Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 66


__ADS_3

Dokter sudah memeriksa Vallen didalam ruangan, Vano merenggut rambutnya frustasi, jika terjadi sesuatu dengan Vallen ia akan menghakimi dirinya sendiri nantinya.


Ya Tuhan jangan lakukan ini pada ku. Batin Vano.


Dari lorong lorong ruangan rumah sakit Vino berjalan menemui putranya, ia memang marah pada Vallen tapi rasanya itu tidak sepenuhnya salah Vallen.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Vino menepuk pundak putranya.


"Abi bagaimana keadaan umi?" Tanya Vano balik.


"Alhamdulillah baik baik saja untungnya Vallen tidak sampai menusuk wajah istriku" jawab Vino.


"Vallen bagaimana?"


"Dokter sedang menangani nya" jawab Vano menangkap wajahnya


"Kau melukainya?"


"Aku menusuknya Abi" jawab Vano ingin menangis didepan abinya.


"Dasar bodoh!! Harusnya kau tidak bertindak ceroboh seperti itu!!" Ucap Vino kesal karena putranya itu selalu berbuat persis seperti dirinya bahkan lebih dari itu.


"Apa semuanya baik baik saja Abi?" Tanya Vano mengalihkan pembicaraan.


"Tidak dengan Zea, sepertinya dia mengalami trauma" jawab Vino sendu.

__ADS_1


"Zea?" Vano langsung berlari menuju ruangan Zea, gadis itu sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Tante Zea,,,,,"


Zoya membisu sesenggukan dipelukan Andre, Andre sendiri memberikan isyarat pada Vano bahwa ruangan Zea ada didalam.


Vano langsung masuk kedalam kamar itu, didalam sudah ada Farel dan Ethan yang menjaga adiknya. Kedua tangan Zea sengaja diikat agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Pergi!!!" Teriak Zea menatap tiga pria didepan nya.


"Sudah ku bilang pergi!!!"


Ethan sebagai seorang kakak bertanggung jawab penuh atas kondisi adik nya saat ini.


"Sayang ini kakak kau tidak mengenal ku?" Ethan memeluk Zea dengan erat walaupun pundaknya menjadi sasaran keganasan gigi adiknya itu.


"Hey jaga mulutmu!!" Ethan semakin mengeratkan pelukannya terhadap Zea.


"O,,, orang itu kak"


"Ssstt kau baik-baik saja, anggap dia tidak pernah menyentuh mu" kata Ethan menenangkan adiknya.


"Bagaimana mungkin, dia merobek dan mencium Zea kak!! Dia,,,," Zea menyembunyikan wajahnya di bahu Ethan, dia terlalu malu menampakkan wajah kotornya di hadapan Vano dan Farel.


Setan kurang ajar, siapa yang berani menyentuh adik ku sudah pasti tidak akan selamat!!. Batin Ethan mengobarkan api dimatanya.

__ADS_1


"Keluarlah aku bisa menangani adik ku sendiri" ucap Ethan pada Vano dan Farel.


Keduanya mengangguk lalu keluar sesui perintah, Ethan jauh lebih berhak atas Zea daripada keduanya dan Zea tidak ingin bertemu dengan siapapun kecuali Ethan.l


Disaat keadaan benar benar kacau seperti ini, Vano bingung harus menemui siapa terlebih dahulu tapi Vano merasa uminya adalah satu satunya orang yang sedang ingin ia temui saat ini selain Vallen.


Ceklek


Vano langsung memeluk Vira yang sedang beristirahat di dalam ruangan, tentu Vira ingin keluar namun di larang bahkan diharamkan oleh Vino sang mahluk overprotektif itu.


"Umi!" Panggil Vano dengan lemah.


"Sayang apa Vallen baik baik saja? Dia tidak dibawa pergikan" ujar Vira mengelus rambut putranya.


"Vallen ditusuk umi" kata Vano dengan suara tercekat.


"Astaghfirullah lalu dimana dia sekarang, siapa yang menusuk nya!" Ucap Vira dengan wajah khawatirnya.


"Va,,, Vano"


"Kau pasti mengira Vallen yang sudah melukai umi bukan? Jawabannya tidak sayang, Vallen adalah orang yang menyelamatkan Zea dari pelecehan pria itu" Tutur Vira dengan lembut.


Benar dugaan Vano bahwa seseorang telah masuk kedalam rumahnya, pantas saja banyak pengawal yang tergeletak pingsan.


Aura iblis Vano keluar diiringi langkahnya meninggalkan ruangan Vira, kakinya berjalan keluar rumah sakit dengan tatapan mengerikan hingga beberapa pengunjung enggan menatap Vano.

__ADS_1


"Aku ikut!!" Ucap Farel masuk tanpa izin Vano.


Tidak peduli dengan Farel, Vano menancap gas kearah rumahnya untuk menemukan bukti bukti.


__ADS_2