
Sarah bernafas lega setelah menyentuh darah orang yang telah membunuh orangtuanya, tapi Ethan tidak bisa mengatakan bahwa bukan Pian yang membunuh orangtua Sarah melainkan tuan Richard.
Dia belum siap melihat keganasan Sarah, sekarang saja para pengawal tidak ada yang berani menatapnya apalagi dia tau yang sebenarnya mungkin Ethan pun tidak bisa menenangkan Sarah.
"Cukup!! Sudah puas bermain-main istriku?" Tanya Ethan datar.
Sarah mengangguk pelan namun tatapan nya pada tubuh Pian belum bisa teralihkan.
"Pengawal!!" Ethan memberikan isyarat untuk memindahkan jasad Pian.
Sembari memindahkan jasad Pian, Ethan melihat wajah tuan Richard.
"Apa kabar kakak ipar, senang bertemu dengan mu" ujar Ethan dengan seringainya.
"Cihh!!"
"Jangan terlalu sombong kakak ipar kau sangat naif"
Walaupun Sarah tidak tau arah pembicaraan mereka tapi ia tetap menyimak satu persatu Kalimat Ethan.
"Kesalahan terbesar ku adalah tidak membunuhmu waktu itu" kata tuan Richard.
"Yaa itu kesalahan fatal tapi bagiku ini memang sudah jalannya agar kau mati"
"Berapa ratus orang korban mu Richard! Pertama kakak ku kedua aku, Vallen, Vano, Sarah, dan bejatnya lagi kau juga menyiksa anak mu sendiri kau punya hati tidak!!" Ujar Ethan geram.
"Tidak punya, kenapa? Kau ingin membunuh ku? Silahkan Leonard aku tidak takut mati!!" Gertak tuan Richard tanpa takut dengan beragam senjata diatas meja.
"Siapa bilang aku akan membunuhmu, sakitnya hanya beberapa saat"
Ethan berdiri dan mengambil satu kotak benda yang tidak diketahui isinya. Dia kembali mendekati tuan Richard lalu membuka isi kotak tersebut.
"Lihat itu" Ethan menunjuk lemari pajangan.
__ADS_1
"Kau melihatnya? Iya dua kepala yang tersimpan rapi, mereka adalah orang yang mengganggu kehidupan keluarga Salvatrucha dan nanti jumlahnya akan bertambah dengan kepala bawahan mu tapii karena kepalanya sudah hancur akan digantikan oleh kepala mu" gertak Ethan dengan seringai nya menatap tuan Richard.
Tentu gertakan itu membuat tuan Richard menelan ludah, masalah mati ia tidak takut namun proses kematian itu pasti dipersulit oleh Ethan.
"Kau lapar?" Tanya Ethan mengalihkan pembicaraan.
Tuan Richard mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia sudah mengerti maksud Ethan menanyakan hal itu.
"Makan ini!!" Titah Ethan.
Siapa yang ingin membuka mulut ketika ia tau bahwa yang akan dia makan adalah puluhan jarum.
"Kalian ingin menggantikan dia memakan jarum ini?" Tanya Ethan sinis pada para pengawal.
"Ma,,,maaf tuan"
Mereka langsung membantu Ethan membuka paksa mulut tuan Richard.
"Banyak sekali ocehan mu!! Makan!!"
Ethan memasukkan tiga jarum kedalam mulut tuan Richard namun pria itu berusaha memuntahkan nya, seisi mulutnya terluka karena tusukan jarum.
"Baik sekali aku sampai sampai memberikan mu air" ucap Ethan sembari membuka tutup botol lalu memaksa tuan Richard meneguk air itu.
Tuan Richard seperti orang sekarat menelan jarum jarum yang diberikan oleh Ethan, tenggorokan nya terasa terbakar sekaligus tersedak karena jarum itu berhenti di kerongkongan nya.
"Hey ada apa? Ini masih permulaan" Ethan kembali memasukkan jarum hingga beberapa kali sampai Sarah yang melakukan lebih kejam bergidik ngeri melihat suaminya.
"Jujur aku tidak tau cara menyiksa karena selama ini aku selalu membunuh orang jika sudah marah tapi khusus padamu aku tidak rela membiarkan mu mati begitu saja, setidaknya 18 tahun kejahatan mu dibalas dengan satu minggu penyiksaan ku, tenang saja kau pasti tewas setelah satu minggu berlalu"
Tuan Richard tidak bisa mengucapkan kata kata karena tenggorokannya sudah penuh dengan luka bahkan mulutnya memuntahkan banyak darah.
"Kau tau ayahku? Iya ayah angkat ku. Dari cerita yang ku dengar ayah Andre sangat kejam bahkan ia mencincang tubuh musuhnya dan aku bisa saja melakukan itu padamu tapi tidak, kenapa? Karena Vano melarang ku menghabisi nyawa seseorang"
__ADS_1
Walaupun sudah terlihat sekarat nafas tuan Richard sedikit lega mendengar Ethan karena ia tidak akan mati.
"Tapi dia tidak melarang ku untuk menyiksa jadi,,,,"
Ethan mengeluarkan seringainya lalu mengambil pedang dan
Ssrrrtt!!
Satu tangan tuan Richard lepas dengan gampangnya, lagi dan lagi darah membanjiri tempat itu.
"Mmmhhh!!!"
Tuan Richard berteriak semampu yang ia bisa.
"Hitungan satu minggu dimulai dari sekarang dan satu persatu organ tubuh mu akan menghilang. Setiap hari aku akan datang dan kau akan melihat ku sebagai malaikat maut saat itu!!"
"Bawa ke penjara jika dia macam macam lempar saja ke kolam buaya!!" Titah Ethan pada para pengawal.
"Baik tuan!"
Tuan Richard diseret menuju lorong lorong markas dimana penjara dingin dan gelap itu sudah siap menemaninya.
"Kenapa kau tidak membunuhnya?" Tanya Sarah masih dengan aura dinginnya.
"Apa aku bisa membunuh orang didepan mu?" Tanya Ethan balik.
"Kenapa? Aku juga membunuh orang didepan mu" jawab Sarah terang terangan.
"Kau istriku, teman hidup ku, teman tidur ku. Jika kau melihat keganasan ku mungkin kau akan berpikir dua kali untuk mendampingi ku lagi dan aku tidak ingin itu terjadi"
Sarah terdiam, mungkin suaminya berpikir jika suatu saat mereka bertengkar Sarah akan memikirkan hal yang tidak tidak.
"Ayo kerumah sakit aku mulai khawatir dengan keadaan Vano dan Vallen" ajak Ethan lalu menggenggam tangan Sarah.
__ADS_1