Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 46


__ADS_3

Dirumah Vano, dia mendapat kabar dari umi dan abinya tentang ulah Vallen hari ini. Sedikit frustasi memang menyukai gadis model seperti itu untuk Vano namun apalah daya ketika hati berbicara dialah orangnya.


"Gadis ini memang aneh tapi disisi lain unik" gumam Vano sembari memejamkan mata.


"Ehem" sapa Ethan dari arah samping.


Vano membuka mata dan memperbaiki posisi duduknya agar tidak terlalu terlihat bahwa ia sedang frustasi.


"Ada apa?" Tanya Vano.


"Entahlah Farel mengumpulkan kita diluar Vallen, Sarah dan Zea juga sudah berada disana" jawab Ethan.


Vano langsung melangkah keluar mendengar satu nama yang belum ia lihat pagi ini, tidak ada sama sekali rasa penasaran kenapa Farel memanggil nya.


Sampai didepan halaman, Vano melihat Vallen dan Sarah menangis. Dia langsung bergegas menghampiri Vallen khawatir terjadi sesuatu padanya.


"Ada apa? Kenapa menangis? Apa dia menyakiti mu (menunjuk Farel)"


"Jangan bercanda dia yang membunuh ikan ku jadi wajar saja merasa bersalah" saut Farel ketus sembari menabur bunga pada kuburan ikan ikannya.


"Ck!!" Vano berdecak kesal karena perkara ikan masih saja menjadi masalah Farel hingga ia malas melakukan apapun selama beberapa hari ini.


"Berapa total harga ikan mu" ucap Vano.


"Satu milyar" ujar Farel datar.

__ADS_1


"Ambil sepuluh jenis ikan lalu berhenti mengurus kubur sialan ini!!" Kata Vano melempar black card di samping Farel.


Apa aku perlu memelihara ikan lalu menyuruh Vallen menggoreng nya. Batin Ethan.


Vano membawa Vallen masuk kedalam rumah, gadis itu benar benar tidak tahu mana yang benar dan salah, dia masih sulit membedakan kehidupan sesungguhnya.


"Ganti baju mu kita akan pergi sekarang" ucap Vano datar.


"Kemana?" Tanya Vallen.


"Ke kantor" jawab Vano.


"Tidak mau!! Kantor mu ada diatas langit" ujar Vallen ketus.


"Sudah ku pindahkan ke lantai paling bawah sekarang ganti bajumu atau,,,,"


Beberapa saat menunggu Vallen keluar dengan pakaian normal meskipun masih terbilang terbuka namun tidak melewati batas wajar.


Vano membawa Vallen ke kantor, meskipun hari ini ada pertemuan penting Vano tetap membawa gadis itu karena Vano mulai terbiasa dengan kehadiran Vallen disampingnya.


Ceklek


"Sekarang diam disini aku masih ada pertemuan penting" ucap Vano.


"Bertemu dengan siapa?" Tanya Vallen.

__ADS_1


"Dengan teman lama, diamlah" jawab Vano merapikan jam tangan nya.


Wajah Vallen berubah sendu, dia menundukkan diri dengan kasar diatas sofa.


"Kenapa?" Tanya Vano melihat perubahan wajah Vallen dari cermin.


"Jika bertemu dengan Ethan dan sesamanya tidak masalah tapi jika bertemu dengan perempuan hati ku sakit" jawab Vallen memegang dadanya.


Bodoh ada positif nya juga. Batin Vano.


Vano mendekati Vallen lalu berjongkok menatap nya, senyum tipis Vano terbit melihat wajah itu.


"Bukan perempuan tapi laki laki bahkan dia sudah tua dan jelek" ucap Vano tanpa menghilangkan senyumnya.


"Tidak bohong?" Tanya Vallen meminta penjelasan.


"Pernah aku berbohong?" Tanya Vano balik.


"Tidak" jawab Vallen menggelengkan kepalanya.


"Gadis pintar, sekarang diam disini tunggu aku kembali jangan kemana-mana" ucap Vano berdiri sembari mengacak acak rambut Vallen.


Ceklek


"Dia sudah menunggu" ucap Ethan dari pintu.

__ADS_1


"Ingat kata kata ku? Jangan kemana-mana" ujar Vano.


Vallen mengiyakan permintaan Vano sehingga pria itu bisa tenang meninggalkan Vallen sendiri di ruangannya.


__ADS_2