
"Aku tidak menyangka kau akan mendapat bagian disini" ucap Farel langsung mengubah wajah datarnya menjadi senyuman tipis.
"Maaf tuan Farel Alexander bagian mana dari penampilan saya yang tidak menarik bisa anda jelaskan?" Tanya Zea tersenyum manis.
"Kemari" Farel memberikan isyarat dengan telunjuknya agar Zea mendekat.
Dengan malas Zea mendekat.
"Dikantor penampilan seperti ini sangat tidak sopan" ucap Farel meraih bahu Zea.
"Ini sudah sangat tertutup, masalahnya dimana?" Tanya Zea memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.
Farel mencium bibir Zea dan menghisap seluruh lipstik di bibir istrinya agar tidak ada yang melihat berlian nya berkeliaran di kantor.
Farel sangat tidak suka Zea mengenakan lipstik karena menurutnya gadis itu akan sangat cantik jika bibirnya sudah dihiasi dengan lipstik.
"Sudah ku katakan jangan menggunakan lipstik terlalu berwarna kenapa masih memakai nya" ujar Farel menghapus beberapa jejak di bibir Zea.
"Kakaak!!" Zea langsung menepis tangan Farel lalu memandang wajahnya di cermin.
"Lebih mementingkan penampilan daripada perintah suami" ucap Farel datar.
"Bukan begitu kakak tapi Zea takut lipstik nya akan merembet kemana-mana" jawab Zea.
__ADS_1
Farel mengambil tisu lalu mendekati Zea dan membantunya menghapus lipstik yang keluar dari batasan.
"Nilai mu sudah minus karena penampilan seperti ini" ucap Farel dengan sabarnya.
"Kakak tidak adil Sera, Lia dan yang lainnya menggunakan lipstik lebih merah dari Zea dan kakak membebaskan nya!" Kata Zea ketus.
"Aku tidak peduli dengan mereka"
Farel meraih tengkuk Zea lalu menghisap leher gadis itu secara tiba-tiba.
"Sshhh kakak lepas!!"
Zea mendorong Farel dan memeriksa lehernya yang sudah diberi stempel oleh Farel.
"Sengaja, itu memang tujuannya agar tidak ada orang yang berani mendekati mu" ucap Farel tersenyum manis.
"Menyebalkan! Si Mona Mona itu juga suruh menghapus lipstik tebalnya agar kau tidak tergoda, mataku sakit melihatnya!!" Kata Zea ketus lalu keluar dari ruangan Farel sembari menutup lehernya dengan rambut.
"Tempramen anak kecil sangat sensitif" gumam Farel menatap kepergian Zea.
Ceklek!
Vano datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan tanpa didampingi sekretaris nya karena Ethan masih berada di desa menemani Sarah.
__ADS_1
"Punya tata Krama dalam bertamu?" Tanya Farel datar.
"Tidak, tidak punya waktu. Ada sesuatu yang ingin ku katakan sekaligus tanyakan" jawab Vano sembari duduk rapi dikursi milik Farel.
"Hey kau tau tempat duduk tamu dimana?" Tanya Farel geram.
"Tau tapi disana banyak kuman dan sudah diduduki banyak orang kau kira bokong ku pasaran" jawab Vano ketus.
"Katakan apa yang kau inginkan!"
"Kau pernah menerima ajakan kerjasama dari keluarga Richard Marx?" Tanya Vano.
"Pernah tapi aku belum menyetujui nya" jawab Farel.
"Apa kau tidak curiga dengan perusahaan ini? Dia seakan-akan memaksa untuk bisa bekerjasama dengan tiga pilar kota, aku, David, dan keluarga Horowitz seperti mendapat teror darinya" tutur Vano dengan serius.
"Sebenarnya aku juga hanya mengulur waktu untuk menolak kerjasama itu karena penawaran nya sangat tidak masuk akal, mereka menginginkan keuntungan cukup besar sedangkan produk yang mereka tawarkan sangat dibawah standar" ujar Farel duduk dikursi tamu.
"Aku juga berpikir begitu, aku menelusuri latar belakang perusahaan ini dan ternyata pemilik aslinya adalah ayah dari Rifka, mantan kekasih Rafi"
"Aku tau" jawab Farel.
"Apa kau tidak curiga kenapa Rafi dan Rifka berpisah?" Tanya Vano.
__ADS_1
"Setau ku Rafi sangat mencintai Rifka, keduanya seperti tidak terpisahkan dan akhirnya hubungan keduanya selesai, Rafi tidak pernah terlihat lagi karena ia mengurung diri didalam rumah Ferrero" tutur Farel lagi.