
Gavin dan Kania mungkin adalah orang yang sangat bahagia saat ini walaupun hanya berbulan madu ke Bali tetapi mereka berdua sangat menikmatinya.
Setiap hari penuh kemesraan, dulu Kania yang suka manja tetapi setelah menikah semua berubah Gavin yang sering manja sama istrinya.
Muka manja dan melas pasti di pertunjukkannya di hadapan Kania supaya istrinya mau menuruti segala keinginannya apalagi masalah di ranjang.
Pengantin baru ini tiada kenal lelah untuk terus belajar berbagai-bagai gaya dalam melakukan hubungan.
Tiada hari yang yang terlewati buat Gavin untuk mengajak Kania bertanding setiap malamnya.
Apakah malam ini masih menjadi malam panjang buat ia dan Kania? Karena besok pagi mereka sudah harus kembali ke Jakarta.
"Sayaaaang ... bisa tolong aku?" teriak Kania dari dalam kamar mandi.
"Kenapa kamu teriak-teriak? Astaga apa yang terjadi sayang?" tanya Gavin panik melihat darah di CD Kania.
"Sayang, tolongin aku beliin pembalut dong. Aku lupa kemarin gak masukin pembalut di dalam koper," ucap Kania malu-malu.
"Aku beli pembalut?" tanya Gavin sambil mengernyitkan dahinya.
"Terus aku minta tolong siapa lagi kalau bukan kamu, gak mungkin aku keluar dalam keadaan begini nanti di lihat orang darah haid aku kemana-mana gimana dong sayang?" kata Kania sedikit manja.
"Ya udah kamu tunggu di sini aku keluar beliin kamu pembalut," sahut Gavin.
Mengambil dompetnya langsung saja lelaki itu melenggang meninggalkan hotel mencari mini market terdekat guna membeli pembalut buat istrinya.
Pengalaman pertama bagi Gavin seumur hidup membeli pembalut wanita, sebenarnya malu sekali entah harus di taruh di mana mukanya saat ini, saat mata pengunjung yang lain melihat dirinya harus di rak pajang khusus pembalut wanita.
Demi di sebut suami sayang istri ia rela membuang malu dan gengsinya untuk membeli barang antik tersebut.
"Beli ****** lebih bergengsi buat lelaki di banding membeli pembalut buat istri," gumamnya dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
Untung saja ada supermarket di kawasan resort tempat mereka menginap jadi Gavin hanya perlu berjalan kaki saja untuk sampai ke tempat itu.
Masuk ke dalam mini market matanya langsung tertuju kepada rak yang memajang macam-macam merek pembalut.
"Mbak bantuin cari pembalut buat istri saya dong," kata Gavin kepada penjaga toko.
"Mau merek apa pak?" tanya penjaga toko.
"Saya gak ngerti mbak, mau telepon istri saya lupa bawa handphone. Yang paling banyak di beli dan paling di sukai wanita aja mbak," jawab Gavin.
"Semua juga laris pak, masing-masing punya pilihannya sendiri," jawab penjaga toko.
"Kalau begitu dari pada bingung semua merek saya beli satu-satu, nanti istri saya tinggal pilih mau yang mana," kata Gavin.
Petugas mini market tersebut melakukan sesuai perintah memasukkan setiap merek satu bungkus dan Gavin membayar semuanya.
__ADS_1
Jadilah Gavin membawa pulang satu kantong besar isinya semuanya pembalut dan sekarang ia mempercepat langkahnya takut Kania terlalu lama menunggu kedatangannya.
Setelah sampai di depan pintu langsung menerobos masuk, ternyata benar kania sudah menunggu kedatangannya.
"Kamu beli apa aja sebanyak itu sayang?" tanya Kania.
"Pembalut buat kamu," jawabnya cepat.
"Pembalut sebanyak itu? Buat stok setahun?" tanya Kania matanya langsung membelalak kaget.
"Aku gak tau mana yang kamu mau dari pada salah aku beli saja semua merek," jawab Gavin santai.
"Terus buat apa sebanyak ini? Masa kita pulang bawa oleh-oleh pembalut Bali," sahut Kania sambil terkekeh.
"Kalau kamu gak pake tinggalkan saja buat petugas hotel," balas Gavin sambil tersenyum.
Kania hanya geleng-geleng kepala melihat pembalut satu kantong plastik besar. Tapi ia harus ngomong "terima kasih buat suami aku tersayang udah mau beli pembalut untukku, pasti kamu malu banget ya tadi?" tanya Kania.
"Gitu deh kira-kira pengalaman pertama di kerjain istri. Yang lebih sedih malam terakhir harus puasa, padahal aku sudah mengimpikan malam ini akan melakukan aksi paling hot dari malam-malam sebelumnya, ternyata___" ucap Gavin terputus.
"Ternyata gagal kacian deh lu," ledek Kania sambil tertawa puas.
"Aku bisa tidur puas dan bebas malam ini," lanjut Kania.
"Kalau aku gak bisa tidur bantuin ya__" kata Gavin terputus lagi.
"Bantuin keluarin di luar," jawab Gavin sambil tertawa.
"Kamu mesum sekarang," balas Kania sambil mencubit pipi suaminya.
"Auw sakiiiit," teriak Gavin.
"Habisnya kamu suka bikin gemas aku," kata Kania.
Kania mengambil sebungkus pembalut dan membawanya ke kamar mandi, setelah selesai menggunakannya ia keluar kembali dan hendak merapikan koper mereka karena besok pagi-pagi sekali mereka sudah harus berangkat lagi ke Jakarta.
*****
Sejak Kania dan Gavin menikah rumah kediaman Rio dan Sisil menjadi sepi. Anak semata wayangnya sudah keluar dari rumah mereka dan tinggal bersama suaminya.
"Sil, kita sekarang tinggal berdua doang setelah Kania menikah. Kalau tau begini dulu aku minta anak selusin biar rumah kita gak kesepian seperti ini," ucap Rio ketika mereka sedang tidur-tiduran di kamar.
"Enak aja minta anak selusin, tapi kalau tau bakalan begini seharusnya kita punya anak lebih dari satu biar rumah kita gak sepi," sahut Sisil.
"Sil, bikin yuk! Kamu masih bisa hamil kan?" tanya Rio.
"Kamu kalau ngomong yang benar aja, masa nanti cucu kita dan anak kita umurnya sama. Mikir Rio!" jawab Sisil kesal.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Aku masih kuat, kita bikin yuk" ajak Rio.
"Kalau bikin adonan dari dulu juga kamu gak pernah berhenti," sahut Sisil.
"Bikin sekarang yuk Sil, siapa tau jadi," balas Rio sambil tertawa.
"Jangan gila nanti anak sama menantu kita malu," ucap Sisil.
"Ya udah kita bikin sekarang aku pake pengaman, udah aku beli satu lusin buat stok," kata Rio sambil tertawa lalu mengambil pengaman yang baru ia beli tadi sore.
Sisil geleng-geleng kepala melihat Rio yang dari dulu gak pernah berubah kalau ngomong selalu apa adanya dan ngasal.
"Buat apa pengaman sebanyak itu Rio?" tanya Sisil.
"Buat di pake Sil, masa di tiup ini bukan balon," jawab Rio.
"Aku juga tau buat di pake tapi banyak amat," balas Sisil.
"Mau saingan sama Kania sama Gavin yang lagi honeymoon, anggap aja kita honeymoon lagi Sil," ucap Rio.
Rio mulai mendekati istrinya dan mencumbui Sisil walaupun sudah punya umur namun stamina dan libido Rio masih cukup bagus.
Tidak lupa ia memasang pengaman takut istrinya marah karena Sisil masih pada usia produktif belum menopause.
Kalau sampai Sisil marah bisa masalah buat Rio gak dapat jatah malam ini.
Lumayan cukup lama Rio dan Sisil bergelut akhirnya keduanya bisa mencapai klimaks.
"Lanjut lagi gak Sil ronde berikutnya?" tanya Rio.
"Cukup Rio, kamu mau buat besok aku gak bisa jalan?" tanya Sisil.
"Tenang aku masih kuat gendong kamu, gimana bisa lanjut?" goda Rio.
"Kamu beneran mau saingan sama Gavin?" tanya Sisil sambil terkekeh.
"Bukan saingan Sil, cuma inget waktu kita jadi pengantin baru di manapun jadi," jawab Rio sambil tertawa.
"Sekarang kita bukan pengantin baru lagi," sahut Sisil.
"Anggap saja kita masih pengantin baru, Sekali lagi ok," ucap Rio sambil kembali mencumbui istrinya.
Sisil tidak bisa menolak dari dulu sampai sekarang Rio tidak pernah bosan untuk melakukannya. Setiap ada kesempatan pasti Rio akan meminta haknya sebagai suami.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa buat memberikan like, komen dan vote setelah membaca.
__ADS_1
Happy reading dan kalau kalian memberikan like dan komen membantu penilaian untuk penentuan level novel ini, so jangan lupa menekan jempolnya.