
Siangnya Vallen membuka mata dengan malas, tumben tumbenan seorang Vallen tertidur sampai siang setelah melakukan adegan panas bersama suaminya.
"Ya Tuhan"
Vallen terbelalak kaget dan langsung membangunkan tubuhnya memeriksa perutnya namun tidak ada yang aneh disana.
"Ada apa sayang?" Tanya Vano ikut terbangun dengan gerakan Vallen diatas kasur.
"Kau bilang kita akan punya anak kan? Lalu dimana anaknya sekarang kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Vallen bingung memegang perutnya.
"Aa??" Nyawa Vano belum terkumpul semua hingga ia tidak tau harus menjawab apa.
"Aduh Vallen soal itu tidak bisa instan, harus ada proses nya" jawab Vano setelah berusaha menghilangkan rasa kantuknya.
"Tadi kau bilang begitu, aku sudah panik" ucap Vallen menghela nafas.
"Lalu kapan orang akan punya anak?" Tanya Vallen.
"Yaa setelah melakukan yang tadi"
"Lagi?"
"Apa maksud mu lagi, setiap hari!!" Jawab Vano datar.
Membayangkan rasa sakit yang tadi Vallen bergidik ngeri mendengar jawaban Vano apalagi jika ia mengingat bagaimana kepala manusia keluar dari tempatnya saat dirumah sakit.
"Bagaimana jika kau saja yang hamil?" Ujar Vallen dengan serius.
__ADS_1
"Mana bisa aku tidak memiliki rahim, itu sudah menjadi kuadrat wanita Vallen"
"Pinjam rahim ku, tidak masalah akan ku berikan"
Vano menepuk keningnya melihat wajah polos tanpa dosa Vallen, lama lama seperti ini juga bisa membuat Vano depresi.
"Sayang ku tidak bisa seperti itu, tidak ada ceritanya laki laki yang melahirkan oleh karena itu bakti anak pada orang tua sangat perlu" tutur Vano memegang bahu mulus istrinya.
"Kau selalu melawan abi"
"Perintah umi tidak pernah ku tolak, saat dia memerintahkan untuk menikah dengan mu aku turuti waktu itu tapi gagal karena dia mengetahui identitas mu"
"Jadi kita harus berbakti pada orang tua dan boleh melawan ayah?" Tanya Vallen.
"Astaghfirullah bukan begitu juga, jangan turuti aku itu tidak baik" jawab Vano sedikit frustasi.
"Ahh ya aku mengerti mm baiklah aku lapar ayo keluar makan untuk makan sesuatu"
"Vallen jangan bergerak dulu, duduklah aku akan mengambilkan makanan untuk mu" cegah Vano.
"Tidak masalah aku bisa,,,,,"
"Aww!!" Vallen refleks kembali duduk saat merasakan perih di area bawahnya.
"Nah kan sudah ku katakan jangan bergerak, kemari" Vano menyandarkan tubuh Vallen dibahu ranjang.
"Kapan sakitnya hilang" rengek Vallen seperti anak kecil.
__ADS_1
"Tidak lama pasti akan berhenti, kau ingin makan apa biar ku ambilkan" Vano berusaha menenangkan istrinya agar tidak terlalu kesakitan.
"Apa saja yang penting kenyang" jawab Vallen.
"Baiklah tunggu disini sebentar ingat jangan bergerak!!"
Vano berjalan memasang pakaiannya yang berserakan dibawah lalu keluar untuk mengambil makanan.
"BI minta tolong hangatkan makan siang untuk Vallen ya" ucap Vano pada ketua pelayan.
"Baik tuan"
Beberapa menit menunggu Vano mengetuk ngetuk meja makan agar tidak terlalu bosan melihat kesepian rumahnya, orang orang sibuk dengan urusan masing masing, Lina, Faris, Zoya, Andre, Farel, dan Zea pergi berlibur bersama sesama besan.
Tujuannya untuk menjalin keakraban tapi salah besar mereka sedang menjalin keributan terus menerus di Villa sampai Farel dan Zea pusing melihat orang tua masing-masing.
"Ehem!!" Sapa Vino dari belakang.
Vano tidak menoleh karena ia sudah tau siapa yang datang, pasti pengganggu.
"Pinggang aman?" Tanya Vino dengan senyum absurd.
"Vano tidak mengerti abi" jawab Vano pura pura bodoh.
"Hey kami mendengar mu tadi pagi, kau lupa mengaktifkan peredam suara jadi jangan pura pura bodoh"
Vino masih kekeh menggoda putranya, rasanya puas saja jika wajah Vano tampak cemas.
__ADS_1
Bodoh! Aku hanya ingat mengunci pintu, batin Vano.
"Mm sudahlah abi Vano ingin ke kamar, ni nanti makanannya diantar ke kamar saja ya" ujar Vano segera mengalihkan pembicaraan lalu meninggalkan abinya agar tidak ditanya lebih detail.