Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 188


__ADS_3

Beralih kerumah sakit ternyata Vano berhasil menjalankan operasinya namun karena tiga peluru menancap bebas ditubuhnya Vano belum bisa dijenguk oleh siapapun termasuk Vira dan Vino, mereka hanya menunggu diluar.


Sedangkan Vallen tidak tau kenapa kondisinya masih dirahasiakan, Vino dan Vira belum mendapatkan informasi apapun dari keluarga Ferrero bahkan jam 05.00 tadi Vallen dipindahkan kerumah sakit lain.


"Apa kita perlu menghubungi tuan David? Aku khawatir dengan kondisi Vallen" kata Vira.


"Sebaiknya begitu, aku akan mencoba"


Vino mengambil ponselnya lalu menghubungi David namun tidak di angkat dan ditolak.


"Apa ini kenapa mereka tidak mau dihubungi" ucap Vino bingung.


"Hubungi Rafi saja mungkin tuan David masih sibuk mengurus Vallen"


"Baiklah"


Vino meminta nomor ponsel Rafi terlebih dahulu pada Rifka setelah itu ia menghubungi Rafi.


"Halo siapa ini?" Tanya Rafi.


"Mertuanya Vallen, dimana dia sekarang?" Tanya Vino tanpa basa-basi.


"Aa?? Mm itu anu om,,,"


"Bicara yang benar dimana Vallen" ucap Vino mengulangi pertanyaannya sekali lagi.


"Halo? Om kau mendengar ku? Aku tidak mendengar mu sungguh"


Tut,,,Tut,,,Tut


"Halo? Rafi,,,"


Vino kembali menghubungi Rafi namun ponselnya tidak aktif, keduanya heran kenapa semua keluarga Ferrero tidak ada yang bisa dihubungi untuk mengetahui keadaan Vallen.


"Bagaimana?"


"Ada yang aneh, mereka tidak memberitahu sama sekali"


"Ayah bunda bagaimana keadaan Vano?" Tanya Ethan yang baru saja mendekat bersama Sarah.


"Operasinya sudah berjalan dengan baik tapi belum bisa dijenguk" jawab Vira.

__ADS_1


"Vallen kenapa tidak ada diruangannya om tante?" Tanya Sarah.


"Itu masalahnya sayang saat ini kami tidak tau dimana Vallen karena pagi tadi dia dipindahkan kerumah sakit lain" jawab Vira.


"Kenapa bisa begitu?"


"Entahlah kami juga belum tau sebabnya tapi menurut dokter yang memeriksa kondisi Vallen dia harus dipindahkan karena alat disini tidak cukup untuk merawatnya padahal rumah sakit ini sudah berada diatas standar"


"Ethan akan mencarinya secepat mungkin"


Ethan mengeluarkan ponsel lalu memberikan perintah untuk mencari Vallen pada orang kepercayaannya.


Diruangan yang berbeda Zea mulai sadar, matanya terbuka sedikit demi sedikit. Tadi malam dokter mengatakan Zea akan sadar pagi hari dan prediksinya benar.


"Zea" panggil Farel.


Zea yang belum sadar seutuhnya dia masih terlihat kebingungan.


"Jangan jangan!!" Zea langsung menepis lengan Farel.


"Hey ini aku Farel suami mu" ucap Farel.


"Kak dimana Vallen dan Sarah? Mereka baik baik saja?"


Farel tidak tau harus menjawab apa karena dia tidak pernah keluar dan sekalinya keluar saat Vano menjalankan operasi setelah itu dia hanya menjaga full istrinya.


"Mereka baik baik saja sekarang istirahatlah" jawab Farel.


"Tapi mereka tidak terluka kan kak? O,,, orang itu mengatakan akan membunuh Vallen, kak Vano, kak Ethan, dan Sarah"


"Tenang dulu dengarkan aku mereka sudah diamankan jadi musuh mereka sudah tidak ada semuanya baik baik saja, jangan terlalu banyak pikiran"


"Zea harus melihat keadaan mereka kak"


"Zea! Tidur!" Titah Farel sedikit tegas agar Zea menuruti perkataannya.


"Sayang jangan keras kepala setelah kau pulih kita akan menemui mereka, pikirkan aku juga jangan pikirkan mereka saja, aku hampir mati melihat mu tenggelam dengan sengatan listrik waktu itu, kau tau bagaimana takutnya aku? Aku sangat takut Zea jadi tolong istirahatlah"


"Terimakasih telah menyelamatkan ku"


"Tidak perlu berterimakasih kau istriku dan melindungi mu adalah kewajiban ku"

__ADS_1


"Kakak tolong keluar sebentar cari tau keadaan mereka bagaimana sekarang"


"Baiklah mama dan papa akan menemanimu disini"


Farel berdiri lalu mencium kening istrinya dan keluar dari ruangan Zea.


Ceklek


"Ayah ibu mama papa bisa temani Zea dulu?"


"Begini saja Zoya dan Lina yang akan masuk kedalam sedangkan aku dan Andre akan pergi melihat keadaan Vano, informasi terakhir dia masih diruang ICU"


"ICU? Kenapa tidak ada yang memberitahu ku!"


Farel berlari keruang ICU, dia melihat wajah wajah gelisah masih ada disana, Farel ingin mengumpat pada dirinya sendiri karena tidak mengetahui kondisi Vano.


"Tante om bagaimana keadaan Vano?"


"Kau bisa lihat sendiri" jawab Vino datar.


Farel melihat kaca dan Vano masih terbaring lemas diruangan itu, tubuhnya penuh dengan selang selang termasuk tabung oksigen yang membantu nya bernafas, badan kotak kotaknya terlihat jelas dari kaca namun sayang badan itu penuh dengan perban, sama dengan kepalanya yang mungkin terbentur di bebatuan sehingga membuatnya harus diperban juga.


"Maaf om maaf tante maaf semuanya Farel baru datang kemari karena,,,,"


"Aku juga akan seperti itu jika istriku mengalami hal yang sama, jangan menyalahkan diri sendiri lebih baik kau bantu Ethan mencari keberadaan Vallen"


"Vallen bukankah dia sudah ditemukan?" Tanya Farel heran.


"Iya tapi dia dipindahkan oleh keluarganya entah kemana, mereka tidak memberikan informasi" jawab Vino.


"Farel akan mencari pihak rumah sakit"


"Percuma kau mengancam ingin membeli rumah sakit inipun mereka tidak takut karena ternyata rumah sakit ini milik keluarga Ferrero" saut Ethan.


"Kenapa tidak melacak ponsel mereka"


"Sudah kulakukan dan kau tau dimana? Ponselnya dirumah Ferrero, aku sudah memasukkan mata mata kedalam rumah Ferrero tapi rumah itu kosong"


"Baiklah kita tunggu sampai 48 jam jika tidak ada kabar kita telusuri lebih dalam"


Mereka mengangguk setuju dengan usul Vino, jika dalam 48 jam keluarga Ferrero masih belum ada kabar itu artinya ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


__ADS_2