
Setelah memilih gaun yang cocok untuk Kania akhirnya mereka ke meja kasir untuk membayarnya.
Alena sudah mengeluarkan kartu ajaibnya untuk membayar gaun tersebut.
"Mbak saya mau gaun yang itu." Kata Aurel menunjuk gaun yang sedang di tangan Kania.
Kania mengerti sepertinya Aurel sengaja ingin membuat masalah dengan dirinya.
"Maaf gaun tersebut sudah mau di bayar mbak Aurel," jawab penjaga boutique.
"Saya langganan boutique di sini loh, lagian kalau saya pake gaun itu dan menjadi trend karena saya model yang untung kalian juga," balas Aurel dengan sombongnya.
"Maaf sang model yang terhormat, gaun ini sudah saya pilih untuk calon menantu saya yang cantik ini. Kamu bisa memilih model yang lain, masih banyak pilihan," kata Alena.
"Udah buruan mbak saya mau bayar jangan lama-lama saya pengen muntah di sini," lanjut Alena.
Alena mengambil gaun dari tangan Kania dan membayarnya dengan segera.
"Kania gak cocok pakai gaun mahal begitu tante," ledek Aurel.
"Kata siapa calon menantu saya tidak cocok memakai gaun itu, saya sendiri yang memilihnya untuk dia. Jaga mulut kamu !! Dan jangan memanggil saya tante karena saya bukan adik mama kamu," bentak Alena.
"Kamu kenal dengan wanita ini Kania?" tanya Alena.
Karena Alena memang tidak mengenal rupa Aurel ia hanya mendengar namanya karena informasi dari Gisel adiknya Gavin.
"Dia ... dia mantannya Gavin yang model itu mom," jawab Kania.
"Ooh, mantan pacar Gavin. Untung Gavin tidak jadi menikah dengan kamu, kamu memang tidak pantas masuk keluarga kami karena sikap kamu sangat tidak terhormat dan tidak sopan," kata Alena dengan nada tinggi.
Aurel mengepalkan tangannya mendengar perkataan Alena, ia hendak merendahkan Kania justru dirinya sekarang yang di rendahkan.
Alena sangat tidak respect dengan sikap sombong dan angkuh Aurel yang suka merendahkan orang lain. Keluarga mereka sekalipun orang berada mungkin dari lahir tetapi tidak pernah merendahkan dan menghina orang lain.
Setelah membayar gaun tersebut Alena menggandeng tangan Kania untuk membawanya pergi dari boutique menjauh dari Aurel.
"Ayo sayang kita pergi, jangan lama-lama di sini hilang selera makan mommy," ajak Alena sambil memegang tangan Kania di ikutin Sisil di belakangnya, mereka bertiga pun meninggalkan boutique.
Laksana dewi penolong bagi Kania itulah yang di lakukan Alena untuk melindungi calon menantunya, ia tahu Kania terlalu lemah untuk melawan Aurel.
"Udah jangan pikirkan lagi kata-kata Aurel tadi, gadis itu iri sama kamu sayang. Kamu jauh lebih baik dan lebih cantik dari dia, buktinya Gavin memilih kamu sebagai calon istrinya, itu menunjukkan kamu lebih di atas gadis bodoh tadi," ucap Alena menghibur Kania ketika mereka sudah di dalam mobil.
__ADS_1
"Makasih mom tadi udah membela Kania di depan Aurel," kata Kania.
"Mommy akan melakukan apa saja untuk melindungi calon menantu kesayangan," balas Alena sambil terkekeh.
Sisil terharu melihat sikap Alena yang begitu melindungi putrinya layaknya anak kandung sendiri. Ia merasa senang Kania bisa di terima dalam keluarga besar Gavin.
*****
Gavin sibuk dengan pekerjaannya di kantor, beberapa kali Alena mengirimkan foto Kania saat mencoba gaun sewaktu mereka masih di boutique.
Justru sebenarnya Gavin juga yang menjatuhkan pilihan gaun yang mereka pilih tanpa Kania tahu.
Gavin senang melihat Kania memakai gaun yang terakhir di coba terlihat pas di tubuh langsing dan mungil gadis itu.
Ia hanya tersenyum mengingat ketiga wanita tersebut, satu hal yang paling ia syukuri adalah orang tuanya bisa menerima Kania dan sebaliknya gadis itu juga begitu dekat dengan keluarganya.
Bukankah dalam satu keluarga itu yang paling di butuhkan, mereka bisa hidup rukun seperti keluarga orang tuanya.
Dua minggu lagi semua orang akan mengetahui kalau Kania adalah tunangannya, Gavin berharap dengan tersebarnya berita ini para wanita berhenti berharap kepadanya karena sudah ada seseorang yang berada di sampingnya.
"Kamu lagi di mana?" Tanya Gavin lewat sebuah pesan kepada Kania.
"Lagi makan sama mama dan mommy.'" Sebuah pesan balasan dari Kania.
"Ngiri aja π." Pesan balasan Kania.
"Dimana makannya?" Pesan balik Gavin.
"Di resto xx gak jauh dari kantor kamu." Balasan dari Kania.
"Tungguin aku meluncur." Satu pesan terakhir berhasil di kirim.
Dengan segera Gavin merapikan mejanya dan mengambil kunci mobilnya langsung menyusul Kania ke resto tempat ketiga wanita itu makan siang.
Segera ia melajukan kendaraannya tidak memerlukan waktu yang lama ia sudah tiba karena tempat itu tidak terlalu jauh dari kantornya.
"Loh ... Anak mommy ada di sini? Dari mana kamu bisa tau kami sedang di sini?" tanya Alena.
"Gavin punya Indra keenam bisa membaca semua peristiwa," jawab Gavin ngasal.
"Kamu pasang mata-mata ya," balas Alena.
__ADS_1
"Sepertinya kalian bahagia sekali hari ini setelah dari boutique," kata Gavin.
"Kamu lihat muka calon menantu mommy tuh, bahagia bagaimana?" balas Alena.
"Apa yang membuat Kania sedih?" tanya Gavin dengan muka bingung.
"Ketemu Aurel," jawab Kania cepat.
"Dia melukai kamu lagi?" tanya Gavin.
"Dia menghina calon menantu mommy, untung kamu tidak menikah sama dia. Anak itu kurang ngajar, tidak sopan dan sombong," jawab Alena.
"Tenang aku akan membuat perhitungan dengan dia kalau memang sudah keterlaluan," kata Gavin dengan muka geram.
"Udah jangan tambah runyam, nanti ada masanya dia capek sendiri," sahut Sisil menimpali pembicaraan.
"Ayo kita makan aja dulu dari pada hilang selera memikirkan manusia yang tidak penting itu. Kamu mesti semangat Kania, jangan menjadi wanita yang lemah ada kalahnya harus bisa melawan. Kamu tidak sendiri mommy akan berpihak pada kamu," kata Alena tegas.
"Untung kamu udah putusin wanita itu kalau tidak kamu membawa sampah masuk ke dalam keluarga kita," lanjut Alena kesal.
Mereka makan siang dengan tenang dan hangat sampai selesai.
"Gavin kamu sibuk gak hari ini?" tanya Alena.
"Ada apa mom?" tanya Gavin.
"Mommy dan tante Sisil pingin jalan-jalan berdua, kamu bisa temenin Kania cari cincin pertunangan kalian? Biar kalian bisa memilih sesuai selera kalian berdua," kata Alena.
"Siap ibu negara tugas dilaksanakan segera," jawab Gavin sambil terkekeh.
"Udah sana kalian jalan berdua, mommy sama tante Sisil pingin bersama udah lama kita gak jalan bareng," kata Alena.
"Ini yang bayar makan siapa mom?" ledek Gavin.
"Masa kamu gak malu kalau mommy bayarin," jawab Alena mendengus kesal.
"Aku belum menikah masih tanggung jawab orang tua." Ledek Gavin sambil mengeluarkan dompetnya, ia senang bisa membuat Alena jengkel.
Setelah membayar semuanya Gavin dan Kania pun pergi untuk mencari cincin pertunangan untuk mereka berdua.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komen setelah selesai membaca, supaya yang mengetik naskah tetap semangat.
Kalau suka bantu vote ... Happy reading & selamat tahun baru Islam 1 Muharam.