
"Ethan berikan seluruh jadwal Savero Group!"
Ethan mengambil iPad di meja lalu menggeledah isinya untuk mencari keinginan Vano.
"Hari ini seperti biasa meeting terus menerus, besok rapat dengan lembaga perlindungan anak karena mereka juga mengurus panti, lusa tuan Christin akan pergi keluar negeri untuk meeting rahasia dengan pembisnis disana, mm selanjutnya belum ada karena masih tidak diketahui tuan Christin akan pergi berapa lama" tutur Ethan.
"Meeting rahasia? Mengenai total aset dan saham kah?" Tanya Vano.
"Entahlah biasanya untuk masalah seperti itu memang dirahasiakan kan" jawab Ethan.
Vano mengambil ponsel lalu menghubungi tuan Christin untuk yang kedua kalinya.
"Halo kakek bisakah Vano menggantikan kakek untuk meeting diluar negeri?"
"Ta,,, tapi itu bukan meeting sembarangan"
"Hmm ternyata kau tidak percaya padaku, aku sedih" ucap Vano dengan nada lemah.
"Bu,,,bukan begitu tapi meeting kali ini sangat penting dan mungkin tidak bisa diwakili"
"Sudahlah kakek Vano sangat sedih saat ini, sudah ya kek Vano sepertinya akan menangis sebentar lagi" ucap Vano mendramatisir keadaan.
"Yaa!! Aiiihh datanglah sesukamu, hentikan tangisan bodoh itu!"
"Terimakasih kakek aku mencintaimu"
Vano langsung memutuskan sambungan setelah keinginannya terkabul, apa yang tidak pernah dikabulkan oleh tuan Christin atas keinginan cucu nya.
"Tunggu apalagi? Kosongkan jadwal satu minggu kedepan"
"Hey bagaimana dengan jadwal mu mengawasi keluarga Ferrero?"
"Itu hanya tipuan bodoh! Pesankan tiket pesawat secepat mungkin!"
"Tidak menggunakan pesawat pribadi?"
"Aku ingin menjadi manusia normal, pesawat pribadi membuat ku bosan dan terus mengingat Vallen sepanjang perjalanan, bakar saja pesawat itu tidak ada gunanya!" Jawab Vano ketus lalu keluar dari ruangannya.
"Kau kira yang dibakar pesawat mainan? Hey orang gila bodoh jika kau mengatakan pesawat nya dijual saja itu masih wajar tapi kalau di bakar mau dibakar dimana hah!!" Teriak Ethan kesal.
__ADS_1
***
Hari ini Vano pulang lebih awal dan bertapa diruang kerjanya, dia masih menyelidiki kasus bisnis yang ia curigai tidak benar itu.
"Ferrero Group tiba tiba ingin bekerjasama dengan Savero Group lalu kakek yang tidak pernah keluar negeri harus pergi hanya karena masalah saham? Kau yakin kakek mu hanya mengurus saham? Setau mu Savero Group tidak memiliki cabang diluar negeri bukan lalu kenapa urusan saham dan aset harus dibicarakan diluar negeri? Logikanya begini Vano keluarga Ferrero itu ada di luar negeri, alasan satu satunya adalah mereka ingin membangun bisnis secara diam diam dibelakang ku. Hmm pintar juga kalian tapi jangan lupa siapa aku" gumam Vano berbicara pada dirinya sendiri sedari tadi.
Vano mengambil ponselnya dan untuk kesekian kali menghubungi tuan Christin.
"Apalagi?" Tanya tuan Christin dengan sabarnya.
"Kakek panti asuhan akan Vano ambil alih, kalian tidak perlu mengurus anak anak lagi, katakan pada nenek untuk menyiapkan barang barang mereka" jawab Vano datar.
"Hey apa maksud mu, nenek mu pasti akan sangat sedih"
"Baiklah Vano tidak akan melakukan itu asal kakek melakukan satu hal untuk Vano"
"Ck apalagi Vano kau belum puas dengan sejuta keinginan mu"
"Jangan beritahu siapapun Vano yang menggantikan kakek, hanya Vano dan kakek yang tau jika ada satu orang yang mengetahuinya Vano jamin anak anak panti asuhan tidak akan bertemu dengan kakek dan nenek lagi"
Masalah ini cukup serius bagi tuan Christin, jika dia tidak menuruti keinginan Vano pasti istrinya Calista yang akan mendapat ganjarannya.
"Ahh terserah kau saja, kurangi kepintaran mu sedikit!!" Ucap tuan Christin sampai kesal.
Ceklek
"Papa!!"
Excel membuka pintu dengan mata membengkak sepertinya anak itu sedang menangis.
"Sayang ada apa?" Tanya Vano menggendong Excel dipangkuan nya.
"Kau jahat!! Kau akan meninggalkan ku!" Ucap Excel sesenggukan.
Vano sampai lupa dengan Excel karena urusan yang masih abu abu ini.
"Sayang kan ada nenek disini, ibu juga ada. Papa hanya pergi sebentar tidak lama"
"Huaaa tidak mau Excel ikut" Excel memukul mukul dada Vano.
__ADS_1
"Sayang papa bekerja disana, siapa yang akan menjagamu disana nanti mm?" Vano mencoba memberikan pengertian pada anak kecil yang sangat menggemaskan itu.
"Hiks,,,hiks papa jahat, jangan cari Excel lagi!!"
Excel turun dari pengakuan Vano lalu berlari ke kamar dengan air mata yang sudah penuh diwajahnya, Vano langsung menutup laptop lalu mengejar Excel.
Ceklek!
Excel menutup dirinya dengan selimut, tampaknya bocah itu sangat sedih akan ditinggal cukup lama untuk pertama kalinya.
"Excel" panggil Vano dengan suara lembut.
"Excel tidak ingin bertemu dengan papa pergi sana!" Usir Excel kesal.
"Sayang tolong papa kali ini saja, papa janji hanya sebentar. Ayo tulis apa saja yang kau inginkan papa belikan disana" ujar Vano.
"Tidak usah!! Papa pergi saja Excel mengizinkan"
Vano yakin Excel belum rela melepaskan Vano pergi.
"Papa puas sekarang? Pergi saja pa" ucap Excel.
Ceklek!!
Ethan masuk kedalam kamar Excel untuk memanggil Vano.
"Ayo sebentar lagi pesawat nya berangkat"
"Gunakan pesawat pribadi saja" ucap Vano karena ia tau Excel tidak akan mudah dibujuk.
Huuuhh
"Untung saja belum ku bakar" gumam Ethan.
"Hey bocah papa mu pergi hanya seminggu jangan berlebihan!"
"Diam ayah kenapa tidak ayah saja yang pergi papa jangan"
"Cihh sebenarnya siapa orangtua kandung mu disini hah kenapa kau lebih menyayangi Vano daripada aku!" Gerutu Ethan sembari menutup pintu.
__ADS_1
"Baiklah pa pergilah belikan Excel PS keluaran terbaru" ujar Excel akhirnya menyetujui kepergian Vano.
Vano tersenyum dengan persetujuan Excel, pasti berat untuk mereka tapi mau bagaimana lagi tuntutan pekerjaan ini membuat mereka harus terpisah sedikit lama.