Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 218


__ADS_3

Pagi ini Vano masih belum pergi bekerja, satu minggu kedepan dia harus mengosongkan jadwal karena pernikahan Rafi dan Rifka memakan banyak waktu karena persiapan yang teliti pasalnya darah Horowitz yang ada dalam diri Rifka mustahil dihilangkan sehingga tiga pilar kota yang awalnya hanya rekan bisnis berubah menjadi ikatan keluarga karena pernikahan berantai.


"Selamat pagi semua" sapa Vano pada ketiga putra putrinya yang sedang duduk dimeja makan.


"Selamat pagi pa" sapa Vera dan Excel.


"Hari ini sarapan apa?" Tanya Vano basa basi.


"Seperti biasa pa, o iya pa mama dimana?" Tanya Vera balik.


"Didalam sedang bersiap-siap"


"Mama mau pergi?"


"Iya mama pergi kerumah sakit hari ini untuk mengecek kesehatan"


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, Vano menyiapkan makanan untuk ketiga anaknya, dia sengaja tidak menyuruh pelayan karena Vano ingin sekali menjadi ayah yang baik untuk mereka.


"Kenapa?" Tanya Vero.


"Mm? Apanya yang kenapa sayang?" Tanya Vano balik sembari mengoleskan selai.


Vero hanya menunjuk dengan mata, Vano melihat apa yang yang ditunjuk Vero.


"Ini? Hanya luka kecil papa teledor kemarin dan tidak sengaja melukai diri" jawab Vano tak lupa diiringi senyum manis.


"Duduk"


"Iya sebentar sayang"


"Papa kami bisa menyiapkan nya sendiri" ucap Vera.


"Ayo sarapan"


Vano menyiapkan tiga piring dan memberikan pada masing masing anaknya. Vero terus menatap Vano dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Tak lama Vallen pun datang bergabung dengan mereka dimeja makan.


"Sayang"


"Jangan jangan disini saja agar tidak lama nanti" tolak Vallen ketika Vano ingin mengangkatnya ke kursi.


"Baiklah, ini makanlah" Vano memberikan piring yang berisi roti.


"Terimakasih"


Semua sibuk dengan makanan masing-masing hingga beberapa menit kedepan.


"Mm minta sesuatu?" Tanya Vallen menatap suaminya.


"Tentu saja, apa yang kau inginkan"


"Perawatan nya dirumah saja agar tidak memakan banyak waktu"


"Baiklah"


"Kau setuju?"


Vano mengangguk sembari mengelus rambut istrinya.


"Tidak ada masalah perawatan dimana saja karena itu tergantung dirimu" jawab Vano.


"Baiklah terimakasih"


Vano kembali mengelus kepala istrinya dan kembali memakan sarapan.


"Sebentar!" Vano merasa ada sesuatu yang perlu ia bahas dari kemarin tapi dia perlu mengingat nya.


"Vero" panggil Vano sambil menatap nya.


Vero tidak menjawab tapi ia juga menatap Vano.

__ADS_1


"Kau selalu berada didalam kamar mu dan terkurung kan? Tapi kenapa papa sering melihat,,,,,"


Vero langsung menajamkan tatapan nya pada Vano bergantian ke Vallen.


'mama belum tau?'


'diam!'


'tergantung mood'


Begitulah percakapan batin antara keduanya, selama ini Vero keluar tanpa sepengetahuan orang orang rumah dan pengawal ia sogok agar tidak memberitahu Vallen ataupun David dan Bela.


"Kau melihat apa?" Tanya Vallen.


"Heuh? Tidak aku hanya melihat Vero,,,,"


"Sangat tampan dan berkharisma" kata Vero menyambung kalimat papanya yang belum selesai.


"Siapa bilang tidak tidak bukan itu tapi,,,"


"Hey!!"


'kita bicarakan baik-baik'


'baik, deal?'


Karena telepathy mereka nyambung satu sama lain, saat Vano mengulurkan tangannya Vero menyambut sebagai persetujuan.


"Kenapa?" Tanya Vallen masih bingung dengan tingkah keduanya yang berbisik dan melakukan atraksi berbicara menggunakan batin.


"Tidak tidak Vero benar dia sangat tampan" ucap Vano mengalihkan perhatiannya pada Vallen.


"Kalian aneh"


"Tentu saja" jawab keduanya serempak sampai Vera dan Excel ikut bingung dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2