
"Aaahhh!!!"
Mendengar teriakan itu Vano langsung keluar dari kamar mandi, penampilannya juga seperti biasa bahkan matanya tidak terlalu membekas.
"Ja,,,jangan aku mohon pergi!! Aku tidak ingin mati aku bersumpah tidak mengatakan apapun" kata Ethan seperti orang ketakutan.
Ketiganya saling menatap heran kenapa tingkah Ethan seperti itu.
"Pergi!!!"
Dokter yang mendekati Ethan pun ditendang olehnya sehingga suster yang mencoba menenangkan Ethan kualahan.
"Aarrgghh!!! Tolong!!" Teriak Ethan kesakitan memegang kepalanya.
"Tuan sebaiknya anda menunggu kami diluar" ucap dokter intan yang menangani Ethan.
"Pergi!!!"
"Jangan bunuh papa ku tolong!!!"
Ethan terus menutup matanya sembari berteriak dan mengamuk.
"Mama!!!" Teriak Ethan lagi.
"Ja,,, jangan aku mohon jangan sentuh mama ku!!"
Dokter intan menyiapkan obat penenang dalam suntikan Ethan karena jika tidak begitu dia akan terus berteriak.
"Mama papa!!"
Saat ujung jarum menusuk tubuhnya Ethan mulai lemah, rasanya tubuh itu kaku dan tidak bisa bergerak kecuali tertidur.
"Kakak" panggil Ethan dengan suara melemah.
"Ethan ini aku Vano, kau tau aku?"
"Pergi!! Pergi!!" Teriak Ethan histeris.
__ADS_1
Merasa dirinya tidak ditakuti Vano menyuruh dokter untuk keluar, tadinya dokter intan tidak mau karena tanggung jawab pada pasien harus ia penuhi namun apalah daya ketika seorang Vano yang memerintah.
"Kau masih takut? Kemari pegang tangan ku" Vano mengulurkan tangannya didepan Ethan.
Ethan masih enggan memegang tangan Vano, dia masih tetap meringkuk dengan selimutnya.
"Percaya padaku aku tidak akan menyakiti mu, aku akan melindungi mu" ucap Vano masih tetap sabar menghadapi Ethan.
Perlahan Ethan mengeluarkan tangannya dari dalam selimut, tangannya sampai bergetar dan berkeringat melihat banyak orang.
Vano ingin sekali menangis melihat kondisi Ethan hampir sama seperti 18 tahun yang lalu, setelah tangannya berhasil disentuh Ethan, Vano langsung membawa pria itu kedalam pelukannya.
Ethan membalas pelukan itu sangat erat seakan akan dia sedang sangat ketakutan dan hanya Vano yang bisa melindunginya karena Vano memberikan rasa nyaman dan hangat sehingga emosi Ethan berkurang, dia bisa menerima kehadiran Vano disisinya.
"Semuanya baik baik saja jangan khawatir dan jangan takut" ucap Vano mengelus punggung Ethan.
"A,,,aku takut,,, di,,,dia membunuh,,,," suara Ethan tercekat melanjutkan kalimatnya.
"Sssttt peluk aku dan katakan pada orang yang ada dipikiran mu itu bahwa kau memiliki aku untuk melindungi mu, kau tidak perlu takut pada siapapun" kata Vano.
Ethan memejamkan matanya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Vano dan benar dia merasa lega karena ketakutannya sedikit berkurang.
Ethan mengangguk sebab ia juga lelah dan kepalanya pusing, Vano tersenyum tipis lalu membantu Ethan berbaring.
"Sarah" panggil Vano.
Ethan langsung menggenggam erat tangan Vano, dia tidak ingin didampingi siapapun kecuali pria itu.
"Kau percaya padaku?"
Ethan mengangguk pelan.
"Dia istrimu, kau harus percaya padanya, dia tidak akan menyakitimu. Dia yang selalu menjaga mu" ucap Vano.
Ethan menatap Sarah untuk mencari mata kebohongan namun tidak ada yang perlu diragukan, gadis itu sudah menunggunya sejak dua hari yang lalu.
Setelah tangannya terlepas dari Ethan, Vano langsung mengajak Vallen keluar dari kamar tersebut untuk membicarakan kondisi Ethan pada dokter.
__ADS_1
Sedangkan didalam Sarah belum bergerak sama sekali karena ia takut Ethan akan mengamuk seperti tadi.
"Kau butuh sesuatu?" Tanya Sarah pelan agar Ethan tidak mengamuk seperti tadi.
"Kemari" ucap Ethan dengan sangat lembut.
Sarah terkejut mendengar suara lembut dan sopan itu, suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, apa itu suara Ethan saat usia 6 tahun pikir Sarah.
Perlahan Sarah mendekati ranjang suaminya, terasa agak canggung karena tatapan Ethan sedikit berbeda. Lagi lagi pria itu tampak seperti orang lain.
"Sarah kan?" Tanya Ethan.
Sarah mengangguk pelan.
"Bisa minta tolong panggilkan kakak ku?" Tanya Ethan lagi.
"Kakak mu baru saja keluar, kau perlu sesuatu? Akan kuambil kan" jawab Sarah sedikit antusias karena Ethan tidak takut padanya.
"Maksud ku kakak perempuan ku bukan Vano" ucap Ethan.
"Kakak perempuan mu? Si,,,siapa?" Tanya Sarah bingung.
Wajah Ethan kembali datar, tangannya terkepal didalam selimut.
"Pergilah!!" Usir Ethan.
"Biarkan aku disini menjagamu aku,,,,"
"Pergi!!!"
Sarah terkejut mendengar bentakan Ethan yang sangat keras padahal dia tidak tau masalahnya dimana.
"Baiklah istirahat dengan teratur" ucap Sarah berusaha tersenyum manis lalu keluar setelah menyiapkan keperluan Ethan dimeja.
Ceklek!!
"Kakak" panggil Ethan frustasi.
__ADS_1
Ethan terbaring lemah sembari menutup mata, untuk beberapa jam ini biarkan ia menjauh dari semua orang. Dia heran sendiri kenapa dirinya tidak berani berinteraksi dengan orang.