
Perlahan laju mobil yang dikendarai oleh Farel terhenti disebuah tempat, tempat sepi yang sepertinya berada dipinggir jalan itu masih bisa terlihat dengan modal lampu depan mobil.
"Vallen kau yakin ini tempatnya?" Tanya Vano.
"Yakin, Ethan keluarlah"
Ethan yang sudah pucat sedari tadi hampir tidak memiliki tenaga untuk membuka pintu mobil, ketakutannya akan kegelapan memang tidak ada obat.
"Kau bisa aku yakin" ucap Farel.
"Semua ini tergantung pada mu Ethan jadi tingkatkan percaya diri mu" saut Vallen.
Sedangkan Vano tidak ingin berkomentar apapun lagi, jangankan menguatkan Ethan menguatkan dirinya saja tidak mampu. Cukup dari matanya Ethan tau bahwa Vano tidak ingin Ethan melakukan itu.
Huuhh
Ethan menghela nafas panjang lalu keluar dari mobil, baru satu langkah tubuhnya sudah tertampar angin malam yang cukup mengerikan, rasanya malam ini adalah hari hari terakhir nya menikmati malam yang indah.
Ethan mencoba melangkahkan kaki kedepan mobil dan terus menjauh sesuai arahan Vallen hingga berjarak seratus meter.
"Satu dua,,,,,"
"Tiga!!"
Lampu depan mobil mati, cahaya dari alam pun tidak mendukung. Kegelapan menyelimuti tempat Ethan berdiri, seluruh tubuhnya bergetar hingga kakinya lemas.
Dari dalam mobil Vano juga tidak melihat sosok Ethan karena tempat itu benar benar sangat gelap.
Lima menit berlalu Ethan tersungkur karena tidak mampu menopang tubuhnya, kepalanya terasa berat namun ingatan yang ia cari belum terlihat sama sekali.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Mm" Ethan hanya memberi suara agar tidak ada yang keluar dari mobil.
Dduuuaaarrrr!!!!!
Ethan terbelalak kaget melihat ledakan mobil persis disamping kiri kanannya. Pria itu mencoba fokus terhadap tujuan awal yaitu mengingat segalanya.
Alih alih ingat Ethan malah memukul dirinya sendiri dengan air mata yang sudah ia tahan beberapa menit ini.
Ethan mencabut alat alat yang ditempelkan Vallen tadi lalu membuangnya kedalam kobaran api agar tidak ada yang mendengarnya berteriak kesakitan ketika satu persatu bayangan menyelimuti dirinya.
"Aarrgghh!!!"
Ethan berteriak sekuat tenaga memegang kepala, air matanya mengalir deras ketika sosok bayangan tua sedang tersenyum manis.
"Sa,,,sakiit!!!" Ucap Ethan dengan suara tercekat.
Semakin sakit kepalanya maka semakin banyak ingatan yang terkumpul, dari kepingan ingatan itu pula tuan Richard tersenyum mengerikan padanya.
Perlahan Ethan benar benar rapuh hingga tersungkur ke tanah yang seharusnya dingin tapi berubah panas karena kobaran api didekatnya.
"Kakak!!" Bayangan samar didepannya terlihat seperti penolong baginya.
Hingga akhirnya Ethan memejamkan mata karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit ditubuhnya, Vano langsung mengangkat tubuh Ethan kepangkuan nya.
"Ethan bangun hey kau dengar aku?" Vano menepuk wajah Ethan beberapa kali.
"Panggil ambulance Farel!!"
"Mereka ada diperjalanan sebaiknya kita jauhi tempat ini dulu karena ledakan susulan dari bahan bakar mobil ini sedikit lebih besar" ucap Farel.
Vano mengangkat tubuh Ethan sendirian tanpa bantuan Farel, hatinya seperti dihantam bebatuan keras melihat air mata Ethan kembali keluar dihadapan nya.
__ADS_1
Vallen keluar dari mobil dan melihat keadaan Ethan, Vano tidak ingin menyalahkan Vallen dan dia benci tidak bisa melakukan apapun.
"Tolong jangan sentuh dia jika kau hanya menyakiti nya" ucap Vano melemah.
Vallen mengurungkan tangannya memeriksa Ethan tapi tidak ada waktu lagi jika dibiarkan terlalu lama, Vallen kembali membuka pakaian pria itu.
"Ethan kau mendengar ku?" Vallen memberikan menepuk tangannya untuk melihat reaksi Ethan.
Tidak ada reaksi, Ethan tetap terbaring lemah dipangkuan Vano, keringat Vallen bercucuran melihat reaksi Ethan tidak ada sama sekali.
"Berapa menit ambulance akan datang?" Tanya Vallen.
"Aku memanggil ambulance terdekat dan dia hampir sampai" jawab Farel.
"Kenapa tidak kita saja yang kesana!!" Saut Vano frustasi.
"Aku sudah memanggilnya sebelum Ethan keluar dan mereka akan segera sampai, jika kita yang kesana akan memakan banyak waktu"
Vallen mendekatkan telinganya didada Ethan dan matanya terbelalak tidak mendengar detak jantung Ethan.
Vallen menekan nekan dada pria itu sekuat tenaga tapi tetap saja tidak ada reaksi.
"Mereka datang!"
Tim medis langsung keluar dan membawa tandu lalu memasukkan Ethan kedalam mobil. Dia langsung diberi perawatan medis disana.
"Aku akan ikut kalian susul dengan mobil saja" ujar Farel.
Vano mengangguk pasrah rasanya tidak ada nafsu untuk melakukan apapun melihat Ethan dipasangkan banyak selang ditubuhnya.
"Ayo" ajak Vano.
__ADS_1
Vallen mengangguk sembari khawatir menatap kepergian ambulance. Dia berharap Ethan mampu melalui ini dengan baik.