Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 101


__ADS_3

Selesai urusan bunga yang ditelan oleh Vano, Vallen membawanya masuk kedalam diruang tamu. Aneh rasanya Vano bertamu malam malam ke rumah seorang gadis.


"Mm kau masih marah padaku?" Tanya Vallen dengan polosnya.


"Sudahlah jangan bahas itu, ini ambillah" jawab Vano memberikan kotak yang ia pegang.


"Ponsel? Untuk apa?" Tanya Vallen bingung.


"Memangnya kau tidak merindukan ku? Kekasih macam apa kau tidak berniat menghubungi ku sama sekali" ucap Vano ketus.


"Be,,,begini (Vallen membuka laci didepan televisi) papa memberikan pilihan dua belas jenis ponsel tapi aku belum sempat memilihnya jadi aku tidak bisa menghubungi mu tadi" kata Vallen menunjukkan kotak kotak ponsel.


"Baiklah pilih saja" ujar Vano mengambil kotak ponselnya dan membuangnya di tempat sampah dekat dapur.


"Va,,,, Vano"


"Tidak usah dipikirkan pilih saja ponsel dari papa mu, pilih yang mana?" Kata Vano kembali mendudukkan dirinya.


"Kau yakin?"


"Yakin!!" Jawab Vano namun remote AC sudah ada ditangannya untuk memperbesar suhu dingin.


Vallen bingung padahal suhu disana sudah cukup stabil bahkan jika udaranya ditambah malah akan menyebabkan terlalu dingin.


"Mm kau tidak kedinginan"


"Kedinginan? Cih bisa bisanya kau mengatakan kedinginan sedangkan otak ku sudah terbakar!" Jawab Vano sinis.


Aku mengerti, dia ingin aku menggunakan ponselnya. Batin Vallen


Gadis itu memutuskan untuk mengambil ponsel yang tadi dibuang oleh Vano setelah itu ia membukanya dan memasukkan kartu yang sudah satu paket dengan ponsel.


"Aku akan menggunakan ini" ucap Vallen memainkan ponsel ditangannya.


"Untuk apa, itu tidak berguna sama sekali!" Kata Vano.


"Apapun itu, asal kau yang memberikan nya pasti berharga"

__ADS_1


Seperti biasa Vano menghadap ke arah lain sambil menggigit bibirnya untuk mengontrol senyum sialan yang tidak bisa ia kendalikan itu.


"Mm ada yang ingin ku katakan"


"Apa?"


"Besok besok jika ingin bertamu kabari aku terlebih dahulu karena mulai besok malam papa memberi ku jadwal mengaji dan belajar shalat" tutur Vallen.


"Kau tau? Aku menyesal telah mencari seluk beluk keluarga mu, kan aku bisa mengajari mu kenapa harus orang lain, awas saja jika guru mu laki laki aku tidak akan segan membakar rumah mu" gerutu Vano.


Huuhh


Vano harus mulai terbiasa hidup seperti ini, berjarak dengan Vallen karena ia sudah memiliki keluarga namun tak apa toh Vano sudah memiliki hubungan yang serius dengan Vallen.


"Papa mana?" Tanya Vano sok tenang.


"Sebentar aku panggilkan"


Baru selangkah ingin berjalan David dan Bela sudah keluar dari kamar mereka lalu mendekati Vano.


"Assalamu'alaikum calon ibu mertua" sapa Vano tersenyum kikuk sambil menyalami Bela.


"Assalamu'alaikum REKAN KERJA" Sapa Vano pada David.


"Waalaikumussalam" jawab David datar karena panggilannya berbeda dari Bela.


"Vano sudah makan malam?" Tanya Bela.


"Belum tante kebetulan Vano kemari sekaligus numpang makan" jawab Vano cengengesan sambil menggaruk keningnya.


"Semiskin apa kau sampai menumpang makan dirumah orang" saut David ketus.


"Om tampan bukan masalah uang tapi tangan calon istri ku ada disini jadi aku tidak bisa makan jika tidak disiapkan makanan olehnya" tutur Vano menekan semua kalimatnya.


"Baiklah baiklah kalian duduk saja disini kami akan menyiapkan makanan untuk kalian, ayo sayang" ajak Bela merangkul Vallen seperti seorang sahabat sekaligus orangtua.


Sementara itu Vano dan David sama sama kembali duduk ditempat masing-masing, tidak ada pembicaraan karena memang semua sudah berjalan kondusif baik itu perusahaan ataupun keamanan Vallen.

__ADS_1


"Ehem,,," sapa Vano memulai pembicaraan lebih tepatnya itu pertengkaran


"Om kapan kami akan menikah" ucap Vano menatap David.


"Cih menikah? Belum tentu aku merestui mu" kata David tersenyum sinis.


"Begini om aku menyukai putri mu, tapi sebelum putri mu lahir aku ikut andil dalam mempersatukan kalian berdua, kau ingin aku membocorkan rahasia mu pada nyonya Ferrero?" Ujar Vano mengeluarkan seringainya.


"Aku tidak memiliki rahasia apapun!!"


"Cih bagaimana dengan rencana meniduri nyonya Bela saat ia terlena meminum air pemberian mu? Bukankah itu bir?" Gertak Vano menyeringai.


"Dia sudah mengetahuinya kau mau apa?" Tantang David.


"Benarkah? Bagaimana dengan orang yang menggantikan nya pakaian malam itu?"


Uhuk,,,uhuk,,,uhuk


David tersedak cukup keras hingga ia meneguk habis minuman di depannya.


"Ka,,,kau"


"Daya ingatan ku cukup kuat om, masih menolak merestui ku atau rahasia ini kita simpan berdua" ucap Vano membuat kesepakatan.


David ingin sekalii meninju wajah sok polos Vano saat ini, jika saja dia bukan putra dari Vino Salvatrucha mungkin Vano sudah jauh tenggelam didasar sungai.


"Hmm sepertinya ini belum cukup, bagaimana jika Farel dan Ethan datang kemari untuk memberikan bukti bahwa kau lah yang menggantikan pakaian nyonya Bela, perlu kertas om?" Tanya Vano tetap menyunggingkan seringainya.


"Untuk apa, aku tidak butuh!!"


"Untuk surat perceraian" jawab Vano hampir terbahak bahak melihat ekspresi David.


"Kurang ajar!! Meminta restu macam apa ini, kau terus saja mengancam ku sedari tadi aahh aku tidak yakin putri ku akan bahagia ditangan mu, aku akan menjodohkan nya dengan orang lain" ancam David balik.


"Silahkan om silahkan, perlu berapa kertas om?" Tanya Vano dengan tatapan mengejek.


"Atur Vano atur terserah kau saja! Ahh aku kesal memiliki calon menantu tampang begini" jawab David lalu pergi meninggalkannya untuk berkumpul kembali bersama bela dan Vallen yang sedang menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Aku memiliki andil dalam mempersatukan orangtua mu dan sekarang kau adalah kekasih ku, itu artinya aku ikut serta dalam proses pembuatan mu ehh?? maksud ku bukan itu,,, yaaa intinya itulah, dunia ini sangat kecil. Batin Vano


__ADS_2