
Udara sejuk nan segarlangsung menyapa mereka sejak awal menginjakkan kaki di villa keluarga Nindya.
Tempat yang paling cocok dan paling nyaman untuk melepas segala penat yang ada di hati dan pikiran mereka.
“Gaes, abis beberes ini kita naik kuda yuk, keliling daerah villa.” Ajak Ayu pada dua sohibnya yang masih sibuk mengeluarkan isi bagasi mobil.
“Ayok... tadi gue juga liat pas kita mau naik ke villa. Ayo Nik.. loe juga mau kan..?” Nia mencoba mencairkan kecanggungan diantara mereka.
“Oke, kalo gitu kalian lanjutin masukin barang-barangnya ya, gue ama kevin yang kesana nyewa kuda nya.”
Niko segera menarik kevin untuk ikut dengan nya. Mereka menuju tempat persewaan kuda untuk berkeliling daerah villa.
Sedangkan para gadis masih sibuk memasukkan barang – barang mereka kedalam villa.
“Kamar kita ada di lantai 2 ya gaes.. yang cowok – cowok di lantai 1.” Kata Nindya
“ Ya udah kalau gitu, kita bawa barang kita ke kamar dulu, baru beberes yang di dapur” ajak Nia
“Oke...”
Mereka pun naik ke lantai 2, dengan cepat memasukkan barang bawaan mereka ke dalam kamar.
Kemudian turun dan memasukkan tas milik Niko dan Kevin ke dalam kamar mereka di lantai 1.
“Cowok tuh emang beda ya... yang di bawa segini doank. Beda ama kita, ribet..!!!” ujar Nia mengangkat tas ransel milik Niko yang sangat enteng baginya.
“ Gue yakin mereka tuh cuma bawa baju ama celana sepasang doank.” Celetuk Ayu yakin saat membawa tas milik Kevin ke dalam kamar.
“Hahahaha... iya bener banget.. palingan entar sabun ama shampoo juga nebeng kita.” Timpal Nindya.
Setelah selesai memasukkan barang – barang pribadi ke dalam kamar masing – masing, mereka bertiga mulai menyimpan bahan makanan mereka selama 2 hari 1 malam disana.
Mulai beres – beres sembari menunggu Niko dan Kevin yang sedang menyewa kuda.
Kevin dan Niko dengan semangat melangkahkan kaki ke tempat persewaan kuda.
Namun di luar perkiraan mereka, antrian untuk menyewa kuda begitu panjang.
Mungkin karena hari ini weekend dan juga bertepatan dengan liburan sekolah. Sehingga banyak orang yang menghabiskan masa liburan mereka bersama keluarga.
Cukup lama mereka menunggu antrean hingga akhirnya mereka pun menyerah.
Kevin dan Niko yang sudah lelah dan tidak betah untuk lama-lama mengantre, memilih untuk pulang ke villa setelah sebelumnya melakukan reservasi untuk menyewa kuda besok pagi.
Sesampainya di gerbang villa, mereka berdua sudah disambut dengan wajah sumringah oleh ketiga gadis yang menunggu sejak tadi.
Nia melihat ke arah belakang dua pria itu. Mengerutkan dahinya.
“Lhah... mana kudanya...??”
“Antri buanyak banget,gaes... Gak kuat gue nunggu nya.” Jawab Kevin dengan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
“Yaaaaah...”seru ketiga gadis itu kompak.
“Tapi tenang, gue udah pesen buat besok pagi.” Timpal Niko.
Wajah ketiganya kembali sumringah. Yah, gapapa deh ke pending sehari, yang penting masih bisa naik kuda.
“Terus sekarang kita mau ngapain ...?? gabut gini..” tanya Ayu.
Nia dan Nindya sama-sama mengedikkan bahunya. Membuang tatapan kearah Kevin dan Niko.
Kedua nya tampak berpikir sesaat, kemudian Niko menunjuk sudut villa dengan dagunya.
Mata mereka serempak melihat arah yang sama. Diikuti dengan anggukan kepala.
“Tim cewek vs tim cowok, oke..??” ajak Niko.
“Gue nggak ikut, gue jadi wasit aja.” Sahut Nindya.
“Kenapa Nin...?? gak asik loe ah...” ucap Nia.
“Gue lagi dapet, gak nyaman kalo main begituan.” Ucapnya setengah berbisik pada dua cewek disampingnya.
Akhirnya mereka sepakat untuk membagi tim. Nia dengan Kevin, sedangkan Ayu dengan Niko.
Nindya mengambil bola basket yang teronggok di sudut villa. Melambungkan ke udara, tanda permainan dimulai.
__ADS_1
Mereka bermain dengan semangat dan juga riuh suara dari Nia dan Ayu. Lebih mirip suara cheerleaders daripada orang yang sedang bermain basket. Heboh sendiri.
Kevin mengoper bola pada Nia, Nia mendrible beberapa langkah melewati Niko yang menghadang. Gaya nya sudah seperti pemain profesional. Mendrible lalu menghindar dari lawan ala- ala penari balet, berputar diantara tubuh Ayu dan Niko.
Saat ingin memasukkan bola ke ring, tiba-tiba
“Lah... bolanya mana..??!”
Nia baru tersadar jika bola yang dibawanya sudah beralih ke tangan Niko. Niko hanya tersenyum sinis menaikkan satu alisnya.
Nia mendengus kesal.
Perebutan bola kedua tim kembali memanas diikuti teriakan dan cekikikan Nia dan Ayu.
Setelah kembali dalam persaingan sengit dalam beberapa saat, Bola kini kembali dalam kuasa Nia.
Kali ini ia tidak ingin kehilangan kesempatan mencetak nilai. Nia mulai mendrible, melangkah melewati Ayu yang menghadangnya.
Nia melompat tinggi memasukkan bola kedalam ring. Bola berhasil masuk,Nia mencetak poin.
“Akkkhhh..” Nia memekik kesakitan memegangi kakinya.
“Nia...!!” Ayu berteriak histeris melihat Nia terjatuh di sampingnya.
Mereka berempat berlari ke arah Nia yang sudah duduk selonjoran memegangi kakinya meringis kesakitan.
“Loe gakpapa Nia...??” Niko terlihat khawatir melihat Nia yang terus memegangi kakinya.
“Kok bisa sih,Ni...??” Ayu berjongkok di depan Nia perlahan membuka tangan Nia, melihat keadaan kakinya.
Kaki Nia nampak mulai membengkak, walau belum menunjukan perubahan warna.
“Kayaknya tadi kaki gue salah napak deh waktu ngeloncat.” Ucap Nia yang berusaha menahan sakit di kakinya.
“Ayo masuk dulu... loe bisa berdiri gak...?? Nin, tolong siapin air es donk??” pinta Ayu melirik kearah Nindya
Nindya yang dimintai tolong malah mengerutkan alisnya tak paham.
“Loe kebangetan deh Ay, masak mau bikin es disaat kayak gini..??” ucap Nindya.
“Ya ampun Nin, loe kesambet apa sih..?? buat ngompres kaki Nia lah...!!
Nindya yang akhirnya memahami maksud Ayu segera masuk duluan ke dalam villa, menyiapkan air es yang dimaksud Ayu.
“Ayo Nia, pelan-pelan berdirinya.” Ayu membimbing tangan Nia perlahan membantunya berdiri, Kevin mencoba membantunya dengan memegang punggungnya.
Niko yang melihat Nia tanpak kesakitan berdiri, tanpa ba bi bu langsung menggendongnya ala bridal style.
Menggendongnya, masuk kedalam villa meninggalkan Ayu dan Kevin yang hanya bisa melongo terdiam di tempat.
Niko perlahan membaringkan tubuh Nia di sofa ruang tengah diikuti dengan Ayu dan Kevin dari belakang. Nindya yang datang membawa air es melihat sekilas Niko yang menggendong Nia, melihat mereka dengan tatapan sendu.
“Ini air es nya.” Ucap Nindya setelah cukup lama terdiam melihat interaksi mereka dari jauh.
“Kompres bentaran ya,Nia.. biar gak terlalu bengkak.” Ayu mengambil air es tadi, membalutnya dalam handuk lalu mengompres kaki Nia.
Nia menganggukkan kepalanya,” Pelan-pelan ya, Ay.”
“Bereees... percaya sama gue.”
Tanpa disadari oleh mereka sejak tadi Niko mengenggam tangan Nia, seakan menyalurkan kekuatan untuk Nia.Niko sendiri pun tidak menyadari hal itu. Niko fokus mengamati Ayu dengan telaten merawat Nia.
Nia yang menyadarinya perlahan menarik tangan yang digenggam Niko. Perlahan sekali, ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan diantara teman-teman mereka.
Tanpa bersuara Niko, menatap Nia yang menarik tangannya. Mereka bersitatap dalam diam. Saling berbicara tanpa bersuara. Entah apa yang terlukiskan di hati mereka masing-masing.
Nia kembali meringis memegangi kakinya untuk menghindari tatapan menusuk Niko. Dia merasa canggung sendiri ditatap seperti itu.
“Kita ke dokter aja yuk, Nia!!” Niko akhirnya membuka suaranya.
“Gak usah, gue gakpapa, keseleo doank ini.” Nia mencoba tersenyum.
“Yakin?? jadi biru gini lho Nia.”
“Asli gue gakpapa Niko. namanya keseleo yang jadi biru lah.”
“Istirahat bentaran juga sembuh, gini doank lho gaes... “ imbuhnya
__ADS_1
Nia mencoba bangun dari duduknya, berjalan dengan agak terseok.
“Eh, mau kemana loe Nia...??” tanya Ayu melihat Nia yang tiba-tiba berdiri.
“Gue mau istirahat bentaran ke kamar, boleh ya..??”
Mendengar penuturan Nia, secara reflek Niko kembali menggendong Nia ala bridal style.
“Eeeee Nik, mau ngapain loe..??” Nia meronta melepaskan diri dari gendongan Niko.
“Sebelah mana kamar loe..?? gak usah bawel, kalo keseleo loe tambah parah gue bisa digorok nyokap loe.” Sahut Niko sambil berlalu dari ruang tengah.
“Di lantai atas.”
Nia diam menuruti perintah Niko, digendong naik ke lantai dua. Dalam hati dia juga bakalan kesusahan sih kalau harus berjalan sendiri.
“Gak ada kamar yang dibawah aja Nin...??” tanya Niko memutar tubuhnya saat akan menaiki anak tangga.
Nindya tersadar dari lamunannya. Entah apa yang ada dipikirannya.
“Eh..??oh... ada.. ada... tuh sebelah kiri loe. Yang pintu merah.” Tunjuk Nindya berlari kearah kamar yang dimaksud lalu berlari membukakan pintu untuk Niko.
Niko berjalan memasuki kamar yang ditunjuk Nindya. Akan lebih mudah bagi Nia untuk istirahat di kamar bawah, pikirnya. Daripada harus kesusahan naik turun tangga.
Niko mendudukkan Nia perlahan di sisi kasur sesampainya di kamar.
“Buseeet.. loe makan apa aja sih berat banget, mati rasa tangan gue.”
“Sialan loe, ikhlas gak sih...??” Nia berpura-pura manyun
“Thanks ya Nik... terimakasih.” Lirih Nia.
Niko terdiam sejenak.
“Oke, ntar kalo udah balik, kita nyari tukang pijet.” ucap Niko kemudian.
“Gue gakpapa Nik, gak perlu di pijet.”
“Ge eR.. buat tangan gue..!! bukan buat loe..!!!”
Nia membuang nafasnya, melempar bantal yang ada di dekatnya. Tepat sasaran menampar wajah Niko.
Mereka berdua tergelak bersama. ketiga teman mereka yang berdiri di sisi pintu pun hanya sanggup geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
Satu persatu mereka membubarkan diri. Ada yang ke kamar, ke dapur melihat stok camilan, ataupun ada yang hanya duduk-duduk di teras.
Niko pun beranjak keluar kamar Nia. Saat akan menutup pintu, Niko membalikkan badan,
“Nanti malam gue mau ngomong sebentar sama loe.”
Nia yang sedang merapikan selimutnya sejurus kemudian menatap Niko.Terlihat raut wajahnya yang serius.
Nia menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
.Hai Readers, ini adalah karya pertama Author. Mohon maaf jika masih agak kaku ya.
Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.
Terimakasih.
,
.
__ADS_1
.