
Sekitar 12 jam perjalanan mereka sampai dirumah, keluarga Salvatrucha dan Ferrero juga berpisah di bandara karena jalur mereka berbeda sedangkan Vallen, Vera, dan Vero akhirnya ikut kerumah Salvatrucha.
Vallen melihat rumahnya kembali dan tidak ada satupun yang berubah dari tempat itu, mulai dari wajah pengawal, pelayan yang menyambut mereka, tatanan rumah tetap sama seperti dulu.
Vano juga baru kali ini mengunjungi rumahnya setelah beberapa tahun tidak pernah menginjakkan kaki disana walau jarak nya sangat dekat.
"Vero Vera kalian bisa memilih kamar yang kalian inginkan" ucap Vano.
"Yang mana saja pa? Memangnya tidak ada orang disini?" Tanya Vera.
"Tidak hanya ada kita"
"Ethan dan Farel tinggal dimana?" Saut Vallen.
"Mereka membeli rumah disamping kita"
"Baiklah kalian pasti lelah, istirahat dikamar kalian masing masing terlebih dahulu baru kita berkumpul lagi, Vera Vero kalian akan ditemani pelayan memilih kamar" tutur Vano menyusun schedule.
"Excel pindah kamar ya pa"
"Pindah kemana sayang?"
"Mm yang jelas tidak jauh dari kamar Vero"
"Baiklah terserah kalian, bibik tolong temani mereka memilih kamar sebentar"
"Baik tuan"
Vero Vera dan Excel pergi menuju kamar yang akan mereka pilih, hanya Excel dan Vera yang terlihat antusias sedangkan Vero entahlah tidak ada yang bisa mengetahui isi hatinya.
Sedangkan Vano dan Vallen pergi ke kamarnya yang dulu, Vallen agak terkejut dengan kamarnya karena satupun tidak ada yang berpindah posisi bahkan meja rias dan perlengkapan make up masih tertata rapi disana.
__ADS_1
"Kau tidak pernah menempati kamar ini?" Tanya Vallen.
"Tidak, kamar yang ada dirumah utama juga tidak pernah ku tempati"
"Kenapa?"
"Aku akan gila setiap hari melihat bayangan mu terus menerus dikamar kita, aku tidak berani melangkahkan kaki ke rumah ini sejak terakhir kali kau disamping ku"
"Maaf"
"Sudahlah aku tidak ingin membahas masalah itu lagi, kau pasti lelah ayo istirahat sebentar"
"Tunggu"
"Mm?" Vano tidak jadi mengangkat tubuh Vallen.
"Kenapa?"
"Aku? Kenapa?"
"Kau tidak menginginkan mm,,,,"
"Pasti sayang siapa yang tidak menginginkan itu, munafik jika aku mengatakan tidak tapi aku paham dan sangat mengerti bahwa ini bukan saatnya memikirkan diriku sendiri, aku harus merawat mu terlebih dahulu"
"Suami dan ayah yang sangat sempurna, beruntung sekali aku memiliki mu" ucap Vallen.
Vano hanya menanggapi dengan senyuman lalu mengambil ponselnya.
"Sayang aku sudah konsultasi dengan dokter intan dan katanya kau bisa disembuhkan tapi ya harus sabar kuncinya"
"Kau tidak,,,,"
__ADS_1
"Bukan sayang bukan, aku tidak menyinggung sama sekali, itu keputusan mu sendiri aku tidak memaksa, aku bertanya pada dokter intan juga karena kau terlihat sangat ingin sembuh" potong Vano.
Sepertinya Vallen cukup sensitif jika membahas soal kondisinya saat ini.
"Vallen dengar aku, bagaimanapun keadaan mu, kau bisa disembuhkan atau tidak tidak ada masalahnya untuk ku, sembuh Alhamdulillah tidak ya syukuri saja jalannya Tuhan"
Vallen memeluk suaminya yang ada disamping kursi roda, Vallen tidak tau hati pria ini terbuat dari apa sehingga ia bisa berpikir sejernih itu.
Ceklek
Vero masuk kedalam kamar Vano dan Vallen, wajahnya terlihat tidak bersalah sama sekali telah mengganggu kedua orangtuanya.
"Kenapa sayang?" Tanya Vallen sembari melepas pelukannya.
"Pesawat tidak bisa terbang tanpa peralatan mesin, aku menang" ucap Vero menatap Vano.
Sontak Vano tersenyum gemas melihat Vero membawakan buku dan flashdisk sebagai bukti bukti yang ia kumpulkan.
"Baiklah game terbaru akan segera datang" kata Vano setelah ia sadar bahwa Vero sedang berbicara dengannya.
"Terimakasih"
Vero langsung keluar setelah membuat pernyataan tentang apa yang ia pelajari didalam kamarnya.
"Vallen otak putra kita terbuat dari apa" ucap pria itu.
"Kau ingin tau?"
Vano mengangguk menatap pintu tadi.
"Lihat cermin dan berkacalah"
__ADS_1
Keduanya menghela nafas panjang dengan semua yang terjadi pada mereka, semua sudah selesai disini, mereka hanya memperbaiki diri sendiri dan membantu satu sama lain termasuk pengobatan Vallen agar bisa berjalan kembali.