
Malam harinya Vallen dan Sarah duduk diantara terangnya sinar bulan, Vallen sengaja memanggil Sarah ke atas rumah menikmati angin malam yang sudah cukup lama tidak ia rasakan.
"Ada apa nona?" Tanya Sarah disela sela menikmati sinar bulan.
"Sarah aku tidak menyangka jika aku bisa melihat matahari" ucap Vallen menatap langit terang.
"Aku juga tidak menyangka bisa melihat bulan nona, aku tidak menyangka dunia memiliki sisi gelap seperti ini" kata Sarah.
"Bagaimana rasanya hidup di dunia terang?" Tanya Vallen.
"Yaaaahh menyenangkan nona, aku bisa melihat banyak orang berlalu lalang beberapa kali saat atasan mengajak ku ke kota memburu musuh" jawab Sarah tersenyum tipis mengingat dunia nya dulu.
"Kau beruntung bisa berlalu lalang melihat banyaknya manusia yang hidup di bumi tidak dengan ku, aku hanya hidup di malam hari dengan segelintir hewan peliharaan yang menjadi temanku, kau harus bersyukur atas itu Sarah" ucap Vallen berkaca kaca.
"Aku lebih suka bulan nona, matahari membuat mata ku sakit sedangkan bulan tidak, aku ingin memandang nya berapa jam pun dia tetap indah" kata Sarah dengan senyum manisnya.
"Sarah apa mungkin kita benar benar lepas dari orang itu"
Sarah mengerti arah pembicaraan Vallen, wajahnya terlihat senang senang saja selama ini namun pikirannya tetap mengarah pada dunia gelap.
"Ayah,,,"
"Dia bukan ayah ku Sarah, dia bukan ayahku" tolak Vallen ketika orang yang tidak ia ketahui siapa itu harus disebut sebagai ayah.
"Baiklah nona, dia memang buas tapi mungkin ini sudah takdir mu bertemu dengan Vano, dia menyelamatkan mu dari manusia tidak punya hati itu" ucap Sarah menatap dalam pada Vallen.
__ADS_1
"Aku takut suatu saat dia datang dan menghancurkan keluarga ini, aku takut semua itu terjadi pada keluarga Vano, mereka sangat baik padaku" ujar Vallen hampir meneteskan air mata.
"Kau tidak perlu takut nona, Vano sangat baik pada kita dia membantu kita keluar dari dunia mengerikan itu. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Vano dan yang lainnya, kenapa? Karena tanpa mereka aku tidak bisa melihat semua ini, aku tidak bisa sebebas ini" Tutur Sarah menundukkan kepalanya diiringi senyum tipis.
"Aku bersyukur atas itu Sarah aku sangat bersyukur namun aku takut dia akan bertindak dan menghabisi kebahagiaan keluarga ini, aku tidak ingin menduga duga namun suatu saat nanti kejadian itu pasti akan datang" ucap Vallen.
"Kau benar nona, apa kita pergi saja dari tempat ini agar tidak merepotkan banyak orang?" Tanya Sarah meminta pendapat Vallen.
"Tidak ada yang bisa keluar dari rumah ini setelah dia masuk!!" Saut Vano dari belakang.
Vallen dan Sarah segera mengangkat tubuhnya ketika mendengar suara dingin mengalahkan angin malam itu bergema ditelinga mereka.
"Sekali lagi ku dengar kalian berniat keluar dari rumah ini jangan harap aku akan memperlakukan kalian dengan baik!!" Ancam Vano dengan sorotan tajamnya pada pelaku utama yaitu Vallen.
"Nona aku takut melihat mata itu" bisik Sarah.
Braaakkk!!!
Vano menendang tembok disampingnya agar Vallen dan Sarah berhenti berbisik bisik.
Vallen mendorong Sarah agar tidak terkena masalah seperti ini, dia memberikan isyarat untuk keluar dengan cepat dari tempat itu.
Setelah Sarah keluar, Vano kembali menatap Vallen dengan tatapan tajam seakan tatapan itu bermakna ancaman untuk Vallen agar tidak berani macam-macam atau keluar dari rumahnya.
"Hehe bisa rubah tatapan matanya?" Tanya Vallen cengengesan.
__ADS_1
"Atas dasar apa kau berani meninggalkan tempat ini" ucap Vano dingin.
"Ti,,, tidak kau salah dengar yah kau salah dengar" ujar Vallen kembali cengengesan.
"Jadi aku yang salah?"
"Tidak!! Aku yang salah" jawab Vallen cepat.
Hening sejenak Vallen dan Vano tidak mengucapkan sepatah katapun setelah itu, keduanya sama sama membisu tanpa mengalihkan pandangan masing-masing.
"Vano, jika aku mengatakan aku menyukaimu apa itu sebuah kesalahan?" Tanya Vallen menatap Vano mulai serius.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu" jawab Vano datar.
"Aku menyukaimu tapi aku harus berusaha menghilangkan itu karena menyukaimu sama artinya melukaimu aku,,,"
"Berapa kali aku harus mengulang perkataan yang sama, jangan pernah berani menghilangkan sesuatu tentang diriku!!" Ucap Vano memotong kalimat Vallen.
"Aku bisa saja mengikuti jejakmu saat ini, aku sudah paham kenapa kau memerintahkan ku untuk mengikuti jejakmu dengan hati tapi saat aku berpikir seribu kali aku tidak bisa melakukan itu" kata Vallen menundukkan kepalanya tidak berani menatap Vano yang semakin menjadi jadi.
"Kenapa tidak bisa!! Aku hanya memberi mu waktu untuk berpikir bukan untuk menolak!!" Ucap Vano sedikit emosi dengan perkataan Vallen.
"Aku tidak bisa, aku harus menghilangkan semuanya mulai dari saat ini sebelum terlambat, maafkan aku" kata Vallen lalu berjalan menjauhi Vano.
Vano tersenyum sinis melihat kepergian Vallen, dia cukup kecewa pada gadis itu karena tidak percaya dengan kekuatan Vano untuk melindunginya padahal jika Vallen ingin mengikutinya Vano akan menjadi perisai terdepan untuk Vallen.
__ADS_1
"Kau akan menyesal telah mengatakan itu padaku Vallen sayang" ucap Vano mengeluarkan seringainya.