Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 31


__ADS_3

"Nona!!!" Sarah berusaha sekuat mungkin mendekati Vallen dan mengangkat tubuhnya agar kembali tegak, Sarah menangis melihat Vallen seperti itu demi rahasia yang sudah mereka pendam berdua.


"Hey kau tau kenapa nona tidak ingin membuka diri atau menutup rapat tentang dirinya? Baiklah akan ku ceritakan padamu. Beberapa saat lalu setelah dia kembali pulang nona ditempelkan satu macam alat ditubuhnya yang berfungsi untuk semuanya. Jika nona membongkar lebih banyak rahasia maka aku yang akan menjadi santapan kejahatan ayahnya, pemerkosaan sudah dilakukan ratusan kali dan target selanjutnya adalah aku tapi jika nona bisa menjaga rahasia maka aku akan aman,,,,," tutur Sarah sembari menangis memeluk Vallen yang sudah lemah.


Vallen menggenggam tangan Sarah agar tidak berbicara lebih banyak lagi.


"Tidak nona, dia harus tau jika nona sebenarnya tidak kasar padaku dan ingin melindungi ku oleh karena itu nona tidak mengizinkan ku tinggal disana" ucap Sarah kembali mengeluarkan air mata.


Vano terduduk mendengar penjelasan dari Sarah bahwa Vallen sebenarnya orang yang sangat baik hanya saja atasannya bukanlah orang biasa melainkan mafia terkutuk yang bisa mengancam seorang gadis.


"Kenapa kau tidak melepas alat itu Vallen, apa kau terlalu bodoh hanya untuk hal itu?" Ucap Vano.


"Jika saja nona tau dimana orang itu meletakkan alatnya pasti dia lepaskan ketika menjadi manusia biasa tapi tidak, alat itu benar benar tidak bisa terdeteksi dengan modal tangan" saut Sarah tetap setia memegang bahu Vallen.


Vano langsung mendekati Vallen dan mengangkat tubuhnya keluar dari markas, pria itu membawa Vallen entah kemana yang jelas Farel dan Ethan tertinggal di markas bersama dengan Sarah.


Rupanya perjalanan itu menuju kerumah Vano Salvatrucha, terlihat samar dimata Vallen namun ia tidak yakin dengan penglihatannya jika jalan itu menuju arah pulang.


"Aku tidak ingin kerumah mu!" Ucap Vallen lemah.


"Diam!! Jika saja mau mengatakan yang sesungguhnya aku tidak akan berbuat seperti ini, kenapa kau selalu menyembunyikan sesuatu dariku Vallen" ujar Vano gusar.


"Turunkan aku!" Kata Vallen mengabaikan ocehan Vano.


"Kenapa? Kau takut orang itu akan datang dan melukai ku? Vallen jangan bodoh! Dia bisa datang kapanpun yang ia inginkan dan satu hal yang perlu kau ketahui bahwa Vano Salvatrucha tidak akan pernah gentar hanya dengan ancaman sampah seperti itu!!" Tutur Vano menjelaskan seluruh kekhawatiran Vallen selama ini.

__ADS_1


"Kau belum tau seberapa berbahaya orang ini Vano, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu. Kau orang baik,,,"


"Tutup mulutmu atau aku akan,,,,,haaahhh!!!" Vano hanya bisa menghembuskan nafas kasar ketika melihat wajah Vallen meringis bekas cambukan tadi.


Sesampainya di rumah Vano langsung membawa Vallen kedalam untuk menunggu dokter pribadi keluarga Salvatrucha datang.


Beberapa saat tidak sampai lima menit dokter Rian datang, sebenarnya ini kutukan terbesar bagi keluarga dokter yang menangani keluarga Salvatrucha karena dokter Rian merupakan keturunan dari dokter Erlan yang harus menggantikan ayahnya untuk bertugas dirumah utama ataupun kedua.


"Selamat malam Tuan Vano aku sudah datang, siapa yang sakit?" Tanya dokter Rian basa basi.


"Kau buta? Gunakan matamu dengan bijak atau aku akan mencongkel nya!" Jawab Vano ketus.


Cih aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk mencairkan suasana tapi kau,,,,isshhh keluarga ku memang benar-benar tidak beruntung. Batin dokter Rian


"Baiklah maafkan aku, Nona izinkan aku memeriksa mu terlebih dahulu" ucap dokter Rian mengalihkan pandangan pada Vallen.


"Memeriksa nona ini memangnya apalagi" jawab Rian heran.


"Sedikit saja kau menyentuhnya jari jarimu melayang hari ini!!" Ancam Vano tidak rela jika Vallen harus disentuh orang.


"Baiklah baiklah aku akan memeriksa denyut nadinya saja" kata Rian mengalah demi kesejahteraan bersama.


"Sudah ku bilang jangan!!!" Teriak Vano emosi.


"Jangan juga? Baiklah baiklah aku akan memeriksa luka dipunggung nya, nona bisakah anda berputar sedikit?" Tanya Rian tersenyum manis untuk menghilangkan gemetarnya dengan Vano.

__ADS_1


"Rupanya nafasmu sudah tidak berjalan dengan baik hari ini, bisakah mempercepat proses pemendekan umur?" Ujar Vano dingin sembari memainkan pisau ditangannya.


"Persetan dengan uang banyak jika bekerja seperti ini bagaimana bisa tau keluhan pasien, kenapa tidak kau saja yang menjadi dokter hahh!!!" Teriak Rian akhirnya terpancing emosi lalu keluar dari kamar karena sudah tidak tahan dengan posesifnya Vano.


Vallen kembali berbaring membiarkan Vano menatapnya toh ingin di obati juga percuma karena tidak ada yang boleh disentuh.


Vano mengusap wajahnya lalu menghubungi Vira uminya, sepertinya itu akan sedikit membantu.


"Assalamualaikum umi" ucap Vano dari balik sambungan.


"Waalaikumussalam sayang, ada apa?" Tanya Vira tanpa basa-basi karena Vano menghubungi nya pasti ada sesuatu yang penting.


"Umi bisa datang kerumah? Mm Vano telah,,,,,"


"Kenapa? Kau membuat ulah lagi? Kau apakan Vallen sayang?" Tanya Vira bertubi tubi.


"Intinya umi dan abi datang saja tapi jangan ajak om Andre, mulutnya seperti wanita banyak bicara" jawab Vano datar.


Dari rumah utama Vira tersenyum tipis mendengar Vano, sepertinya Vano, Vino, dan Andre merupakan musuh sejak dulu kala. Mereka tidak pernah bisa akur ketika berkumpul.


"Baik sayang, tunggu sekitar 10 menit umi akan saya dengan abi, kali ini tanpa om Andre" ujar Vira terkekeh.


###


SORRY guys tugas lagi banyak banyaknya jadi belum bisa crazy up

__ADS_1


jangan lupa like komen anda VOTE yak😁😁🙏🙏🙏


__ADS_2