Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 142


__ADS_3

Di apartemen Ethan dan Sarah


Masih tidak ada tanda tanda tertarik satu sama lain, keduanya masih tetap dingin dan sekali berbicara pasti akan menimbulkan masalah.


Ethan kesal harus tinggal berdua dengan gadis dingin dan tatapan menusuk seperti Sarah sehingga ia memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar.


"Kemana?" Tanya Sarah tanpa menatap Ethan yang sedang bersiap siap.


"Apa peduli mu" jawab Ethan datar.


"Pergilah aku juga bosan melihat wajah mu"


Wajah Ethan semakin kesal mendengar perkataan Sarah, dia semakin mempercepat persiapannya untuk keluar.


Braakk!!


Ethan membanting pintu apartemennya agar Sarah mendengar suara itu namun si gadis dingin ini memang benar-benar sangat cuek dengan segala hal.


"Akhirnya setelah sekian lama tidak menghirup oksigen" ucap Ethan sembari membuka kaca mobilnya menikmati indahnya pemandangan kota.


"Baiklah kita akan kemana sekarang? Kerumah kakak tercinta untuk meminta uang adalah ide yang sangat bagus" gumam Ethan tersenyum manis mengingat kartu kartu milik Vano.


Sibuk dengan hayalan nya Ethan tidak sadar seseorang sedang menyebrang jalan hingga membuat gadis itu berteriak keras.


"Aaaa!!!"


Ethan langsung sadar dan menginjak rem sekuat tenaga, Ethan membuka perlahan matanya dan melihat gadis itu sedang berjongkok didepan mobilnya.


"Syukurlah!!" Ethan menyandarkan kepalanya dikursi pengemudi dengan nafas lega.


Pria itu keluar dari mobil, kebetulan jalan yang ia lewati masih sepi sehingga pejalan kaki belum terlalu ramai.


"Hey kau baik-baik saja?" Tanya Ethan pada gadis didepannya.

__ADS_1


Gadis itu tidak merespon sama sekali hingga membuat Ethan penasaran dengan kondisinya.


"Jika kau terluka aku akan bertanggung jawab" ucap Ethan masih penasaran dengan wajah yang bersembunyi dibalik rambut panjang itu.


"Hey berdirilah aku tidak tau harus berbuat apa jika kau seperti ini terus"


Akhirnya gadis itu berdiri dan menyibak rambutnya perlahan.


"Rifka?"


"Ha,,,Hay kak" sapa Rifka mencoba tersenyum manis.


"Hey ini kenapa?" Tanya Ethan memegang luka dikening dan bibir gadis itu.


"Baik baik saja kak tadi hanya kena bully disekolah" jawab Rifka.


"Bully? Astaga zaman sekarang masih ada bully disekolah aku tidak habis pikir, ayo ikut kakak" Ethan baru saja menarik lengan Rifka untuk masuk kedalam mobilnya namun Rifka menolak.


"Kenapa?" Tanya Ethan bingung melihat Rifka melepas paksa pergelangan tangannya.


Ethan langsung menarik tangan Rifka dengan paksa, alasan seperti itu tidak pernah ia terima dalam hidupnya.


Pria itu membawa Rifka ke salah satu cafe untuk mengobati lukanya.


"Memangnya kau tidak bisa melawan mm?" Tanya Ethan sembari membersihkan luka di bibir Rifka.


"Mereka terlalu mengerikan kak" jawab Rifka dengan tawa terpaksa.


"Setidaknya lawan dulu, buat mereka takut pada mu"


"Lalu Rafi? Apa dia tidak peduli pada mu lagi?" Tanya Ethan.


"Mm jangan dibahas kak ah ya sebentar lagi Rifka akan pindah sekolah karena papa meminta Rifka untuk kembali"

__ADS_1


"Pindah? Kemana?"


"Ke tempat asal Rifka"


Ethan hanya menganggukkan kepala sembari memberikan obat pada kening Rifka.


"Sejauh ini aku hanya melihat papa mu, dimana ibu mu?" Tanya Ethan.


Rifka langsung diam karena dia sendiri tidak pernah melihat ibunya.


"Mm mungkin mama dan papa bercerai" jawab Rifka santai.


"Apa dia tidak mencari mu?"


"Seumur hidup Rifka belum dicari siapapun" jawab Rifka tersenyum tipis.


Ethan ikut tersenyum melihat senyuman manis diwajah Rifka, pria itu tidak mengerti dengan perasaannya. Ini gila jika Ethan menyukai senyum itu terus menempel di wajah Rifka.


"Mata mu cantik, tetap tersenyum seperti itu" ucap Ethan.


"Kakak menyukai ku? Astaga ingat kakak baru menikah" kata Rifka tertawa puas.


Ethan membiarkan Rifka berbicara semaunya asal senyum itu terus mengembang diwajahnya.


"Apa kau benar benar tidak bertemu dengan ku sebelumnya? Aku rasa aku pernah melihat mu tapi aku lupa" ujar Ethan.


"Kakak sudah mengatakan ini berkali kali dan aku masih belum tau jawabannya"


"Baiklah Rifka harus pergi karena pengawal pasti mencari Rifka, ingat jangan sampai tergoda dengan wanita lain kasihan kak Sarah" imbuh Rifka dengan tawa mengejek.


"Dasar nakal, ini kartu nama kakak jika kau butuh sesuatu kau bisa menghubungi nomor itu" Ethan memberikan kartu namanya.


"Nomor ini pasti akan sangat berguna untuk teman curhat" ucap Rifka lalu pergi keluar cafe.

__ADS_1


Ethan tersenyum tipis melihat Rifka dari kejauhan menemui pengawal nya, pasti ayahnya menjaga Rifka dengan baik sama seperti ia menjaga Zea dulu.


__ADS_2