
Dan dua hari kemudian masih belum ada perkembangan dari Ethan, dia dinyatakan koma karena mengalami tekanan berat diotak nya.
Itupun masih untung dokter menyelamatkan nya tepat waktu sebab saat berada didalam ambulance jantung Ethan sudah melemah.
Vano, Vallen, dan Sarah menunggu Ethan sadar 24 jam tanpa henti, dia menyerahkan urusan kantor pada Farel padahal perusahaan mereka berbeda.
Vano tidak bisa meminta bantuan pada abinya karena ia menjaga rumah beserta Rifka dirumah kedua, keadaan cukup menegangkan sehingga para wanita dirumah itu harus dijaga ketat.
"Masih tidak ada perubahan" ucap Vano mengusap wajahnya disofa rumah sakit.
Kata dokter pun tidak bisa dipastikan kapan Ethan sadar jadi Vano khawatir jika sewaktu-waktu Ethan mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
"Sudah kukatakan jangan lakukan itu kenapa kau terus saja melakukannya Vallen" ujar Sarah sembari menatap suaminya.
Vallen menatap jam tangannya sedari tadi, ia tidak berbicara sepatah katapun selain mengambil air minum selama beberapa kali.
"Vallen apa yang kau lihat?" Tanya Vano heran melihat istrinya hampir tidak pernah berbicara dua hari ini selain menatap jam tangannya.
Vallen menggelengkan kepala lalu kembali meneguk air minumnya.
Saat detik menuju 50 jam Vallen membuang botol minuman lalu mengambil alih posisi Sarah, dia memegang tangan Ethan.
"Hey apa yang,,,"
Vallen memejamkan mata memberi isyarat pada Vano dan Sarah agar tidak bersuara, Vallen mencoba konsentrasi dan mulai merasakan gerakan tangan Ethan.
Senyum tipis nya keluar saat telunjuk Ethan memberikan reaksi.
"Bisa panggilkan dokter?"
Sarah mengangguk lalu keluar memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Ethan.
Dalam diri Ethan suara tawa mengerikan dan darah bercucuran itu membuat matanya sangat berat untuk terbuka, bayangan gadis cantik, wanita dan pria paruh baya itu tersenyum padanya seakan-akan meyakinkan Ethan untuk kembali.
Vano mendekati Ethan sembari menunggu kedatangan dokter. Pria itu mengusap keringat dingin Ethan dengan tangan nya.
'selamatkan aku Vano'
Dalam bayang bayang gelap itu Ethan menyadari kehadiran Vano.
"Kau baik-baik saja? Bukalah mata mu" ucap Vano kembali mengelus kening Ethan.
__ADS_1
'aku mendengar mu tapi aku tidak bisa menjawab ucapan mu'
Tak lama dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Ethan dengan beberapa suster di belakang.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" Tanya dokter intan panik.
"Sama seperti hari sebelumnya dokter, ada apa?" Tanya Sarah balik.
"Sebaiknya kalian keluar terlebih dahulu"
"Tidak dokter,,,"
"Nona ini untuk kebaikan kita semua"
Walau ikut khawatir Vallen mengajak Sarah untuk keluar lebih cepat lebih baik.
"Tuan,,,,"
"Jangan halangi aku, lakukan tugas mu!!" Ucap Vano langsung memotong kalimat dokter intan.
"Tapi tuan,,,,"
"Intan!!"
"Suster kau sudah menyuntikkan obat kedalam infus?"
"Sudah dok"
Dokter intan kembali memeriksa denyut nadi Ethan yang semakin lama semakin lemah.
"Hey ada apa kenapa dengan denyut nadinya" jantung Vano berpacu kencang melihat kearah monitor.
Dokter intan juga melihat apa yang sedang Vano tatap, dia langsung membuang stetoskopnya lalu merobek pakaian rumah sakit milik Ethan.
"Suster siapkan alat pemacu jantung"
Vano semakin gusar melihat monitor dengan garis lurus dan dokter intan yang mencabut seluruh alat yang menempel di dada Ethan.
"Ethan jangan bercanda jangan lakukan ini padaku" ucap Vano.
Percobaan pertama Ethan masih tetap sama.
__ADS_1
"Ethan jangan pergi hey!!" Vano berjalan cepat mendekati kepala Ethan dari samping ranjang.
Vano langsung memeluk kepalanya dengan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Kau lebih berharga dari seluruh aset ku Ethan bangun, jangan tinggalkan aku sendiri tolong buka mata mu" kata Vano dengan suara tercekat mencium kening Ethan yang sudah pucat.
"Adik ku kau pasti kuat, kau bisa Ethan buka matamu sayang" ucap Vano memegang wajah Ethan namun tetap saja tidak ada reaksi.
Percobaan kedua pun sama, tidak ada reaksi apapun malah tubuhnya sedikit dingin sekarang.
"Maaf tuan,,,,"
"Ethaan!!" Vano kembali memeluk pria itu dengan erat, dia tidak ingin mendengarkan penjelasan dokter intan.
"Kau ingin meninggalkan ku secepat ini? Aku tidak bisa menangani dunia sendirian Ethan. Aku berjanji aku akan melindungi mu melebihi nyawaku sendiri tapi kau harus bangun sekarang" Vano semakin frustasi melihat wajah wajah suster yang sudah putus asa.
"Kau ingin apa? Akan kuberikan padamu, kau ingin harta ku? Ambil Ethan semuanya juga boleh. Kau ingin keluarga ku? Ambil sayang semuanya milik mu tapi aku hanya meminta satu sadarlah. Kau sangat berarti dihidup ku Ethan, aku menyayangimu melebihi diriku sendiri"
Vano menangis sekuat tenaga nya, persetan dengan banyak orang ia sudah hilang kendali melihat kondisi Ethan saat ini.
Dokter intan melihat kemistri yang sangat erat dalam tubuh keduanya, walaupun Ethan sudah dinyatakan tidak bisa terselamatkan air matanya meluncur bebas ke wajahnya.
Melihat reaksi Ethan dokter intan kembali berusaha menggunakan kesempatan terakhir kali untuk memicu jantung Ethan lagi.
Saat alat itu menempel didadanya Ethan seperti terkena setrum, tubuhnya terangkat keatas lalu kembali lemah namun kali ini berbeda, monitor tadi kembali seperti semula, garis merah itu hilang.
"Ethan" Vano mengusap air matanya melihat monitor tersebut.
Ajaib nya pria itu langsung memberikan reaksi dengan menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit.
Melihat itu jantung Vano juga terasa lega dan berpacu seperti biasa walau tubuhnya masih gemetar.
"Panggilkan Vallen dan Sarah jika Ethan sudah bangun" ucap Vano lalu pergi ke kamar mandi.
Dia tidak perlu mendengar penjelasan dokter intan karena mata Ethan mulai terbuka terakhir kali ia menatapnya dan dia tidak ingin Ethan melihat nya seperti itu jika pria itu sudah membuka mata nantinya.
Didalam kamar mandi Vano mengunci pintu lalu bersandar, tubuhnya masih gemetar hingga ia terjatuh kebawah.
"Aku dan dia berbeda, Maafkan aku terlalu menyayangi nya Tuhan. Terimakasih banyak telah memberikan kesempatan padanya" ucap Vano masih belum bisa mengontrol emosi ditubuhnya.
Dia terus merengkuk menangis, Vano masih membayangkan bagaimana jika Ethan pergi dan ini adalah hari terakhirnya, Vano hampir gila memikirkan itu.
__ADS_1
***
ðŸ˜ðŸ˜