
Ketika suasana mulai kondusif, Vano kembali ke ruangannya menemui Vallen namun gadis itu tidak ada diruangan Vano.
Vano panik keluar ruangan mencari Vallen di seluruh sudut kantor namun tidak terlihat sosok gadis kecilnya, Vano semakin panik ketika Ethan juga mengatakan tidak melihat Vallen selama beberapa menit ini.
"Bodoh!!! Aku menyuruh mu menjaganya!!" Ucap Vano kesal lalu meninggalkan Ethan.
"Kenapa se khawatir itu Vallen kan,,,," Ethan menggelengkan kepalanya melihat wajah Vano lalu kembali duduk santai mengerjakan pekerjaan nya.
Disisi lain tepatnya dipinggir jalan raya, Vallen sedang berjalan jalan menikmati keindahan jalanan yang dipenuhi pejalan kaki.
Tin,,,tin,,,tin
Vallen langsung menyingkir ke pinggir jalan saat mendengar suara klakson mobil dibelakangnya.
"Hay!!" Sapa Rafi dari dalam mobil.
"Rafi?"
"Lama tidak berjumpa kau kemana saja?" Tanya Rafi diiringi senyum manisnya.
"Dirumah, ini siapa?" Tanya Vallen balik menunjuk gadis disamping Rafi.
"Kekasihku, masuklah!" Ucap Rafi.
"Tidak mau" tolak Vallen, ia paham jika pergi terlalu jauh maka Vano akan murka.
"Ayolah, akan ku perkenalkan pada kekasih ku setelah kita menemukan restoran" ujar Rafi memelas.
Vallen berpikir sejenak sebelum iya menganggukkan kepala menyetujui ajakan Rafi. Mereka menuju salah satu restoran dekat kantor Salvatrucha, Rafi sengaja membawa Vallen tidak terlalu jauh dari tempatnya seperti di awal.
__ADS_1
"Baiklah Vallen perkenalkan ini Rifka kekasihku dan Rifka perkenalkan ini Vallen teman ku" kata Rafi memulai percakapan.
"Hay aku Rifka" sapa Rifka mengulurkan tangannya.
"Vallen"
"Dimana kalian bertemu?" Tanya Rifka antusias.
"Kau ingat waktu aku membeli es krim tapi tidak mendapat apa yang kau inginkan?" Tanya Rafi balik.
Rifka mengangguk.
"Dia mematahkan kartunya lalu memberikan setengah pada pelayan dan aku membantunya membayar es krim' ucap Rafi menatap Vallen dengan senyum.
Rifka hampir tidak percaya cerita dari Rafi namun ketika melihat kepolosan Vallen Rifka harusnya percaya gadis itu melakukannya.
Ditengah tengah asik berbicara tiba tiba ponsel Rifka berbunyi, ia menjauh untuk mengangkat ponselnya.
Huuhh
"Sayang ayah memang benar benar cerewet, dia mengharuskan ku ikut keluar negeri dan pesawat nya akan berangkat satu jam lagi jadi aku harus pergi sekarang, bye!!" Ucap Rifka lalu mencium kening Rafi sebelum ia berlalu.
"Hey tidak ingin diantar!?" Teriak Rafi.
"Antar Vallen saja sayang kasihan harus berjalan kaki!!" Teriak Rifka dari balik pintu restoran.
Vallen terus memperhatikan tingkah Rifka yang mencium kening Rafi, dia baru pertama kali mendapat ilmu seperti itu dan tidak pernah dilakukan oleh Vano.
"Kekasih ajaib" gumam Rafi tersenyum geli membayangkan wajah cantik Rifka.
__ADS_1
"Kekasih? Bukankah kekasih itu serangga? Apa Rifka adalah serangga ajaib?" Gumam Vallen mencoba berpikir lebih dalam namun tak kunjung menemukan intinya.
"Kekasih itu apa?" Tanya Vallen pada Rafi.
"Kekasih itu seorang yang menjalin hubungan dengan kita" jawab Rafi mulai membuat perisai untuk kesabarannya.
"Apa seperti kita?" Tanya Vallen.
"Bukan, kita adalah sahabat bukan sepasang kekasih. Memang nya kau ingin menjadi kekasih ku!" Goda Rafi diakhir kalimat.
"Ti,,,,"
Braakk!!!
Vano menendang meja tempat Rafi dan Vallen sedang duduk, matanya tak bisa terbaca melihat Vallen berdua dengan seorang pria.
"Sekolah menengah atas milik Salvatrucha, kau bisa mengambil surat pindah besok pagi" ucap Vano menggandeng lengan Vallen.
"He,,, hey kau,,,"
"Dan katakan pada kepala sekolah untuk menghapus seluruh jejakmu disekolah itu!!" Ujar Vano memotong kalimat Rafi.
"Vano sakit lepaskan dulu" bisik Vallen.
Vano semakin menguatkan cengkraman nya dilengan Vallen.
"Aw aw!! Baik aku diam" ucap Vallen menutup rapat mulutnya.
Vano langsung menyeret Vallen keluar restoran dan membawanya kembali kerumah, tidak terlalu baik jika gadis secantik Vallen dilihat oleh banyak orang.
__ADS_1