Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Laura pulang ke rumahnya, Dirga telah duluan pulang tiga puluh menit yang lalu. Entah kenapa ia ingin lewat jalan di depan rumah Ben. Ia ingin memastikan, lelaki itu benar-benar baik seperti yang dipikirkannya selama ini, atau tidak.


Laura melambatkan mobilnya saat dekat dengan rumah Ben, rumah terlihat sepi saat itu. Remang remang cahaya lampu teras saja, dan mobil Ben tidak ada. Laura akhirnya melanjutkan perjalanannya kembali.


Di persimpangan jalan, Laura menghentikan mobilnya karena lampu menyala merah. Tiba tiba..


BRUK.....


Mobil Laura ditabrak dari belakang dengan keras oleh sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobilnya terseret ke depan, kepalanya terbentur kemudi, dan darah segar mengucur dari keningnya.


"Ya Tuhan, apakah gue bakal mati kali ini?" Pekiknya terkejut dan pasrah.


Orang-orang mengerubungi mobil Laura, berusaha membantunya. Laura berhasil keluar dari mobilnya, dan melihat mobil di belakang kendaraannya yang telah menabrak, beruntung mobil itu memiliki airbag, sehingga pengemudi tidak terluka parah seperti dirinya.


Betapa terkejutnya Laura saat melihat pengemudi yang menabraknya, adalah dokter Tyo atau Pras, mantan tunangan Laura dulu, ya namanya Prasetyo, kini telah menjadi dokter ternama.


Pras juga tak kalah terkejutnya ketika mengetahui yang ditabraknya adalah Laura, ia berjalan menghampiri.


"Maaf! Sebentar, aku akan panggil ambulans." Katanya.


Pras segera menelepon rumah sakit, meminta bantuan.


"Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya. Kepalamu bagaimana? Apakah pusing?" Tanyanya cemas.


"Tidak! Aku hanya terkejut." Jawab Laura.


Tak berapa lama mobil derek datang untuk membawa mobil ke bengkel, dan ambulans tiba, lalu mereka naik ke atas ambulans.


Sepanjang perjalanan ponsel Pras berdering, namun tak dijawab olehnya. Laura hanya terdiam saja sambil memberi kabar pada Dewa dan Lisa, jika dia pulang terlambat karena kecelakaan.


Terlintas nama Radit dalam otak Laura, ia menatap ponselnya, sesaat ia terdiam menatap nama itu, lalu ia menuliskan pesan.


Aku kecelakaan, di rumah sakit.


Laura mengirimkan pesan untuk Radit, terserahlah pikirnya. Setidaknya jika Radit tak datang ia akan menghubungi Dirga, batin Laura.


Pras menatap Laura yang tengah sibuk dengan ponselnya, lalu Laura sadar tengah diperhatikan oleh lelaki di depannya itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Laura segera ditangani di ruang IGD. Kepalanya sempat di rontgen untuk mengecek apakah benturan yang terjadi bisa berdampak.


Pras yang tidak parah, segera mengecek hasil Rontgennya.


Laura mendapat beberapa jahitan karena pelipisnya robek parah.


Tak lama terlihat Dina, berlari menuju IGD menghampiri Pras.


"Kamu ga apa apa Mas?" Tanyanya sambil memeriksa tubuh suaminya.


"Aku ga apa apa. Aku menabrak mobil di depanku, kini mobilnya sudah dibawa ke bengkel." Jawab Pras menenangkan istrinya. Dina menoleh, ke arah Laura yang masih menahan sakit akibat jahitan di kepalanya.


Sontak Dina mendelik menatap Laura, mendekatinya..


Plakkk...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Laura. Laura yang terkejut, sangat geram dibuatnya. Kali ini ia tidak akan bersikap manis seperti citra Laura, kali ini ia akan benar benar memberi pelajaran pada pasangan itu untuk Laura.


Pras bergegas memegang istrinya. Laura menatap tajam pada Dina.


"Dina... Dina.. Din! Sadarlah! Aku menabrak mobilnya, aku sendiri mau pulang, tadi aku sedang ada operasi. Kalo tidak percaya tanya sendiri atau cek jadwal di rumah sakit ini!" Ucap Pras menatap tajam istrinya.


Dina menatap Pras, lalu menoleh ke arah Laura yang masih menatapnya, dan ia memeluk Pras sambil menangis tersedu-sedu. Membuat Laura tersenyum sinis melihat kepalsuan Dina.


Radit berlari di lorong rumah sakit menuju tempat Laura, "Astaga La, bagaimana kejadiannya?" Tanya Radit dengan cemas.


"Aku sudah ditangani dengan baik. Hasil rontgen nya juga sudah ada, benturan tidak menciderai otakku." Jawab Laura sambil tersenyum geli.


"Jangan bercanda. Aku benar-benar cemas." Radit menoleh ke arah Dina dan Pras.


"Maaf, aku yang telah menabrak mobil Laura, sehingga dia terluka." Ucap Pras terdengar tulus sambil melepaskan pelukan istrinya.


"Baiklah, tapi saya tidak terima perlakuan istrimu padaku!" Ucap Laura dengan tegas.


"Din, ayolah, minta maaf!" Bujuk Pras dengan lembut, mendengar bujukan Pras pada Dina membuat Laura ingin tertawa.


"Astaga sebodoh itukah dulu Laura, hanya dengan mulut manis lelaki, dia terbuai." Dalam hati Laura sebagai Gwen menertawakan kebodohan Laura di masa lalu.

__ADS_1


"Aku tidak salah! Untuk apa aku minta maaf?" Rajuk Dina sambil melipat dua tangannya di dada.


"Kamu telah menamparnya tadi." Ucap Pras masih dengan nada lembut.


Dina tetap tak bergeming, ia menolak meminta maaf, dan Pras masih berusaha membujuk istrinya.


"Aku ingin pulang Dit! Capek liat drama ini." Bisik Laura pada Radit.


Laura mendekati pasangan yang telah mengkhianatinya itu.


"Terima kasih telah membukakan mata dan pikiran saya. Pernah dengar hukum karma? Semoga kelakuan di masa lalu, tidak menimpa keluarga kalian, terutama putrimu yang cantik itu." Ucap Laura tepat di depan Dina.


"Apa maksudmu?" Tanya Dina geram.


"Aku pikir kamu teman yang baik, tapi ternyata seorang penghianat!" Jawab Laura.


"Dengar, kamu belum menikah sah dengan Pras, aku tidak salah!" Teriak Dina.


"Pras, tolong bilang ke Ibumu, untuk berhenti menyebarkan gosip gosip yang tidak benar tentang diriku atau keluargaku. Kenyataannya kalian yang telah bermain sering di belakangku dulu. Aku telah memaafkan perbuatanmu yang dulu. Cukup cerita lalu kita dulu. Sekarang kita jalani hidup kita masing masing, dan tolong ajari istrimu sopan santun!" Ucap Laura dengan tegas tanpa melihat ke Dina.


Laura pergi dari ruang IGD diikuti oleh Radit, keluar menuju ke luar.


Radit memegang tangan Laura dan menarik ke mobilnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Radit di dalam mobil.


"Aku tiba-tiba ditabrak dari belakang dengan keras. Sepertinya mobilku rusak parah." Ucap Laura dengan sedih.


"Itu hanya mobil, yang penting kamu selamat." Ucap Radit sambil menggenggam jemari Laura.


Sesampainya di rumah, Lisa dan Dewa telah menyambutnya.


"Astaga La, gimana sih kejadiannya?" Pekik Lisa ketika melihat perban di kepala Laura.


"Pras menabrakku, dan kini mobilku rusak parah sedang di bawa ke bengkel."


"Hah...!!" Teriak Lisa dan Dewa berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2