Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 62


__ADS_3

Sampai diruangan Ethan, Vano melempar pisau tepat dikening anak buahnya itu untung saja Ethan adalah seorang yang terlatih dan siaga jika tidak keningnya sudah tertancap benda tajam.


"Apa kau ingin mati!!!" Teriak Ethan.


"Kau yang ingin mati bodoh!!" Teriak Vano balik.


"Bo,,,,bos" Ethan gelagapan melihat kedatangan malaikat maut sedang bernegosiasi untuk menjemputnya.


"Sudah gila kau mengikuti seluruh keinginan Vallen!" Ucap Vano sembari mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Kau yang mengatakan menuruti seluruh keinginan Vallen sehari penuh" kata Ethan tanpa wajah bermasalah sama sekali.


"Ck"


Vano tidak bisa melawan karena memang itulah yang ia katakan tadi malam. Disisi lain Ethan berjalan mendekati Vano karena ada sesuatu yang mengganjal di otaknya.


"Vano"


Ethan terdiam sebentar sebelum ia menatap Vano yang telah menatap nya.


"Setau ku Salvatrucha Group memiliki aset bersamaan bukan?" Tanya Ethan memangku dagunya.


"Kenapa kau bertanya hal seperti itu aku sedang marah padamu" jawab Vano ketus.


"Aku serius Vano, aku pernah mendengar rumor itu dari ayah Andre" ucap Ethan.


"Memang ada tapi aku tidak pernah melihatnya karena aset itu tersimpan sangat rapi oleh petuah perusahaan seperti abi, ada apa denganmu kenapa kau terus saja membicarakan harta" kata Vano kesal.


"Sebentar" Ethan berjalan mengambil laptopnya lalu menyerahkan laptop itu pada Vano.


"Apa ini?" Tanya Vano menatap sebuah perhiasan dilayar laptop.


"Aku mencari beberapa informasi tentang aset itu dan bentuknya memang seperti ini, ku pikir aset itu hanya sebuah surat berharga atau ditanam di perusahaan tapi ternyata tidak" Tutur Ethan, dua pria itu benar benar berbicara formal dan berbobot kali ini.

__ADS_1


"Aku tau lalu kenapa kau mencari informasi seperti ini" ujar Vano mulai penasaran.


Ethan mengeluarkan berlian kecil yang ada disaku jasnya, berlian itu adalah berlian yang ia ambil tadi diruangan penuh dengan harta itu namun entah apa sebabnya Ethan lebih tertarik mengambil berlian yang tersimpan secara khusus diruangan itu.


"Aku menemukan ini diruangan penyimpanan harta ketua mafia itu" ucap Ethan memberikan batu berlian itu.


"Lalu apa hubungannya dengan aset perusahaan" kata Vano memperhatikan detail berlian ditangannya.


"Aku tidak tau pastinya tapi ayah Vino tau jika memang itu milik perusahaan" kata Ethan.


Tak ingin berlama-lama penasaran Vano langsung kembali ke ruangannya dan mengajak Vallen kembali kerumah untuk mengetahui yang sebenarnya, Vano sangat amat penasaran kenapa berlian perusahaan bisa berada di dunia mafia setahu Vano abinya memang mantan mafia tapi dia tidak pernah berhubungan lagi dengan itu.


"Assalamu'alaikum umi Abi!!" Ucap Vano sembari menggandeng lengan Vallen.


"Waalaikumussalam sayang ada apa?" Tanya Vira menghampiri Vano dan langsung menepis lengan putranya agar tidak bergandengan.


"Abi dimana umi?" Tanya Vano mengabaikan hal sepele tadi.


"Abi, om Andre, dan om Faris sedang ada kegiatan diluar, kenapa?" Tanya Vira balik.


"Di Villa tempat kita sering berlibur"


"Umi titip Vallen sebentar, sayang aku pergi" ucap Vano mengelus rambut pirang gadisnya lalu bersalaman dengan Vira.


"He,,, hey kau ingin kemana dan ada apa!!" Teriak Vira namun Vano sudah terlanjur pergi meninggalkan rumah didampingi oleh Ethan.


"Ada apa dengannya" gumam Vira menatap kepergian putranya.


"Ah sayang ayo masuk, kau tau kami sedang membuat banyak sekali makanan hari ini"


"Benarkah? Zea juga ada?" Tanya Vallen.


"Sarah juga sedang membantu ayo cepat" jawab Vira.

__ADS_1


Keduanya berjalan kearah dapur, seperti biasa ibu ibu sedang bertengkar dengan alat dapur tentunya mereka didampingi oleh para pelayan yang sudah telaten.


"Hay semua lihat siapa yang ku bawa" ucap Vira.


Seluruh isi rumah menatap kearah sumber suara dan melihat gadis cantik sedang berdiri bersama dengan Vira.


"Vallen, kemari lah ku dengar kau pintar memasak" ucap Zoya dengan ramahnya menyambut calon pengisi rumah.


"Tidak mama sebenarnya Vallen tidak terlalu pintar hanya saja situasi dulu membuat Vallen harus bisa. Bisa Vallen bantu?" Tanya Vallen sudah bersiap dengan peralatan perangnya.


Semua mengangguk patuh lalu melihat kelihaian Vallen dalam memasak, semua mengagumi kecepatan gadis itu bahkan Vira, Zoya, dan Lina kalah saing ketika disandingkan dengan Vallen dalam rangka masak memasak.


Ternyata bodoh tidak selamanya bodoh buktinya Vallen sekarang ini menjadi pusat perhatian para ibu ibu plus calon ibu ibu.


Beberapa puluh menit memulai peperangan dengan


dapur, Vallen akhirnya menyelesaikan ujian dari para calon mertua.


"Selesai" ucap Vallen menepuk satu tangannya untuk menghilangkan sisa sisa bumbu.


"Vallen kau sangat pintar" puji Zea bertepuk tangan kecil.


"Memang dari lahir" ucap Vallen membanggakan diri.


Semua menggelengkan kepala melihat kepolosan Vallen seperti itu.


"Baiklah Zea sudah tidak sabar untuk menikmati makanan ini, Zea akan membawa piring piring ke meja makan" kata Zea lalu membawa seluruh makanan dibantu oleh Sarah.


"Nona biarkan saya saja" ucap salah satu pelayan.


"Hey bukan kah sudah ku katakan hari ini adalah hari pelayan jadi majikan yang menjadi pelayan satu hari ini" saut Vira melipat kedua tangannya.


"Tapi nyonya kami,,,,"

__ADS_1


"Bibi kami melakukan ini bukan tidak ada alasan tapi cara ini kami lakukan untuk mengajarkan anak anak kami dan diri kami sendiri untuk menghargai pekerjaan seseorang sekecil apapun" Tutur Vira.


Para pelayan tidak tau harus menyangkal ucapan Vira lagi karena majikan mereka yang satu ini benar benar tidak membedakan manusia apapun status nya justru Vira mengadakan acara ini setiap bulan dan sayangnya hari ini para pria tidak bisa mengikuti acara itu.


__ADS_2