Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 76


__ADS_3

Dimalam yang gelap ditemani sepi dan tiupan angin angin malam dari luar jendela yang terbuka bebas, seorang gadis sedang tertidur pulas diatas ranjang.


Dia adalah Vallen, wajah gadis yang biasa nya ceria dan penuh tawa itu kini berubah menjadi sangat menyeramkan.


Ceklek


"Vallena sayang ayo bangun ini saatnya kita pergi memburu" ucap seorang pria dengan seringainya.


Vallen langsung membuka mata ketika mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinga nya, yaaa dia adalah Pian. Laki laki yang selama ini selalu mendambakan Vallen, Pian tidak pernah berani menyentuh Vallen sedikitpun untuk menghargai cintanya pada gadis itu.


"Hey apa kabar?" Tanya Pian mendekati Vallen.


Vallen tetap tidak memberi respon walaupun tubuhnya sudah terduduk tegak.


"Sssttt aku tidak suka ini" ucap Pian mengeraskan rahangnya.


Pian berjalan menuju laci lalu mengambil peralatan lengkap yang biasa digunakan Vallen dulu.


"Aku tidak ingin menggunakan itu!!" Kata Vallen menatap alat alat di tangan Pian.

__ADS_1


"Bos akan marah padaku sayang jadi turuti saja keinginannya atau kau akan mendapat ganjaran, dia sudah cukup marah kau pergi terlalu lama" ujar Pian sambil memasangkan gelang dan alat pengendali di kepala gadis malang itu.


"Aku ingin membunuh mu Pian!!" Ucap Vallen sebelum Pian benar benar memasangkan lensa dimatanya.


Pian membiarkannya Vallen sebentar untuk merespon program program di alat tubuh nya. Begitu juga dengan Vallen yang terdiam merasakan sakit dikepala dan otot otot nya akibat seluruh alat itu, keadaan ini memang sudah biasa dirasakan oleh Vallen.


"Bagaimana? Apa masih sakit?" Tanya Pian sedikit khawatir melihat wajah pucat Vallen.


"Tidak!!" Jawab Vallen dingin.


Aura pembunuhnya kembali seketika, darah terlihat segar dan harum di Indra Vallen tapi sayang di lensa itu sudah terdaftar nama dan data target yang harus ia bunuh, Pian tidak termasuk targetnya jadi Vallen akan terdiam.


"Bagus!! Aah ya aku harus memberitahu mu sesuatu sayang, bos sangat marah pada mu jadi minggu depan kita akan meninggalkan negara ini untuk menemui nya" Tutur Pian memegang bahu Vallen.


"Baik, oleh karena itu dia menyuruh mu kembali" jawab Pian santai.


Vallen berjalan menuju ruang senjata untuk mengambil perlengkapan, tidak ada yang berubah dari tempat itu karena Vallen sering datang kerumah Pian hanya untuk beristirahat. Rumah Vallen dan Pian bisa dikatakan berjarak cukup jauh dan rumah Pian sedikit sulit untuk ditemukan.


"Vallen boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Pian mengikuti Vallen kedalam ruangan.

__ADS_1


Jika Vallen diam itu artinya boleh, Pian sedikit lega Vallen selalu memberinya ruang sedari tadi.


"Kemana kau pergi selama ini?" Tanya Pian.


"Bertemu musuh!" Jawab Vallen sambil memasang peluru.


"Kau ingat wajahnya?" Tanya Pian.


Vallen menghentikan tangannya sejenak lalu memejamkan mata dan mencoba mengingat wajah wajah orang yang pernah ia temui namun tidak berhasil, wajah Vano seakan sirna namun kenangannya masih tersimpan rapi di ingatan Vallen.


"Biasanya aku hanya melupakan wajah kenapa sekarang namanya pun aku tidak tau, bahkan aku,,,,," Vallen merasakan sesak ketika mencoba mengingat ingat kenangan itu.


"Sudah cukup aku tidak ingin kau mengingat apapun, ingatlah tujuan utama kita di utus kemari untuk membunuh pembesar!" Kata Pian.


Perlahan Pian merengkuh tubuh mungil itu masuk kedalam pelukannya, Pian sangat merindukan sosok itu beberapa bulan ini hingga ia tak mampu untuk menahan nya.


"Aku bisa saja membunuh mu!! Ingat ayah mengatakan aku bebas membunuh siapapun terutama kau!!!" Ancam Vallen meletakkan pistol di atas daun telinga Pian.


"Maaf!!" Ucap Pian langsung mengangkat tangannya, dia saja tidak berani melawan jika Vallen sedang kehausan darah seperti ini, dia hanya mampu mencuci bersih pikiran Vallen itupun harus dengan persetujuan atasannya.

__ADS_1


Syukurlah setidaknya kau lupa dengan wajah target mu selanjutnya. Batin Pian


"Setelah permainan ini selesai kita kembali ke negara kita sayang" gumam Pian menatap kepergian Vallen.


__ADS_2