
Ceklek
"Ini berikan hasilnya pada,,,,"
David langsung menyembunyikan kertas ditangannya kebelakang, tentu kertas itu menjadi sorotan utama dimata Vano.
"Vano" Bela juga tertegun melihat Vano tiba tiba berdiri didepan pintu.
"Siapa yang sakit ma? Dan apa papa yang papa sembunyikan?" Tanya Vano.
"Bukan urusan mu" jawab David datar.
Dengan kecepatan tangannya Vano merebut kertas itu dari tangan David dan membacanya baik baik.
Dari atas nama pemilik itu saja sudah cukup membuat Vano tertarik membacanya, siapa lagi jika bukan istrinya sendiri.
"Hasil tes kesehatan?"
Vano tidak terkejut membaca surat yang menyatakan kelumpuhan Vallen dan kondisinya tidak terlalu buruk, dia berusaha sedikit demi sedikit walau hasilnya sedikit mengecewakan.
Vano tertarik dengan satu surat lainnya, dia membuka surat itu dan mulai membaca dari atas.
Tiba tiba tubuh pria itu lemas dan hampir terjatuh membaca surat yang ada ditangannya, Vano ingin berteriak tapi entah kenapa suaranya tidak bisa keluar.
Bahkan surat itupun terjatuh karena Vano tidak sanggup menggenggamnya.
"Pa,,, papa"
David mengambil surat yang jatuh tadi lalu memasukkan nya kedalam amplop.
"Mama papa tolong jelaskan semuanya padaku, aku juga berhak mengetahui kondisi istriku pa"
David dan Bela saling menatap, mereka berpikir ini memang sudah waktunya, sebagai orang tua juga mereka merasa iba dengan perjuangan Vano menemukan Vallen lagi.
"Baiklah" jawab David dengan yakin.
__ADS_1
FLASHBACK ON
dimalam Vallen ditemukan, dia sudah hampir menyerah, banyak goresan disekitar tubuhnya dan kaki yang tidak terletak ditempat nya.
Jika Vano koma beberapa hari maka tidak dengan Vallen, dia terbangun satu malam setelah pingsan.
"Vano"
"Vallen kau sudah sadar sayang?"
"Vano ma, papa Vano dimana?" Tanya Vallen langsung mendudukkan dirinya dan ingin pergi keruangan Vano.
"Vano sedang dirawat sayang sabarlah"
Vallen tidak peduli, dia tetap ingin pergi dari kamar itu dan menemui Vano.
"Ma?" Vano menatap Bela dan David dengan tatapan nanar.
"Mama kaki Vallen,,,," dia meraba raba kakinya namun tidak ada yang ia rasakan, hanya ada raga namun tidak bisa fungsikan.
Seketika Vallen lemas mendengar jawaban mamanya, matanya kosong bahkan air matanya tidak bisa keluar lagi.
Dan perlahan Vallen merasakan ada sesuatu yang mengganggu wajahnya, dia mencoba mencari benda yang memantul.
"Aaa!!!" Vallen berteriak keras melihat wajahnya yang rusak tanpa sisa, dia saja tidak berani menatap wajahnya apalagi orang lain.
Vallen histeris beberapa jam hingga diberikan obat penenang oleh dokter dan setelah sadar Vallen ingin dipindahkan kerumah sakit lain, dia tidak ingin bertemu dengan Vano sejak saat itu.
FLASHBACK OFF
"Dan Vallen berniat kembali setelah wajah dan kakinya sembuh namun ternyata setelah diselidiki Vallen sedang hamil waktu itu"
"Untung kami membawanya kerumah sakit yang cukup dengan alat alat sehingga kandungan nya yang hampir gugur terselamatkan oleh dokter, beberapa hari Vallen dirawat intensif sebelum kau menemuinya dirumah waktu itu"
"Vallen nekat melepas alat alat yang bersangkutan dengan tubuhnya agar bisa menemui mu dengan kondisi yang terlihat baik baik saja namun setelah kau pergi Vallen kembali dirawat hingga tiga bulan lamanya"
__ADS_1
"Singkat cerita saat melahirkan Vallen terlihat sangat bahagia dan antusias, wajahnya juga tidak terlalu buruk waktu itu dan kau pasti akan senang melihat dirinya kembali dengan membawa anak tapi ternyata tidak"
"Saat proses persalinan Vallen terjadi komplikasi yang membuat dirinya harus menjalani persalinan dengan operasi, selesai operasi anaknya sudah lahir namun lagi lagi cobaan datang ketika dokter mengatakan rahimnya harus diangkat karena masalah yang cukup serius itupun untung dia dan anaknya terselamatkan"
"Lagi lagi Vallen kecewa dan dia tidak pernah berniat kembali padamu sejak saat itu, papa selalu mendengar tangisannya ditengah malam tapi apa yang bisa kami lakukan selain menghibur nya"
Vano hanya bisa menangis menangis dan menangis mendengar cerita David, bisa bisanya dia tidak tau saat saat terpuruk Vallen waktu itu.
Vano bersimpuh ditengah tengah Bela dan David dengan air mata yang belum bisa ia hentikan.
"Vano janji tidak akan pernah meninggalkan Vallen lagi apapun kondisinya bahkan jika Vallen mengusir Vano, maaf ma maaf pa Vano tidak bisa melindungi istri Vano dari banyaknya gunjingan orang lain waktu itu"
"Vano menyesal telah menyetujui permintaan Vallen untuk pergi, seharusnya Vano tidak melakukan itu"
Vano memegang tangan David dan Bela lalu menciumnya, David dan Bela juga terharu dengan cinta Vano yang tidak luntur sedikitpun walau ia sudah tau kekurangan Vallen.
"Kau yakin ingin tetap bersama putriku? Vallen sudah tidak bisa memberikan mu keturunan lagi" ucap David.
"Vano tidak peduli pa, sekarang papa bayangan Vano menikah dengan wanita lain dan punya anak dari wanita itu apa Vano bahagia? Tidak pa jadi percuma, Vera saja sudah cukup"
"Vano,,,"
"Vano tidak ingin papa dan mama menghalangi Vano lagi, tolong pa"
David dan Bela saling menatap satu sama lain.
"Kejarlah, bujuk dia agar mau kembali ke pelukan mu" ucap David tersenyum tipis.
"Terimakasih pa"
"Baiklah Vallen pasti curiga kami terlalu lama dirumah sakit kau tau sekarang dia sangat pintar bahkan melebihi papa"
"Baiklah terimakasih sekali lagi pa ma"
Mereka tersenyum dan pergi meninggalkan Vano sendiri di lorong lorong rumah sakit, Vano duduk dan menghabisi seluruh air matanya disana.
__ADS_1