
"Jadi ada yang bisa saya bantu, bu Lisa?" Sapa Dokter kandungan itu.
"Begini Dokter, saya kan belum menikah, saya ingin mengantisipasi kesehatan bagian reproduksi saya, supaya dapat dideteksi dini." Ungkap Lisa.
"Bisa. Bu Lisa dapat melakukan pap smers untuk hal itu." Saran dokter Linawati.
"Papa.. Pap apa ?"
"Pap smers." Ulang Dokter sambil tersenyum.
"Apa itu?" Tanya Lisa.
"Pap smear adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk deteksi dini kanker serviks atau kanker leher rahim. Karena itu, perempuan menjadi objek utama pemeriksaan ini dibanding laki-laki. Meski demikian, hanya ada beberapa kategori perempuan yang disarankan menjalani pap smear dalam kaitan dengan risiko kanker serviks." Terang Dokter Linawati dengan sabar.
"Kapan saya bisa melakukan tes itu, Dok?"
"Setidaknya lima hari setelah menstruasi selesai, nanti dapat kita lakukan tes pap smers."
Lisa menghela napas, mencoba mengingat kapan ia terakhir datang bulan.
"Sepertinya, beberapa Minggu yang lalu deh, jadi saya belum bisa tes sekarang?"
"Untuk saat ini, saya hanya bisa cek bagian organ saja, melalui USG, namun, untuk deteksi adanya penyakit atau gejala, melalui tes pap smers."
"Oke, Dokter. Tidak masalah." Jawab Lisa sambil mengangguk mengerti.
Dokter meminta Lisa untuk tidur di kasur pasien, dan mengoleskan gel, lalu menggerakkan alatnya di perut. Terasa geli dan aneh rasanya. Tampak gambar seperti bayangan di layar monitor. Dokter Linawati, menganguk angguk, lalu mengetik pada keyboard memberi keterangan.
"Baik, sudah selesai." Ia melepas sarung tangan karetnya, dan kembali ke kursinya.
Laura hanya duduk menemani saja, sambil mengamati Lisa dan dokter itu.
"Untuk kondisi rahim baik dan sehat. Tidak ada masalah. Jika waktunya pas, Ibu Lisa bisa datang kembali untuk melakukan tes."
__ADS_1
"Baik Dokter. Terima kasih. Oya, apakah dokter masih ingat saudara saya ini?" Ucap Lisa sambil menunjuk Laura.
Dokter Lina menoleh ke arah Laura dan mengamatinya.
"Astaga, saya hampir tak mengenalnya lagi. Sekarang Ini terlihat lebih cantik." Puji Dokter Lina.
"Ya, saya menemukan foto usg, kebetulan Lisa sedang mencari dokter kandungan untuk mengecek kondisi kewanitaannya, sehat atau tidak." Jawab Laura basa basi.
"Ya, Laura, saya masih ingat." Jawab dokter Lina.
"Ya, saya Laura. Lama tidak berjumpa dengan Dokter." Laura menyapa dokter Lina dengan ramah.
"Ya, aku ingat saat itu saya masih praktek di klinik Ibu dan Anak itu. Ibu Laura datang sambil menangis, dan mengatakan tes pack nya salah. Padahal kenyataannya, Ibu sedang hamil empat Minggu. Lalu seminggu kemudian Ibu datang kembali, ternyata pendarahan. Ya, saya masih ingat semuanya, Bu Laura. Tapi, sepertinya kini sudah lebih baik. Dan Ibu terlihat lebih bahagia." Cerita Dokter Lina.
Laura tertegun mendengar cerita Dokter Linawati, ternyata janin itu keguguran.
"Ya. Saya berusaha untuk menerima kenyataan dan menjalani hidup dengan baik." Jawab Laura.
"Ya, waktu itu sekitar dua hari, Ibu dirawat di klinik, terlihat sangat buruk sekali keadaannya. Entah sedih karena kehilangan janin, atau ada hal lain. Kebetulan waktu itu Dokter Pras rekan kerja saya, juga teman baik saya, yang ternyata mengenal Ibu juga, sedang membantu di Klinik itu. Saat kalian bertemu, Ibu terlihat lebih baik, dan sudah mau makan, dan bisa tersenyum kembali. Dokter Pras akhirnya menemani, Ibu saat itu." Lanjut Dokter Lina.
"Ya, dokter Pras sudah cerita ke saya, dan dialah yang membiayai perawatan Ibu selama di klinik. Namun, setelah itu, Ibu Laura tidak ada kabar lagi. Bahkan, ketika saya bertemu kembali dengan dokter Pras, dia bilang juga kehilangan kontak Ibu. Dia juga terlihat memikirkan Bu Laura setelah pertemuan itu. Saya juga mengerti posisi dokter Pras yang telah memiliki keluarga, tidak mungkin terang terangan mencari data pasien pada perawat, malah bikin kabar tak sedap nantinya. Lalu kita bertemu hari ini.
Penampilan Bu Laura jauh berbeda dari yang dulu. Saya hampir tak mengenalinya lagi. Terlebih bersama Ibu Lisa, artis terkenal yang sinetronnya sedang jadi buah bibir saat ini." Cerocos Dokter Lina.
Mereka berbincang sejenak setelah itu. Karena jam praktek masih jalan, dan pasien lain juga sudah mengantre, akhirnya Laura dan Lisa berpamitan. Mereka berjanji akan datang kembali. Untuk sekedar berbincang dan periksa kembali.
"Gila..!!" Teriak Laura dalam mobil saat dalam perjalanan pulang.
"Iya, ternyata kisah Laura benar benar rumit." Sambung Lisa.
"Gue ga tau, musti terusin penyelidikan ini, atau sudah saja. Gue takut makin lama, makin ribet kisah Laura ini. Gue antara kasihan atau sedih saat menyusuri masa lalunya." Ucap Laura- Gwen.
"Gue yakin, Tuhan memilih Lo untuk tinggal dalam tubuh ini, bukan ga ada alasan. Pasti ada yang Tuhan persiapkan untuk kalian. Mungkin Laura punya kesalahan, namun sepenuhnya bukan salah dia. Dan Lo juga, Tuhan kasih kesempatan buat Lo untuk hal hal baik yang masih dapat Lo perbuatan.
__ADS_1
Gwen, jujur, Lo adalah orang terbaik yang pernah gue temui dan kenal. Saat gue dibuli, Lo selalu bela, bahkan pekerjaan, Lo juga selalu kasih saran ke gue. Saat Mama ga ada, Lo yang selalu menemani. Lalu Lo meninggal, gue rasanya mau mati saja saat itu. Gue merasa hidup gue menyedihkan!
Tapi, setelah mendengar dan menyusuri kisah hidup Laura, gue rasa ini takdir Lo. Kesempatan untuk membuktikan Lo bisa menjalani semua ini. Bukan sebagai Gwen, atau Laura, tapi sebagai Laura yang baru, sebagai Gwen yang baru." Ucap Lisa panjang lebar.
Laura mengehela napas dalam-dalam, ia menatap Lisa sahabatnya, itu. Lalu ia mengangguk.
Mereka kembali ke rumah mereka.
***
"Lis, Radit juga berencana ke Yogya, katanya dia mau meresmikan kantor dan cafe baru mereka yang di sana." Ucap Laura sambil menikmati sarapannya.
"Iya, kantornya keren." Jawab Lisa dengan gembira.
"Hah? Kok Lo tau?" Laura heran.
"Ya, tau aja. Pernah liat di ig?" Jawab Lisa.
"Ig siapa? Radit bahkan ga punya Ig." Laura mengerutkan keningnya, sambil menatap ke arah Lisa.
"Dewa." Jawab Lisa dengan singkat, namun membuat tatapan Laura berubah mendelik ke arah Lisa.
"Ya, gue tau dari Ig Dewa." Jawab Lisa.
Laura hanya melihat dengan tatapan tajam. Ia tau jika sudah seperti itu sahabatnya ingin mengetahui dengan lengkap ceritanya.
"Jadi, selama Dirga jauh dari gue. Gak sengaja gue dan Dewa saling like Instagram masing masing. Tapi sepertinya, Dewa yang memulainya deh. Pas gue posting naskah film yang di Yogya itu. Lalu gue dan dia terus berkomunikasi sampe sekarang." Jawab Lisa berterus terang.
"Awas, jangan buat main main ya Dewa!" Ancam Laura.
"Duh, galak bener!" Ejek Lisa.
"Dia pemuda yang baik. Aku ga ingin dia tersakiti." Pesan Laura.
__ADS_1
Lisa menatap sahabatnya itu dan menganguk mengerti.