
Diruang keluarga semuanya kembali berkumpul, wajah Vano dan Vallen memerah karena menangis didalam kamar Vero, anak itu berhasil memporak porandakan hati keduanya.
Excel, Tristan, dan Vera dibawa pergi bermain terlebih dahulu agar mereka tidak mendengar percakapan orang dewasa lebih jauh.
"Apa Vero mengatakan sesuatu?" Tanya David khawatir.
"Pa boleh Vano bertanya?" Tanya Vano balik.
David mengangguk menatap wajah Vano yang terus-menerus ia bersihkan dengan tisu.
"Vero kenapa disembunyikan dari publik dan kenapa Vero terkurung didalam ruangan atas, satu lagi kenapa Vero tidak diberikan marga seperti Vera, mereka terlahir sama tapi kenapa nasib putra Vano berbeda" ucap Vano.
"Kami takut dengan perusahaan yang semakin berkembang akan ada banyak orang orang yang mengincar keluarga kami seperti dulu, Vero disembunyikan dan tidak diberikan marga apapun karena dia terlalu pintar, banyak orang yang mencarinya karena dia sering membobol dan meretas perusahaan besar"
"Dia juga pernah membobol uang milyaran disalah satu perusahaan terbesar Amerika sehingga namanya terus dilacak sampai sekarang namun sistem yang dia buat belum berhasil dipecahkan" saut Vallen.
Vano dan Ethan kembali memijit pelipisnya mendengar penjelasan dua orang itu.
"Tapi kenapa sampai separah itu kalian menyembunyikan nya dan kenapa kalian ajarkan dia hal hal diluar kepala" ucap Vano.
"Kami tidak pernah mengajarkan dia, usianya masih belia mana mungkin kami ajarkan hal hal seperti itu tapi otaknya mengalahkan memori robot, jika kau perhatikan dikamar nya tadi tidak ada buku buku tentang gambar menggambar atau mengeja alfabet melainkan tentang sistem peretasan, data data perusahaan yang bekerjasama dengan kami, aku yakin dia hanya mengambil kertas kertas itu untuk membuat pesawat mainan tapi ternyata tidak, dia tidak tidur satu malam penuh mempelajari teori bisnis dan semua itu masuk kedalam otaknya dengan cepat sampai aku mengira dia tidak waras awal awalnya"
"Pada dasarnya kami melakukan itu untuk kebaikannya sendiri, aku juga tidak ingin Vero dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab sehingga dengan terpaksa kami tidak mencantumkan namanya setiap mempublish Vera" saut David.
"Bagaimanapun juga Vano akan berusaha membujuk Vero agar mau menerima Vano sebagai papanya" kata Vano dengan penuh keyakinan.
***
Vano akhirnya memilih diam untuk sementara dirumah Ferrero, dia tidak akan pernah putus asa mengambil hati anaknya walau dari pagi sudah ditolak terus menerus.
__ADS_1
Disisi lain Excel berjalan sendirian ke kamar Vero tanpa ditemani Tristan karena anak itu sedang menemani Vera bermain di bawah.
Tok,,,tok,,,tok
"Pergilah!"
"Ini Excel"
Vero hening sebentar lalu membuka pintunya, dia menatap sekeliling lalu menarik Excel masuk kedalam kamarnya.
"Waah kamar mu sangat besar dan indah" ucap Excel menatap langit langit kamar Vero.
"Apa yang kau inginkan" ucap Vero tanpa basa-basi.
"Tidak ada aku hanya ingin menemui mu saja, kemarin aku menghubungi mu tapi kau sudah memblokir nomor ku" jawab Excel polos.
"Hanya itu? Keluarlah aku sedang tidak ingin diganggu"
"Aku tau sekarang kau adalah anak kandung papa ku, jika boleh aku tebak kau pasti marah karena mengira papa tidak mencari mu kan?"
Vero diam agar Excel melanjutkan kalimatnya, Excel duduk di sofa dekat jendela menatap ke arah luar sedangkan Vero tetap dimeja belajar nya.
"Kau salah, tanpa papa tau aku sering mendengarnya menangis tengah malam dengan memanggil nama Vallen yang sepertinya adalah nama mama mu, papa ingin sekali mencari mama mu tapi dia tidak bisa karena janjinya dulu"
"Dan satu minggu yang lalu papa datang ke Inggris, tanpa sengaja mereka bertemu kembali, kau tau bagaimana ekspresi papa setelah bertemu dengan mama mu? Dia sangat bahagia dan setiap hari dia tersenyum"
"Aku tidak peduli"
"Ya kau memang tidak peduli tapi aku yakin kau juga melihat kebahagiaan diwajah mama mu saat ini, Vero jika kau terus menerus seperti ini kau juga egois seperti papa dan mama, mereka tidak akan bisa bersatu jika kau tidak memberi kesempatan" tutur Excel dengan serius.
__ADS_1
Bisa bisanya mereka mengira itu pembicaraan anak kecil sedangkan yang ia bahas adalah permasalahan orang dewasa.
"Apa peduliku jika mereka ingin bersatu itu bukan urusan ku"
"Aku akan melepaskan papa ku jika kau mau kembali" kata Excel dengan berkaca kaca.
Vero menatap Excel sekilas lalu memalingkan wajahnya kembali.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Aku tidak ingin papa menderita selamanya, jika kau tidak ingin kembali hanya karena papa sudah memiliki aku maka aku akan kembali pada ayah ku lagipula ayah ku juga tinggal satu rumah dengan papa jadi tidak ada masalah"
"Aku yakin kau sering mendengar tangisan mama mu karena merindukan papa, ayolah Vero jika kau masih egois seperti ini lalu apa bedanya kau dan mereka berdua" ujar Excel.
Vero mencerna perkataan perkataan Excel tapi tidak ada yang salah dari perkataannya hanya saja Vero butuh waktu untuk memaafkan.
"Kau yakin akan melepasnya jika aku kembali?" Tanya Vero.
"Apapun demi papa" Jawab Excel walaupun dia ingin menangis.
"Kau menangis?" Tanya Vero menatap wajah Excel.
"Ahh iya sekarang aku menangis, hatiku sakit" Jawab Excel akhirnya menghapus air mata.
Vero tersenyum tipis melihat Excel yang berpura-pura tegar.
"Kau tidak perlu melepas siapapun, aku memiliki saudara namanya Alvaro tapi dia sudah meninggal, mulai sekarang aku akan menganggap mu orang yang dikirim adik ku sebagai penggantinya" tutur Vero datar lalu melanjutkan tangannya bermain game.
"A,,,aku?" Tanya Excel menunjuk dirinya.
__ADS_1
Vero kembali mengangguk dan membesarkan volume game dilayar komputer.