, ia pergi ke Bali, saat itu Mamanya sebagai managernya pontang panting mengurus ulang jadwal syuting atau pemotretan, bahkan harus menjelaskan pada pihak media. Saat itu ada Ben, yang membantu mengurus semuanya, termasuk membantu mencari Gwen. Sejak saat itu, Madam Lulu meminta Mas Andre menjadi manager Gwen, selain mengurus semua jadwalnya, juga menjaganya. Lalu Lisa disuruh ikut bergabung, untuk mengawasi Gwen.


Ben menatap Lisa dan Dirga.


"Sejak kapan dia bersikap seperti itu?" Tanya Ben.

__ADS_1


"Aku tak tau Ben. Aku baru mengenalnya setahun lebih." Jawab Lisa


Mereka akhirnya melanjutkan aktivitas masing-masing.


Ketika di kantor pun Laura telah seperti biasa kembali.


Bu Sisil memanggil Laura ke ruangannya.


"Laura, kemana saja kamu kemarin?" Bu Sisil mulai mengintrogasinya.


"Saya hanya ingin menyegarkan pikiran saya Bu. Maaf saya telah membuat khawatir banyak orang." Laura menunduk.


"Tolong jangan ulangi lagi Laura! Saya belum memberi kabar ini pada Ibumu, saya gak ingin dia juga cemas memikirkanmu." Pinta Bu Sisil.


"Baik Bu. Terima kasih." Jawab Laura lirih.


"Lalu mengapa kamu biarkan Lisa mendekati Dirga lagi?" Tanya Bu Sisil dengan tegas.


"Mereka saling mencintai, Bu." Jawab Laura.


"Apa kamu tidak memikirkan Eyangnya Dirga. Mereka sangat berharap kamu yang menjadi pasangan Dirga. Lalu keluarga kami harus menjelaskan apa pada Ibumu? Aku pun berharap kamu bisa menjadi mantuku, Nduk." Ucap Bu Sisil pelan.


"Lisa dari keluarga baik baik Bu. Ibu bisa bertanya pada Madam Lulu mengenai itu. Dulu ibu tirinya meninggalkan Papanya saat sakit. Saat itu Mamanya yang dulu bekerja sebagai asistennya, yang merawat Papanya, dan dua anaknya. Wisnu dan Niken. Lalu Papanya mulai membaik, mereka saling jatuh cinta, dan menikah. Lalu tiba-tiba Ibu kandung Wisnu datang, lalu merebut kembali haknya sebagai istri. Lalu kini saat papanya sakit, siapa yang merawat? Lisa dan Wisnu, Bu. Sedangkan Mita, istrinya hanya bersenang-senang menghambur uang saja." Laura menceritakan keluarga Lisa.


Bu Sisil hanya diam mendengarkan, lalu ia berdiri menghampiri Laura.


"Nduk, Ibu bisa mengerti yang kamu ceritakan, tapi apakah Eyangnya Dirga bisa mengerti. Ibu minta, tolong coba untuk bisa menerima Dirga." Ucap Bu Sisil.


"Maksud Ibu apa?"


"Tolong dekati Dirga." Jawab Bu Sisil.


Laura terdiam sejenak.


"Maaf Bu, sepertinya saya tidak bisa melakukannya." Ucap Laura.


"Baiklah. Ibu mengerti, anak anak muda jaman sekarang memang susah, jika dikasih tau. Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu kembali."


"Baik Bu. Permisi."


Laura kembali ke ruangannya, melanjutkan pekerjaannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2