Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 165


__ADS_3

Lokasi yang ditunjukkan GPS mengarah pada gedung tua tempat bekas proyek terbengkalai, gedung dengan hiasan lumut itu sudah tidak layak huni.


Vano agak ragu jika ada seseorang disana karena bentuk gedung itu sangat terbuka dari luar tidak tau dari dalam seperti apa.


"Kau yakin ada seseorang tinggal disini?" Tanya Farel menatap gedung tua tersebut.


"Menurut informasi dari mata mata ku ada, mereka tinggal disini" jawab Ethan.


"Ayo masuk"


"Tunggu, apa tidak ada jebakan disana?" Tanya Farel menghalangi Vano.


"Jika benar tuan Richard orang jahat maka jebakan ada dimana-mana, tapi kau yakin semua ini ulah tuan Richard?" Tanya Farel lagi.


"Kita akan tau jawabannya setelah masuk" jawab Ethan.


Ketiganya berjalan pelan, Vano menatap dua orang dari kejauhan yang tak lain adalah anak buah mereka.


"Ssssttt" Vano menghalangi Ethan dan Farel melangkah karena ada yang mencurigakan didepan pintu gedung.


"Laser"


"Sialan aku hampir menginjaknya" kata Ethan.


"Berarti dugaan kita benar ada seseorang didalam"


"Bagaimana sekarang? Setau ku laser ini akan terhubung dengan peledakan nanti, sedikit saja kau menyentuhnya pasti akan terjadi sesuatu yang besar" saut Farel


"Tidak mungkin, penjahat tidak akan pernah bunuh diri segampang itu" jawab Vano.


"Laser ini transparan disaat cahaya terang, bagaimana bisa kita melihatnya agar tidak tersentuh"


"Apa kita tunggu malam dulu?" Tanya Ethan.


"Kenapa tiba tiba kalian menjadi bodoh? Nonaktifkan saja pengendali lasernya" jawab Vano datar.


"Iya ya aku tidak berpikir sejauh itu" saut Farel.


"Tapi dimana kita bisa menemukan pengendali nya?"


"Ya Tuhan hubungi saja anak buah kalian, apa gunanya mereka disini berhari hari"


"Hehe tidak berpikir kesana" jawab Ethan cengengesan.


Ethan mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu penembak jitu yang sedang bersembunyi dibelakang gedung.


"Dimana tempat pengendali laser?" Tanya Ethan.

__ADS_1


"Tuan sebenarnya laser itu memiliki pengendali namun tempatnya ada didalam"


"Ck!!!" Ethan ingin membuang ponselnya mendengar jawaban anak buah mereka.


"Tapi anda tidak perlu khawatir tuan karena dibelakang ada pintu yang menghalangi cahaya laser itu, anda bisa masuk dengan leluasa"


"Benarkah? Datang kemari dan tunjukkan jalannya!!" Titah Ethan.


"Baik tuan"


Ethan kembali memasukkan ponselnya lalu menghentakkan kaki sembarangan didepan laser transparan tersebut.


"Bagaimana?" Tanya Farel.


"Itu" jawab Ethan menunjuk satu pengawal yang memegang senapan.


"Mari ikuti saya tuan"


Ethan berjalan terlebih dahulu mengikuti pengawalnya menuju kebelakang gedung dan benar ada satu pintu lebih tepatnya seperti lorong disana.


"Jika dia benar benar penjahat kenapa tidak ada serangan sedikitpun?" Tanya Farel bingung.


"Silahkan tuan"


Ketiganya masuk dengan penuh kecurigaan dan waspada, rasanya gedung dingin itu sudah diselimuti aura tidak mengenakkan selama mereka masuk.


Vano yang sengaja mengambil tempat dari belakang langsung menindih kedua tubuh Farel dan Ethan hingga mereka tersungkur.


"Hey kau gila!!" Teriak Ethan menatap pengawal yang tadi mengantar nya tiba tiba menembaknya dari belakang.


Vano memperhatikan mata pria itu, matanya persis seperti kedua manik hitam Vallen saat pertama kali mereka bertemu.


"Percuma kau melayaninya, dia sedang berada dibawah pengaruh si pencuci otak, dia lupa siapa tuannya" kata Vano.


Door!!!


Ethan, Vano, dan Farel berpisah menjadi tiga bagian agar pengawal itu bingung.


"Bagaimana dengan pengawal lain?" Tanya Farel sembari mengeluarkan pistolnya.


"Ada kemungkinan hanya beberapa yang tercuci otaknya karena tidak mungkin penjahat itu melakukannya satu persatu" jawab Vano was was.


"Mmmhh tolong!!!"


"Apa kalian mendengar itu?"


Vano dan Farel memasang telinganya baik baik mendengar suara dari arah yang lebih dalam.

__ADS_1


"Siapapun tolong aku" ucap seseorang tersebut.


"Aku akan memeriksa kedalam kalian jaga diluar"


"Tidak!! Aku yang masuk kalian tetap disini"


"Ethan bahaya!!" Bentak Vano.


Ethan tidak ingin mendengar perkataan Vano, dia berlari masuk kedalam untuk memeriksa suara tersebut.


Dorrr!!!


Tiba tiba serangan beruntun datang dari lorong tempat mereka masuk tadi, rupanya penjahat ini sudah menyambut kedatangan ketiganya dengan baik. Dia sudah tau kehadiran mereka.


"Sudahlah percayakan semuanya pada Ethan, kita akan melindunginya dari luar" ucap Farel sembari menembakkan peluru nya.


Vano mengangguk lalu menembakkan timah panas dikaji anak buahnya sendiri, keduanya terpaksa melakukan itu karena otak mereka hanya melihat Vano dan Farel sebagai musuh saat ini.


"Berpencar!! Mereka terlalu banyak jadi kita perlu membagi tugas!"


Farel mengangguk lalu mengambil posisi kearah kiri sedangkan Vano mengalihkan perhatian kearah kanan agar mereka tidak pergi ke tempat Ethan melihat sumber suara tadi.


"Tunggu!! Hey aku bos kalian!!" Teriak Vano.


Tidak peduli omong kosong Vano, anak buahnya terus menyerang dengan senapan mereka. Menyesal rasanya Vano memberikan anak buahnya senjata yang bagus jika itu hanya akan menyerang dirinya.


"Ck membuat ku kesal saja" gerutu Vano.


Vano membuang pistolnya yang sudah habis peluru lalu menarik salah satu anak buahnya dan mengambil senapan.


"Maaf ya tapi kalian yang menyerang ku terlebih dahulu sekarang rumah sakit akan mengucapkan selamat datang untuk kalian, tenang saja kalian tidak akan mati" ujar Vano seperti tidak tega menyakiti pengawal nya sendiri.


Dorr!!! Dorr!! Dorr!!!


Lima pengawalnya tergeletak dengan darah yang mengalir deras.


"Datangkan ambulance ke alamat yang ku kirim, cepat!! Jika salah satu pengawal ku mati rumah sakit kalian akan berubah menjadi kuburan" ancam Vano dari balik sambungan.


Hahhh!!


"Sudah ku bilang jangan melawan ku kenapa kalian masih tetap kekeh dan sekarang siapa yang terluka? Kalian sendiri kan?" Ucap Vano menatap kebawah.


Karena semua sudah selesai, Vano berjalan kearah Farel tadi untuk membantu saudaranya. Baru beberapa langkah Vano mengulang langkahnya kebelakang dan melihat satu ruangan mencurigakan disana.


"Ruangan apa ini?" Gumam Vano heran.


Karena penasaran Vano masuk kedalam namun ruangan itu tidak memiliki keistimewaan, sama saja seperti ruangan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2