
Selesai sarapan Vano menemani keempat anak anak itu bermain, Tristan tiba tiba muncul dari gerbang dan langsung bergabung bermain dengan ketiganya.
Dokter intan sedang memeriksa kondisi Vallen jadi sementara menunggu Vano menyibukkan diri mengambil perhatian anak anaknya.
"Excel, Vera jangan sampai basah mengambil air" ucap Vano.
"Iya pa" jawab keduanya.
Mereka sedang bermain kejar-kejaran dengan pistol mainan yang berisi air, Vano tidak mau anak anaknya seperti dia dulu yang bermain dengan pistol asli, dunia mereka nantinya tidak bergelut ke sesuatu yang mengerikan.
"Sudah pa, kalian bersiaplah kami akan mengejar kalian" ucap Excel.
Hanya Vano dan Tristan yang bermain kejar kejaran sedangkan Vero hanya melihat dari kursi taman tanpa ekspresi.
Tidak ada niatan sama sekali Vero bergabung, mungkin itu bukan level permainannya atau memang ia malas.
"Sayang ini salah, harusnya yang mengejar itu satu dan dua orang yang dikejar jadi Excel yang memegang pistol nya sedangkan Vera dan Tristan yang berlari" tutur Vano.
"Lalu papa?"
Vano menunjuk Vero dengan mata, ketiganya langsung mengerti maksud Vano, mereka mengangguk dan melanjutkan permainan.
Setelah lepas dari permainan, Vano mendekati Vero dan duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut?" Tanya Vano basa basi.
"Tidak tertarik" jawab Vero lalu bersiap untuk pergi.
"Tunggu"
Vero kembali duduk sembari menatap tiga anak dengan tawa histeris saat bermain.
"Ingin tau rahasia papa?"
Vero tidak menjawab namun sepertinya laki laki itu penasaran.
"Dulu saat masih kecil papa juga tidak bersama dengan ayahnya papa"
"Bukan, saat masih didalam kandungan ibunya papa mendapat cobaan besar sehingga mereka harus berpisah, bukan keinginan mereka berpisah tapi memang sudah ditakdirkan Tuhan seperti itu, ayah rela tidak menikah lagi untuk menunggu ibu kembali walaupun dia tidak tau apakah ibu masih hidup atau tidak"
"Kenapa dia tidak mencari"
"Hampir setengah bumi sudah dicari oleh ayah tapi tetap saja tidak ditemukan hingga akhirnya Tuhan menyudahi ujian mereka dan kembali dipertemukan"
"7 tahun mereka dipisahkan Vero, ujian mereka persis seperti papa sekarang ini tapi papa harus banyak bersyukur karena papa tau mama masih hidup dan dia baik baik saja"
"Vero ada pelajaran yang harus kau ambil disini, pada dasarnya apapun yang ada didalam genggaman mu ketika Tuhan mengatakan lepaskan kau tidak bisa melakukan apapun kecuali sabar"
__ADS_1
"Papa juga sama Tuhan mengatakan lepaskan, iya papa turuti untuk melepas mama tapi papa melepas dengan cara mempertahankan, mama pergi tapi dia tidak bisa lari kemanapun karena masih ada ikatan diantara kami"
"Ya memang papa dan mama yang salah disini tapi sebenarnya tidak ada yang salah karena jalannya sudah diatur seperti ini" tutur Vano sedetail mungkin untuk menjelaskan itu pada putranya.
Vano tidak ingin Vero salah paham terus menerus, dia cukup pintar untuk menerima perkataan Vano tadi dan Vero pasti mengerti.
"Kau mengerti maksud papa?"
"Mm" Vero hanya menjawab dengan anggukan.
"Awas om!"
Tristan tidak sengaja mengarahkan pistol mainan nya ke arah Vano, Vero langsung berdiri menghalangi air itu menyemprot papanya.
"Hati hati"
Tristan mengangkat tangan membentuk huruf V, wajah anak yang satu ini membuatnya tidak berani berkutik dan langsung kabur.
"Terimakasih" ucap Vano.
"Jangan salah paham ini satu satunya cara agar aku bisa masuk kedalam kamar" kata Vero lalu masuk kedalam rumah.
Vano tersenyum melihat kepergian putranya, apapun alasannya Vano yakin kejadian tadi bisa merubah sedikit pemikiran Vero terhadapnya.
__ADS_1