
Beberapa menit kemudian Sarah telah dijemput oleh Vallen dan Zea, mereka langsung menuju tempat tujuan yaitu cafe yang tidak terlalu jauh dari kampus.
"Sementara menunggu teman teman ku datang kalian ingin pesan makanan?" Tanya Zea sembari meletakkan tasnya di sofa.
"Mm minuman saja cukup" jawab Vallen.
Zea mengangguk lalu memesan tiga minuman untuk Vallen dan Sarah sekaligus dirinya, suasana cafe itu cukup sepi sehingga Zea tidak perlu mengantri untuk mendapat pesanan nya.
"Silahkan di minum" ucap Zea memberikan jus alpukat dan jeruk pada kedua temannya.
"Terimakasih" kata Vallen dan Sarah bersamaan.
"Mm teman teman ku belum datang rupanya" ucap Zea memperhatikan pintu masuk cafe.
"Mungkin sebentar lagi kita tunggu saja sebentar" kata Vallen.
Zea mengangkat bahu sambil memainkan ponsel menunggu teman kelompoknya, mereka sama sama sibuk dengan ponsel masing-masing karena Vallen harus stay menghubungi Vano setiap saat, pria itu benar benar manusia gila telat sedikit saja Vallen membalas pesannya maka ponsel gadis itu akan penuh dengan spam chat.
Dan Sarah? Tentu dia juga sibuk mengawasi Ethan dari jauh, pria nekat itu bisa saja menghabisi kakeknya sendiri jika tidak diperingati terus menerus.
"Hey aku merasa berdosa" ucap Zea melepas ponselnya.
"Kenapa?" Tanya Vallen ikut melepas ponsel.
__ADS_1
"Sebenarnya kak Farel tidak memberi ku izin untuk datang kemari tapi disisi lain aku sedang perlu" jawab Zea bingung dengan pikiran yang mengganggunya.
"Bukankah ketika seorang perempuan menikah baktinya akan berpindah pada suami" kata Vallen menatap Zea.
"Itu yang ku pikirkan, apa kita kembali saja?" Tanya Zea gusar sekaligus merasa bersalah
"Tapi bagaimana dengan teman teman mu Zea?" Saut Sarah masih nyaman dengan sedotan dibibir nya.
"Mm undang saja mereka kerumah, kerjakan tugas dirumah" ucap Vallen.
"Bodohnya aku kenapa hal itu tidak terlintas di kepala ku" gumam Zea kesal.
"Baiklah habiskan minuman kalian terlebih dahulu baru kita kembali"
Zea membuang sedotan jusnya ketika tidak sengaja matanya melihat seseorang sedang memesan tempat duduk di resepsionis.
"Farel Alexander" ucap Zea menatap suaminya sendiri.
Vallen dan Sarah kompak menghadap belakang dan melihat Farel sedang bersama seseorang.
"Itu pasti rekan kerjanya Zea" kata Vallen menatap Zea.
"Mungkin" jawab Zea sangat tenang seakan tidak terjadi sesuatu pada hatinya.
__ADS_1
"Mm apa tidak sebaiknya kita pindah tempat?" Tanya Sarah memberikan usul.
Suasana seperti itu sangat canggung bagi ketiganya, Zea pun terlihat diam melihat Farel ternyata memesan tempat VIP di dalam ruangan.
"Tunggu disini aku ingin ke toilet sebentar" kata Zea.
Dengan polosnya Vallen dan Sarah mengiyakan perkataan Zea, mereka sebenarnya khawatir dengan Zea tapi gadis itu tidak pernah memperlihatkan kesedihannya didepan orang lain.
Seperti yang sudah ditebak Zea tidak pergi ke toilet melainkan mendekat ke arah ruang VIP. Ada rasa takut tapi penasaran juga dengan pembicaraan di dalam.
"Maaf nona anda tidak boleh masuk kedalam" ucap salah satu pelayan yang menjaga ketat ruangan itu.
"Apa didalam ada tuan Farel Alexander?" Tanya Zea.
"Maaf nona silahkan kembali ke tempat anda" jawab pelayan.
Zea menganggukkan kepala pelan sambil memutar tubuh namun matanya sudah menyala membelakangi pelayan itu.
Zea menatap sisi sisi bangunan restoran terlebih dahulu untuk memastikan apakah ada cctv disana namun setelah ia memperhatikan memang ada cctv tapi tidak mengarah pada ruangan VIP, dia tidak ingin ayahnya tau bahwa Farel mengajar nya bela diri akhir akhir ini untuk melindungi diri.
Zea mengeluarkan seringainya lalu berlari ke arah pintu ruang VIP dengan tendangan kaki yang cukup keras pada masing-masing pelayan.
***
__ADS_1
dududu