Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 39


__ADS_3

Beberapa saat menunggu hasil, dokter intan keluar dengan peralatan nya. Diluar Vano sudah menunggu mondar mandir kesana kemari dengan wajah gelisah.


"Bagaimana dokter? Dimana alat itu? Apa sudah bisa dilacak? Atau bisa dikeluarkan?" Tanya Vano bertubi tubi.


"Be,,,begini tuan, saya sudah berusaha mencari alat yang anda maksud. memang sudah saya dapatkan dimana letaknya namun saya tidak bisa mengeluarkan nya karena alat itu ditanam didalam tubuh nona" jawab dokter intan menjelaskan kejadiannya.


"Dibagian mana dia meletakkan alat itu?" Tanya Vano khawatir.


"Didekat jantung" jawab dokter intan.


Braakk!!!!


"Dekat jantung? Kau berbohong padaku!!" Ucap Vano sedikit berteriak.


"Ti,,, tidak tuan" dokter intan mulai panik karena Vano ingin mendekati nya untuk hal entah apalah itu.


"Tidak bohong, memang benar" saut Vallen dari dekat anak tangga.


Vallen sudah tau situasi nya akan seperti ini dan dia harus menyelamatkan dokter intan secepat mungkin.


"Vallen kau baik-baik saja? Apa sakit? Dimana yang sakit?" Tanya Vano mendekati Vallen dan memutar tubuhnya.


"Aku baik baik saja? Lihat!" Jawab Vallen membuka bajunya dan hanya tersisa tangtop yang menutupi tubuhnya.


"Ma,,, maksud ku bukan begitu, pasang bajumu!! Dan kau (menunjuk Ethan) apa belum merasakan kehilangan bola mata? Jangan menghadap kesini!" Ujar Vano kesal membelakangi Vallen.


Vallen mengangkat bahunya lalu memasang kembali pakaiannya dibelakang Vano karena pria itu spontan menyembunyikan Vallen agar tidak terlihat siapapun.


"Sudah" kata Vallen setelah selesai memasang bajunya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana langkah selanjutnya apa alat itu bisa dikeluarkan? Jika bisa lakukan sekarang!" Titah Vano kembali ke pembicaraan awal.


"Saya sudah menonaktifkan alat itu tuan dan sesegera mungkin saya akan keluarkan alat itu tapi maaf dengan sebesar-besarnya karena saya tidak bisa melakukan pembedahan dirumah anda karena alat saya berada dirumah sakit" tutur dokter intan meremas baju kebesaran dokternya.


"Ethan siapkan mobil sekarang! Alat itu harus keluar hari ini juga!" Ucap Vano.


"Baik"


Perintah Vano Salvatrucha sudah dijalankan oleh masing-masing dari mereka, Ethan menghubungi Zea adiknya untuk ikut kerumah sakit menemani Vallen atas perintah sang bos.


Tak sampai sepuluh menit semua sudah siap baik itu mobil dan Zea. Mereka berangkat menuju rumah sakit, seperti biasa jika sedang berada diatas mobil Vallen selalu memperhatikan jalan, itu sudah tradisi yang dilakukan Vallen bahkan sebelum mengenal dunia cerah.


Sesampainya dirumah sakit mereka keluar bersamaan, bisa dibilang ini pengalaman pertama Vallen kerumah sakit.


"Ayo Vallen" Zea menggandeng lengan Vallen dengan erat.


"Ini apa?" Tanya Vallen bingung.


Vallen mengangguk-anggukkan kepala melihat situasi sekitar.


"Aaaaahh!!!!!!!" Vallen terkejut dengan suara teriakan yang sangat keras.


Matanya langsung mencari suara teriakan itu, gandengan tangan Zea pun terlepas dari tangannya untuk mencari sumber suara.


"Aaahhh toloongg!!!" Teriak seseorang dari sebuah ruangan.


Brraaakkk!!!!


Vallen mendobrak pintu ruangan untuk menyelamatkan orang yang sedang berteriak disana.

__ADS_1


Buugghh!!!


Vallen menghajar habis seorang dokter yang sedang menangani persalinan ibu hamil, wajah dokter itu lebam karena pukulan Vallen.


"Hey Vallen kembali!!" Ucap Vano dari luar ruang persalinan, ia tidak bisa masuk karena ruangan itu sangat berbahaya bagi kesehatan matanya.


"Zea cepat masuk sebelum dia menewaskan dokter itu!!" Saut Ethan panik.


"Tidak berani kak, Vallen sangat mengerikan" ucap Zea memeluk Ethan trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu ketika ia melihat Vallen berubah buas.


Buugghh!!!


Entah itu pukulan yang keberapa kali hingga dokter itu lemas tak berdaya.


"Kau berani menyakiti seorang wanita gendut!!" Teriak Vallen emosi.


"Aaaa!!!! Nona biarkan dia membantu ku mengeluarkan bayi ini!!" Teriak ibu yang sudah hampir sekarat ditambah dengan kejadian Vallen memukul dokter yang membantunya.


"Diam!! Kau sudah disakiti olehnya maka,,,,,aaaa!!!!!" Vallen histeris melihat kepala bayi sudah berada diujung tanduk.


"A,,,apa itu aku tidak ingin melihatnya!!" Teriak Vallen segera keluar dari ruang persalinan.


Vallen berlari meninggalkan Vano keluar rumah sakit dan masuk kedalam mobil berusaha menghilangkan jejak jejak ingatannya tentang kepala bayi tadi.


"Hey kau baik-baik saja?" Tanya Vano menghampiri Vallen didalam mobil.


"Tidak ingin kerumah sakit!! Tidak mau!!" Ucap Vallen menggelengkan kepalanya.


"Hey kau kerumah sakit untuk mengeluarkan alat" ujar Vano menenangkan Vallen.

__ADS_1


"Tidak mau mengeluarkan anak manusia tidak mau!! Ayo pulang!!" Kata Vallen meraung raung.


Vano mengeryitkan dahi melihat Vallen ketakutan seperti itu padahal hanya mengeluarkan alat bukan mengeluarkan bayi seperti yang ia kira, Vano menepuk keningnya telah salah mengambil langkah harusnya Vano menyuruh dokter intan untuk membawa alat itu bukan membawa Vallen kerumah sakit.


__ADS_2