Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 36


__ADS_3

"Baiklah kau bisa bermain pedang bukan? Ayo bertarung!!" Tantang Vino mengambil pedang dipenjual yang satunya lagi.


"Kau menantang seorang pembunuh? Cih yang benar saja" ucap Vallen menyeringai lalu menyerang Vino.


Atraksi pedang mereka berhasil membuat banyak para pengunjung berkumpul untuk menyaksikan mereka, tubuh Vallen ketika sudah bermain dengan senjata sangatlah aktif.


Vino sedikit kualahan dengan kemampuan gadis kecil didepannya, tidak ada jalan bagi Vino untuk menyerang karena Vallen telah menguasai pertarungan.


"Sudahlah abi Vallen malas!" Ucap Vallen lalu melepas pedang nya dan kembali duduk dengan elegan meminum jus.


Prok,,,, prok,,,, prok!!


Pengunjung bertepuk tangan melihat kelihaian Vallen apalagi dia seorang gadis, banyak di antara mereka yang memberikan uang untuk Vino.


Vino tersenyum tipis dengan hasil jerih payahnya, setelah mengumpulkan uang receh Vino kembali duduk ditempatnya dan memanggil pelayan untuk membayar.


"Ini ambillah, sisanya untuk mu saja" ucap Vino menyilangkan kedua tangan di dada.

__ADS_1


"Tuan ini masih kurang bahkan kekurangannya melebihi satu juta" kata pelayan disampingnya.


"Aiiihh makanan seperti ini saja sangat mahal, ambil ini tapi jangan jual mobilnya cukup jual spionnya saja pasti sudah melunasi harga makanan ini" ujar Vino ketus sembari melemparkan kunci mobilnya pada pelayan lalu menyeret Vallen menjauhi restoran.


Keduanya berjalan menyusuri jalanan ramai, tampaknya hari ini adalah hari kesialan mereka untung saja rumah hanya beberapa ratus meter dari tempat mereka berdiri.


"Abi gendong Vallen lelah" kata Vallen membuka kedua tangannya.


"Ge,,,, gendong?? Ah tidak tidak walaupun Vano adalah putra ku bisa saja dia mencincang ku" gumam Vino bergidik ngeri dengan keganasan putranya.


"Jalan saja sebentar lagi kita sam,,,," sebelum melanjutkan kalimatnya, Vallen ternyata sudah naik terlebih dahulu diatas punggung Vino.


"Abi ini namanya meminta tolong, jika abi membantu Vallen sampai kerumah artinya abi sangat baik" ujar Vallen.


"Memangnya kau lelah?" Tanya Vino.


"Tidak abi, hanya saja Vallen merindukan sosok seperti ini. Ayah Vallen tidak sebaik abi, dia mengatakan sangat menyayangi Vallen namun caranya menyayangi Vallen sangat berbeda dengan cara abi. Terkadang Vallen iri dengan Vano yang selalu mendapat perhatian lebih dari umi dan abi, kalian menyayangi Vano sepenuh hati" jawab Vallen berkaca kaca.

__ADS_1


Vino tetap berjalan sembari mendengar jawaban Vallen, suara gadis itu sangat sendu ditelinga Vino.


"Setiap orang tua pasti akan menyayangi anaknya Vallen begitu juga dengan orang tuamu" ujar Vino menenangkan Vallen.


"Apa ada orang tua menyuruh untuk membunuh ratusan orang tidak bersalah setiap harinya abi? Vallen rasa itu tidak benar" kata Vallen menyeka air matanya.


"Ada dua kemungkinan disini, dia adalah orang tua mu atau bukan!" Gumam Vino berpikir sejenak dengan masalah ini.


Jikapun Vino bertanya siapa orang yang menyuruhnya untuk membunuh Vallen pasti tidak tau jawabannya karena wajah itu tidak bisa ia ingat sama sekali.


"Turun!!" Ucap Vano menarik Vallen dari gendongan Vino.


Keduanya terkejut melihat tubuh mereka ternyata sudah sampai didepan rumah dan dikelilingi oleh sepuluh mata tajam dari Vano.


"Vano kenapa marah? Vallen ada salah lagi?" Tanya Vallen heran.


"Pulanglah, tidak ada kerjaan sekali membawa gadis keluar entah kemana!!" Ucap Vano ketus terhadap abinya.

__ADS_1


"Cih Vallen kau yakin ingin tinggal dengan wajah aspal ini? Jika aku yang berada diposisi mu aku sudah kabur entah kemana intinya hilang dari pandangan mahluk gaib seperti dia" kata Vino tersenyum sinis lalu meninggalkan keduanya masuk kedalam rumah.


Sedangkan Vano menarik Vallen masuk kedalam gerbang rumahnya, sebenarnya Vano tidak khawatir jika abinya yang membawa Vallen keluar hanya saja durasi keluarnya sangat lama hingga membuatnya kesal menunggu berjam-jam.


__ADS_2