
Yaah pertolongan memang datang terlambat tapi setidaknya Farel berhasil menyelamatkan 4 orang, Vano ditemukan tidak jauh dari tebing jurang dengan luka di sekujur tubuhnya.
Mereka berempat dibawa ke rumah sakit, Vino dan David tetap berada di hutan mencari Vallen. Dia satu satunya yang belum ditemukan.
"Vallen!!"
Itu panggilan yang hampir keseribu namun tetap saja tidak ada hasil, timsar sudah dikerahkan sebanyak mungkin ke bawah.
David bersandar dibawah pohon besar memijit pelipisnya, baru kali ini dirinya melihat darah berserakan bahkan mayat mayat tidak terhitung banyaknya.
"Putriku kau dimana" gumam David.
Vino tidak heran melihat David seperti itu karena ia juga khawatir dengan putranya, Vino tidak tau apakah Vano selamat.
"Bela pasti terpukul Vino" ucap David.
"Vallen pasti ditemukan ayo jangan putus asa masih banyak kesempatan untuk menemukan nya" kata Vino.
David menghela nafas panjang lalu berdiri menguatkan dirinya sendiri.
"Seseorang ditemukan!!"
Tanpa berpikir panjang keduanya berlari ke ujung jurang, cahaya cahaya senter dari para timsar terkumpul menjadi satu, artinya di bawah sana Vallen tersangkut.
"Alhamdulillah bawa ke atas cepat!!"
"Vino ambulance dimana!!"
"Ada disana, aku sengaja membawa banyak ambulance"
Lima belas menit usaha penyelamatan akhirnya Vallen bisa naik ke atas, tangannya masih terikat dan darah ada dimana-mana.
Keduanya langsung membawa Vallen kerumah sakit, sudah berapa kali semua ini terjadi Vino geram melihat keluarganya yang tidak pernah melakukan kesalahan harus kena imbas gara gara orang iri hati.
Dirumah sakit mereka berkumpul lagi diruangan anak masing-masing, Ethan dan Sarah baik baik saja karena gadis itu belum sempat dilukai.
Zea harus dirawat karena ia tenggelam cukup lama dalam telaga untung saja setruman dari kabel belum mengenai air sehingga dapat diselamatkan dengan cepat oleh Farel.
Sedangkan Vano harus di operasi untuk mengeluarkan tiga peluru yang menancap ditubuhnya. Sudah 5 jam operasi berlangsung namun para suster dan dokter belum memberikan informasi terkait keadaan Vano.
"Bagaimana? Dia baik baik saja?" Tanya Vino.
Vira menggelengkan kepala sambil bersandar di kursi rumah sakit.
"Vallen ditemukan?" Tanya Vira balik.
"Sedang dirawat intensif oleh dokter, kondisinya tidak baik" jawab Vano.
Hampir seluruhnya bingung harus melihat siapa karena mereka anak anak mereka sedang terluka sama dengan yang lain.
"Vano"
"Vallen"
Ethan dan Sarah keluar dari ruang istirahat, keduanya sama sama berwajah tegang.
"Vallen disana" ujar Vino menunjukkan ruang ICU pada Sarah.
"Terimakasih om" Sarah langsung berlari keruangan yang ditunjukkan Vino.
"Ayah bagaimana keadaan Vano?" Tanya Ethan.
Ceklek
__ADS_1
Belum sempat dijawab dokter intan keluar dari ruang operasi.
"Maaf tuan kami sudah menyiapkan banyak darah dan tetap saja tidak cukup, kami butuh pendonor"
"Ambil darah ku dokter, ayo cepat" ucap Ethan mendekati dokter intan.
"Dokter darah ku sama dengan Vano, ayo keruang pendonor"
"Ayah Ethan ikut!"
"Maaf tuan jika darah kalian tidak sama itu tidak mungkin"
"Ya samakan saja!! Vano butuh darah kan!"
Bahkan Ethan tidak cerdas mengenai keselamatan Vano.
"Sudah sudah Ethan kau istirahat saja jangan berdebat"
Ethan dan Vira duduk bersamaan, keduanya sama sama menatap pintu yang selalu membuat dirinya kehilangan rasa untuk hidup.
"Maaf bunda Ethan ingkar janji" kata Ethan dengan lemah.
Vira mengelus punggung Ethan sebentar lalu kembali memikirkan nasib putranya.
"Ethan pulanglah" ucap Vira.
"Kenapa bunda? Ethan tidak boleh disini?"
"Ganti pakaian mu terlebih dahulu, ajak Sarah juga setelah itu kembali ke sini"
Ethan memperhatikan pakaian nya yang penuh dengan darah bahkan dia baru ingat pakaian Sarah hanya tinggal setengah.
"Ethan akan menghubungi pelayan"
Jujur Ethan merasa berat harus meninggalkan ruang operasi apalagi pulang kerumah.
"Baik bunda"
Ethan pergi menuju ruangan Vallen setelah bersalaman dengan Vira, sama dengan ruangan Vano ruangan Vallen juga dipenuhi oleh keluarganya.
"Permisi maaf mengganggu, Sarah" Ethan memberikan kode untuk meninggalkan mereka.
Awalnya Sarah menggelengkan kepala karena ia tidak ingin meninggalkan Vallen namun Ethan meyakinkan dirinya bahwa Vallen baik baik saja.
"Apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Sarah.
"Bunda menyuruh kita kembali kerumah sebentar ayo pulang, aku juga perlu memeriksa sesuatu" jawab Ethan.
"Tapi,,,, baiklah" dia juga merasa pakaian itu sudah tidak pantas dipakai.
Keduanya pulang dengan mobil Farel, Ethan terus menggenggam flashdisk yang ia ambil dari tuan Richard saat memukulnya habis habisan.
"Apa yang terjadi di hutan Sarah, kenapa kalian bisa tertangkap" ujar Ethan.
"Setelah ledakan mobil dan helikopter terjadi aku dan Vallen terpisah, kami mencari satu sama lain namun sebelum bertemu seseorang membius ku dari belakang dan mungkin itu yang terjadi pada Vallen juga" jawab Sarah.
Ethan memukul stir mobil, rasanya ingin sekali dia pergi ke tempat tuan Richard di tahan saat ini.
30 menit kemudian keduanya sampai dirumah kedua, Ethan dan Sarah membersihkan diri terlebih dahulu lalu menggunakan pakaian, mereka tidak ingin berlama-lama dirumah.
Sembari menunggu Sarah menggunakan pakaian Ethan penasaran dengan isi isi flashdisk itu, akhirnya Ethan memutuskan untuk membongkar nya sebentar.
Saat melihat data dari masing masing marga Ethan hanya bisa menghela nafas, dia sudah menduga isinya seperti itu.
__ADS_1
Ada tiga marga didalam flashdisk itu, siapa lagi jika bukan Salvatrucha, Ferrero, dan Horowitz.
"Haaah!!"
Dengan berat hati Ethan membuka file tentang keluarga Ferrero, tidak disangka data data itu sangat lengkap bahkan total kekayaan mereka pertahunnya ada disana.
Video video penyiksaan Vallen pun tersimpan rapi, mulai dari dibentak saat usianya masih kecil, dikurung digudang, dan yang paling menyakitkan adalah ketika Vallen dicuci otaknya untuk pertama kali.
Ethan tidak tahan dengan penyiksaan itu dia langsung menghentikan videonya.
"Apa pembunuhan kakak ku juga ada disini" gumam Ethan penasaran.
Dia memeriksa file file tentang keluarga Horowitz dan ternyata isinya sama dengan Ferrero, data data harta kekayaan lengkap disana
Ethan tidak perduli tentang jumlah harta dia mencari video tentang kakaknya Leona.
"Tragedi Horowitz?"
Ethan memutar video yang menurutnya cukup menarik ketika dilihat dari judul.
'putri kita perempuan, dia sangat cantik'
'benarkah? Coba ku lihat!'
'manis sekali sayang, aah ya bagaimana jika kita pulang? Aku tidak bisa mengurus mu dirumah sakit, kau tau kan sejak papa dan mama meninggal hanya aku yang mengurus perusahaan'
'baiklah terserah kau saja'
Ethan melanjutkan video selanjutnya yang sudah ada dirumah kebesaran Horowitz.
'aarrrgghhh!!! Sayang apa kau lakukan!!'
'sudah lama aku menunggu kematian mu Leona!!'
'a,,,apa maksud mu!'
'aku tidak perlu menjelaskan lebih detail. Minum ini!!'
'tidak!! Aaahhh!!"
Ethan menutup mata melihat kakaknya dipaksa meminum air yang telah di campur dengan racun.
"Kakak!!" Teriak Ethan histeris.
Sarah langsung keluar dari ruang ganti dan melihat tubuh Ethan tersungkur didepan laptop.
"Ethan" Sarah mendekati suaminya lalu memeluk erat tubuh Ethan.
Video tadi masih berputar, tuan Richard terlihat sedang mengumpulkan pengawal, mereka semua sudah di sogok oleh tuan Richard sehingga rencananya berjalan lancar.
Mereka membawa Leona ke taman belakang lalu membuat lubang dan membuang jasad Leona kedalam lubang tersebut.
Ethan memeluk erat tubuh Sarah, dia benar benar tidak kuat melihat Leona dikubur seperti itu.
"Richard!!! Biadab!!" Teriak Ethan histeris menatap lubang tersebut dicor dan dibuat jalanan kecil untuk akses pelayan dari belakang.
Mungkin sampai hari ini belum ada yang mengetahui jasad kakaknya berada di rumah mereka sendiri.
"Tenang Ethan tenang" Sarah mengelus punggung suaminya namun Ethan memberontak.
"Kau akan mati hari ini juga!!" Ethan menghapus air matanya lalu keluar dari rumah menuju markas.
Sarah selalu menemani nya bahkan untuk balas dendam pun dia akan ikut.
__ADS_1