
Dihotel Ethan memerintahkan putranya untuk beristirahat agar Vano tidak khawatir lagi padanya sedangkan Tristan mencoba menghubungi Vero tapi nomornya selalu tidak aktif, mungkin dia benar benar tidak ingin berhubungan dengan Excel dan Tristan lagi.
"Bagaimana Excel?" Tanya Vano.
"Sedang istirahat kau,,,," Ethan memperhatikan wajah Vano yang terlihat memerah.
"Kau menangis?"
"Tidak, sudah ya aku ingin pergi ke kamar jangan lupa berikan obat pada Excel" jawab Vano lalu pergi.
Dikamar Vano menghubungi kedua orangtuanya dengan panggilan video.
"Assalamu'alaikum umi"
"Waalaikumussalam sayang bagaimana kabarmu?" Tanya Vira langsung.
"Alhamdulillah"
"Wajah mu kenapa? Kau menangis?" Tanya Vira.
Vano tersenyum menatap uminya, dia memang tidak bisa berbohong pada dua orang yaitu Vira dan Vallen.
"Jangan bohong, ceritakan ada apa disana sampai kau menangis"
"Tadi Excel terjatuh dan tangannya terkilir"
"Kenapa kau menangis seperti itu kau terlihat cengeng, salahmu juga membiarkan Excel bermain terlalu bebas"
"Bukan Vano umi tapi Excel mendapat teman baru disini namanya Vero dan dia yang mengajak Excel keluar"
"Tapi kenapa mata mu sampai sembab seperti itu, apa Excel terluka parah?" Saut Vino.
"Tidak abi sebenarnya Vano tidak menangis karena itu"
"Lalu"
"Vallen ada di Inggris umi, dia sangat cantik dan pintar" kata Vano dengan senyum manis menceritakan istrinya.
"Benarkah? Alhamdulillah kenapa kau tidak membawanya pulang"
"Vallen belum mau kembali bersama Vano umi"
"Kenapa?" Tanya Vira dengan serius.
"Tiga tahun ini Vallen lumpuh umi"
Vira menatap Vino dengan ekspresi tak terbaca antara terkejut atau shock mendengar jawaban putranya.
"Umi Abi Vano ingin bertanya satu hal yang cukup penting"
"Katakan"
"Umi dan abi mau kan menerima Vallen tetap menjadi menantu walaupun,,,"
"Apa maksudmu Vallen akan tetap menjadi menantu sekaligus putri kami di keluarga Salvatrucha bagaimana pun kondisinya" jawab Vira langsung memotong kalimat Vano.
"Terimakasih umi" Vano tersenyum sembari menyatukan kedua tangannya sebagai tanda terimakasih.
"Umi Abi bisakah kalian semua datang kemari untuk membantu Vano membujuk Vallen? Mungkin Vallen memikirkan kalian juga sebagai bahan pertimbangan"
"Baiklah lusa kami akan sampai" ucap Vino.
"Sekali lagi terimakasih umi abi"
"Mungkin Vano hanya mengabarkan itu saja umi, Vano sudahi ya Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
Vano menutup panggilannya lalu terdiam sejenak, dia belum tau apa langkah selanjutnya untuk hari esok.
Vano mencari berkas berkas kerjasama nya dengan Ferrero Group, ada satu hal penting yang ingin dia cari yaitu Nomor ponsel Vallen.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Vano mencoba menghubungi Vallen dengan panggilan video juga sama seperti umi dan abinya.
Saat panggilan itu sudah diterima, Vano melihat wajah mungil dan cantik sedang bingung dengan wajah Vano.
__ADS_1
"Om yang tadi?" Tanya Vera.
Seketika senyum Vano mengembang melihat putrinya yang mengangkat panggilannya.
"Iya sayang" jawab Vano.
"Ada apa om?"
"Tidak ada hanya ingin melihat wajah cantik mu"
"Vera cantik? Terimakasih om juga tampan tapi ada yang lebih tampan dari om jadi maaf"
"Benarkah? Siapa yang bisa mengalahkan ketampanan didepan layar ini?" Tanya Vano meladeni tingkah menggemaskan putrinya.
"Ada tapi dia tidak boleh diperkenalkan"
"Kenapa?"
"Berisik!!"
Vera terkejut dan menutup rapat rapat mulutnya.
"Siapa Vera? Apa ada orang lain disana?" Tanya Vano.
"Tidak sudah om jangan dibahas om sedang mencari mama? Dia masih diperiksa dokter" jawab Vera.
"Sayang mulai sekarang panggil papa ya jangan panggil om"
"Papa?"
Vano mengangguk diiringi senyum khasnya.
"Vera tidak tau apa yang terjadi tapi Vera senang mendengarnya"
"Ahh sebentar sepertinya mama sudah selesai tunggu ya"
Vera meninggalkan ponsel mamanya beberapa menit dan Vano dengan setia menunggu seseorang muncul dilayar tersebut.
"Ma itu papa mencari mama" ucap Vera masih terdengar berdebat dengan Vallen.
"Hay" Vano melambaikan tangannya dengan kedipan mata yang menggoda.
"Benar papa kan ma?" Tanya Vera.
Vano tersenyum dengan kepintaran bibit unggul nya memancing Vallen.
"Sayang mama haus minta tolong ambilkan air" ucap Vallen.
"Baiklah"
Setelah Vera pergi Vallen mendekatkan dirinya ke ponsel dan berniat memutuskan panggilan.
"Sayang tunggu tunggu" cegah Vano.
Vallen mengangkat alisnya melihat kepanikan Vano.
"Apa?" Tanya Vallen dengan wajah polosnya.
Vano mencari cara untuk mencegah Vallen memutuskan sambungan itu, dia mengambil apel dan mengupasnya secara cepat.
"Aahh!!" Vano sengaja melukai dirinya sedikit sehingga Sarah menetes di apel tersebut.
"Kau baik-baik saja? Vano mengupas apel tidak sama dengan memotong bawang lihat sekarang tangan mu terluka kan, cepat panggil Ethan untuk membawakan obat!" Ucap Vallen terlihat khawatir dengan luka ditelunjuk Vano.
Vano hilang dari layar ponsel Vallen karena pria itu sedang tertawa menahan ekspresi girangnya menerima perhatian Vallen.
"Ehem!!" Vano kembali dengan akting yang bagus.
"Tunggu apalagi cepat panggil Ethan!"
"Aku bisa mengobatinya sendiri"
"Tidak!! Panggil Ethan sekarang!"
Vano masih dengan ekspresi menjijikkan nya ingin memanggil Ethan.
__ADS_1
"Ethan bawakan kotak obat!!" Teriak Vano dari dalam.
Tak sampai satu menit Ethan datang membawa obat obatan dengan kotak kecil
"Apa kau sa,,,kit" Ethan menutup mulutnya melihat Vallen sedang berada dilayar besar.
"Ethan tolong obati lukanya" ucap Vallen.
"Yang sakit siapa?" Tanya Ethan bingung.
"Lihat tangannya, dia terluka karena mengupas apel"
Ethan memperhatikan tangan Vano dan luka itu sangat kecil, mana mungkin Vano berani melukai dirinya dengan sengaja.
Ide busuk Ethan pun muncul seketika saat menatap Vano, dia mengeluarkan perban dan yang lainnya.
"Kemari ku lihat"
Keduanya tampak jelas dilayar ponsel Vallen, dia juga memperhatikan cara Ethan mengobati Vano.
"Yaah luka segini mana bisa di obati"
Ethan sengaja menjatuhkan pisau dari meja dan membuat telunjuk Vano hilang dari kamera.
Ssrrrtt!
"Aaww!!!" Vano memejamkan matanya ketika Ethan benar benar membuat luka yang cukup besar.
"Nahh begini kan baru bisa di obati" ucap Ethan.
"Ethan kau apakan dia dibawah sana?" Tanya Vallen.
"Aa?? Tidak aku hanya sedang menyiramkan alkohol, sakit ya?" Tanya Ethan balik menatap Vano dengan licik.
Dengan terpaksa Vano menggelengkan kepala agar Vallen percaya pada aktingnya.
"ANAK SETAN" bisik Vano menahan perih ditelunjuk nya.
"Siapa yang kau katakan anak setan?" Tanya Ethan santai menyiram banyak obat merah.
"Aahh ah aahh umii" gumam Vano menahan perih itu.
"Dia mengatakan itu?" Tanya Vallen.
"Iya aku mendengarnya" jawab Ethan tanpa dosa.
"Tidak sayang aku mengatakan Ethan sangat pandai mengobati orang sampai sampai tangan ku sudah sembuh!!!" Ujar Vano menghempaskan tangannya dari genggaman Ethan karena ia sudah cukup tersiksa.
"O iya sayang apa kata dokter tadi? Kau baik-baik saja?" Tanya Vano mengalihkan pembicaraan.
Vallen mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Baiklah ini sudah malam istirahat yang banyak dan aku akan datang besok"
"Tidak perlu kau,,,,"
Vano memberikan ciuman jarak jauh pada Vallen lalu memutuskan panggilan agar ia tidak mendengar penolakan.
Kini tatapan membunuhnya membara pada Ethan yang dengan sengaja melukainya.
"Ethan!!"
"Ets jangan marah marah aku melakukan itu untuk kebaikanmu sendiri" ucap Ethan langsung menanggapi keganasan bos sekaligus kakaknya itu.
"Besok kau akan pergi kerumah Vallen dan tangan mu terluka jadi kau bisa meminta tolong agar disuapi olehnya bukan?"
Tatapan Vano berubah bodoh, namun tidak ada salahnya jika ia berpikir seperti itu.
"Benar juga"
"Nahkan aku benar baiklah aku harus menemani Excel tidur selamat malam"
"Terimakasih sudah melukai ku!!" Ucap Vano dengan tingkah bodohnya.
"Ya sama sama lain kali katakan saja jika ingin dilukai lagi" jawab Ethan.
__ADS_1
"Kapan lagi bisa membodohi orang pintar" gumam Ethan tertawa sambil terjungkal diluar kamar Vano.