Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 86


__ADS_3

Vano mengeluarkan seringainya lalu masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi, Vano sengaja menyalakan suara mobil dan menjalankan nya ke depan namun tidak terlalu jauh dari rumah Ferrero.


"Vano kenapa,,,,,"


Vano menutup mulut nya dengan jari agar Ethan tidak bertanya lagi. Setelah semuanya hening Vano menatap satu persatu isi mobil itu lalu mulai berbicara isyarat untuk orang bisu.


Hal ini sangat sering ketiganya pelajari karena memang itu perlu untuk keadaan seperti ini.


Kira kira percakapan yang mereka bincangkan memiliki makna seperti


'Vallen ada di dalam! Aku yakin pengawal Ferrero sudah habis dibunuh. Cepat hubungi pengawal yang ada didekat hutan, suruh mereka kembali karena hutan sudah tidak berbahaya. Sembari menunggu pengawal kita akan masuk terlebih dahulu dan menyerang lalu menyelamatkan tuan David dan nyonya Bela' isyarat Vano.


Keduanya mengangguk lalu Ethan mengambil ponselnya dan memberi pesan pada ketua pengawal untuk berpindah haluan kerumah Ferrero.


Karena Sarah tidak mengerti Ethan juga mengetik penjelasan Vano di ponselnya agar Sarah mengetahui rencana mereka.


'Sekarang keluarkan senjata kalian masing masing sebelum keluar!' Titah Vano.


Ketiganya mengangguk lalu mengeluarkan senjata masing-masing.


'Hitungan ku sampai tiga kalian harus keluar tapi pastikan suara pintu mobil tidak terdengar!'

__ADS_1


Ketiganya kembali mengangguk m


'tiga dua satu!' ketiganya membuka pintu mobil dengan sangat hati hati bahkan tidak ada suara sama sekali.


Vano membagi kelompok menjadi dua tim, Vano dengan Farel dan Sarah dengan Ethan. Kedua tim berpencar untuk masuk kedalam rumah melalui pintu depan dan pintu belakang.


Dorr!!


Dugaan Vano benar ketika ia kembali mendekati rumah itu salah satu pengawal sudah datang menyerang.


"Baiklah ini saatnya!!" Vano dan Farel mengangguk lalu berpencar untuk mengalihkan perhatian mereka.


Farel meladeni puluhan pengawal yang menyerang sedangkan Vano melompat menaiki pembatas tembok lalu masuk kedalam rumah melewati jendela.


Vano mengambil beberapa batu hiasan di dalam pot bunga lalu melempar satu untuk mencari perhatian beberapa pengawal.


Benar saja umpan dari Vano termakan oleh pengawal, Vano langsung mengunci dua tubuh pengawal lalu menendang dua pengawal dibelakangnya hingga pingsan begitu juga pengawal lainnya.


"Game Over? Kita lihat sebagus apa permainan mu!!" Gumam Vano mengeluarkan seringainya lalu masuk semakin dalam.


Vano kembali melakukan hal yang sama dengan pengawal lain hingga jumlah pengawal disana berangsur angsur berkurang.

__ADS_1


"Vallen!!" Teriak Vano mulai berani bersuara.


Door!!


Vano menggunakan senjatanya untuk melumpuhkan agar lebih cepat mencari Vallen tanpa halangan.


Brraakk!!!


Sepi Vano kembali mencari di tempat lain hingga kepalanya pusing dengan jumlah kamar dirumah itu, pasalnya satupun tidak terdapat adanya Vallen disalah satu kamar.


"Hey tuan!" Sapa seseorang dari belakang.


Vano memutar tubuhnya ke arah belakang dan melihat seorang pria bertubuh kekar dan tinggi sedang menyeringai memegang santai pistol nya.


"Perkenalkan nama ku Pian, ku dengar kau sedang mencari Vallena?" Ujar Pian.


"Dimana dia!!" Kata Vano menodongkan senjata nya kearah Pian.


"Wow cukup mengesankan!" Ucap Pian tersenyum sinis.


"Jangan main main dengan ku atau mau akan,,,,"

__ADS_1


"Akan apa tuan? Mati? Hahaha aku tidak perduli sama sekali" ujar Pian memotong kalimat Vano.


__ADS_2