
Sampai di bandara Vano langsung masuk kedalam namun ia beristirahat sebentar diruang tunggu.
Sementara supir yang mengangkut barang barang milik Vano dan Ethan harus memasukkan nya kedalam terlebih dahulu baru bisa pulang.
"Tu,,,tuan muda anda,,,,"
"Huusstt!!" Excel berusaha membuat ekspresi wajah supir itu biasa biasa saja.
"Tuan muda anda sedang apa disini?" Tanya supir.
"Bisa diam tidak!!"
"Tuan muda saya pasti akan dipecat jika mereka tau tuan muda ada disini"
"Hay pak supir sapa Tristan dari belakang koper"
Supir itu hampir pingsan melihat dua tuan muda sedang berbuat ulah, mereka pasti akan mengacaukan dunia beberapa jam berikutnya.
"Papa dimana?" Tanya Excel.
"Diruang tunggu tuan tapi tolong jangan berbuat apapun tuan muda" jawab sang supir.
"Paspor mu dimana?" Tanya Excel pada Tristan.
Tristan mengeluarkan paspornya dari tas yang berbentuk Pikachu.
"Semuanya sudah lengkap?"
Tristan mengangguk datar seperti wajah papanya, ntah bagaimana reaksi Farel jika ia tau rencana busuk putranya.
"Baiklah ayo masuk" ajak Excel.
Keduanya turun dari mobil dengan masing masing tas ransel yang berbentuk hewan.
"Kurasa kita tidak akan diizinkan masuk untuk melakukan penerbangan" ucap Tristan.
"Apa gunanya bapak ini" jawab Excel santai.
"Bunuh saya saja tuan muda itu lebih baik" ucap supir tersebut.
"Jangan mendramatisir suasana cepat antar kami!"
Supir itu terpaksa mengantar Excel dan Tristan sampai kedalam, keduanya dinobatkan sebagai penumpang termuda yang melakukan penerbangan.
Sedangkan didalam ruang tunggu Vano dan Ethan keluar dan melakukan seluruh pengecekan paspor dan barang barang lalu naik ke pesawat.
"Berikan iPad mu" ucap Vano duduk di kursi.
"Apa dugaan mu benar? Aku yakin ini semua hanya dugaan semata" kata Ethan.
__ADS_1
"Aku penasaran siapa penerus Ferrero, jika sampai itu suami dari Vallen aku akan membunuhnya secepat mungkin, setampan dan sekaya apa dia sampai sampai posisi ku tergantikan"
"Itu hanya dugaan bagaimana jika penerusnya Vallen sendiri?"
"Tidak mungkin, dia bodoh" jawab Vano singkat padat dan jelas.
"Ck!!" Ethan berhenti berbicara soal perusahaan, dia mengantuk mengurus segalanya dari pagi sampai larut seperti ini.
"Masuk ke kamar saja jika kau ingin tidur" ucap Vano.
Ethan mengangguk lalu pergi ke kamar yang biasa ia tempati.
"Maaf tuan kamar ini sudah ditempati"
Ethan mengernyitkan dahi menatap Vano dan pramugari itu secara bergantian.
"Vano kau ingin menukar tempat tidur?" Tanya Ethan.
"Jangan gila kenapa juga aku melakukan itu" jawab Vano sembari memperhatikan iPad nya.
"Lalu siapa didalam?" Tanya Ethan.
Dia membuka pintu kamar tersebut lalu menyalakan lampu, matanya terbelalak melihat Excel dan Tristan sedang tidur sambil berpelukan sembari menghisap jempolnya.
"Aaa!!!"
Vano membuang iPad nya lalu berlari ke kamar Ethan.
"Bagaimana bisa mereka disini?" Tanya Vano masih tidak percaya bisa melihat dua anak itu disini.
"Berhenti, apa kita bisa kembali dulu? Cepat kembali!!" Ucap Ethan.
"Maaf tuan itu akan sangat berbahaya, kita sudah berada di atas ketinggian"
Vano dan Ethan ingin sekali membangun kan dua anak itu lalu mengintrogasi mereka tapi wajah lelah mereka mencuri paspor dan visa sangat terlihat saat ini.
***
Keduanya sampai di Inggris, perjalanan mereka memakan waktu cukup lama hingga sampai dihotel, Vano harus menggendongnya Excel sedangkan Ethan menggendong Tristan.
"Hubungi Farel mereka pasti khawatir karena Tristan dan Excel menghilang"
Ethan mengangguk lalu menghubungi Farel segera.
"Halo? Sebaiknya kau tidak menghubungi ku sekarang, Tristan dan Excel menghilang"
"Bagaimana tidak hilang mereka ikut kami ke Inggris!"
"Apa!! Inggris?"
__ADS_1
"Ya kau bisa menjaga anak mu tidak!" Jawab Ethan kesal padahal ia sendiri tidak berkaca.
"Aku akan menjemput mereka sekarang"
"Ck ahh tidak usah biarkan saja sudah terlanjur juga, beritahu orang rumah mereka tidak perlu khawatir soal Excel dan Tristan mereka baik baik saja, sudah ya lengan ku sakit menggendong putramu sampai hotel" tutur Ethan panjang lebar lalu memutuskan sambungan.
"Mmmhh Tristan bangunlah sepertinya kita sudah sampai ayo keluar dan pesan hotel" ucap Excel dengan suara serak.
"Kau saja aku tidak tau caranya memesan hotel"
"Ya aku juga begitu"
Nyawa keduanya masih belum terkumpul semua jadi mereka tidak sadar jika tatapan Vano dan Ethan sudah cukup menakutkan untuk seusianya keduanya.
"Bagus!!" Ucap Ethan.
Keduanya langsung membuka mata dan bangun dengan cepat, sambutan tatapan tajam sudah mereka terima.
"Pa,,,papa"
"Papa tidak marah tolong jelaskan bagaimana cara mu mengurus perlengkapan untuk terbang?" Ucap Vano dengan senyum tipis.
"Papa janji tidak marah?"
"Janji"
"Mm hehe Excel meracuni otak ibu untuk mengurus segalanya, Excel bilang ingin ikut ayah ke Inggris karena ayah suka melirik gadis seksi" tutur Excel tercengir kuda.
"A,,,apa?" Ethan sendiri sampai tercengang mendengar penuturan putranya.
"Hehe" keduanya kembali tercengir kuda dengan tatapan polos.
"Aaiihh membuat ku kesal saja padahal orang yang paling setia adalah aku" ucap Ethan semakin kesal dengan alasan dua bocah itu.
"Haahh sebenarnya papa tidak ingin marah tapi karena perbuatan kalian sudah diluar nalar terpaksa papa memberikan hukuman untuk kalian" ujar Vano sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
Keduanya menunduk layaknya anak kecil yang melakukan kesalahan.
"Om kami hanya ingin liburan disini, lihatlah kami sudah membawa bekal dan pakaian ganti" saut Tristan membuka ranselnya.
Alih alih marah keduanya terlihat menggemaskan Dimata Vano, bagaimana bisa orang akan marah jika wajah polos mereka sudah seperti ini.
"Kalian harus tetap menjalani hukuman, hukuman nya adalah kalian tidak boleh pergi kemanapun saat papa tidak disini, jika ingin makan sesuatu hubungi pelayan hotel dan jika ingin melakukan sesuatu hubungi papa terlebih dahulu"
"Hanya itu?" Tanya keduanya serempak.
"Iya tapi kalian harus berjanji tidak akan melanggar hukuman papa"
"Oke" keduanya melakukan tos karena hukuman mereka tidak terlalu berat, diam dihotel juga tidak terlalu masalah karena dihotel cukup asik untuk bermain.
__ADS_1
***
sabar dulu kenapa si 🔪🌝