Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 37


__ADS_3

"duduk!!" Titah Vano.


Vallen berjalan ke sofa lalu duduk sembari menundukkan kepala seperti anak kecil yang akan dimarahi ketika terlambat pulang bermain.


"Kemana saja? Kenapa lama sekali? Kau lupa dengan ucapan ku bahwa tidak boleh keluar rumah selain dengan ku?" Tanya Vano bertubi tubi.


"Termasuk dengan abi?" Tanya Vallen balik tanpa menatap Vano.


"Dengan tukang kebun sekalipun" jawab Vano ketus.


"Lalu dengan siapa? Aku juga bosan disini melihat wajah datar mu, tersenyum sedikit bisa tidak!! Membuat ku kesal saja" ucap Vallen memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Vano.


"Bagus!! Kau mulai berani menentang ku rupanya" ujar Vano tersenyum sinis.


"Minggir!! Aku tidak ingin berdebat dengan mu" kata Vallen mendorong pelan tubuh Vano untuk naik keatas kamarnya.


"Vallen aku belum selesai bicara!!"


"Bicara saja dengan tembok!!" Teriak Vallen dengan cepat berlari masuk kedalam kamarnya karena takut dengan suara Vano.


Vano menghempaskan tubuhnya diatas sofa sembari memijit pelipis dengan banyaknya peristiwa hari ini.


"Dimana dia?" Tanya Farel dari belakang.


Vano sadar akan suara itu, dia memperbaiki posisi duduknya agar kembali elegan.


"Untuk apa kau menanyakan sesuatu yang tidak perlu kau ketahui" jawab Vano datar.


"Aiihhh hanya bertanya sedikit saja kenapa posesif sekali" ujar Farel ikut duduk didepan Vano.


"Hay semua ada apa ini?" Tanya Ethan yang baru saja keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Diam!!" Ucap Vano dan Farel bersamaan.


Ethan mengeryitkan dahi melihat kekompakan dua saudara itu. Dia mengangkat bahu lalu ikut bergabung untuk mengetahui masalah yang sedang terjadi.


Beberapa saat duduk, hanya ada suara angin dan jangkrik. Tidak ada yang memulai pembicaraan atau berniat membuka hingga seorang gadis dingin lewat dengan pakaian seadanya menuju dapur.


Mata Farel dan Ethan terbius akibat pemandangan didepannya, Sarah sedang berjalan mengambil air minum dengan pakaian serba terbuka dan hanya sedikit bagian tubuhnya yang tertutup.


Glek


Farel dan Ethan meneguk salivanya bersamaan hingga tamparan dikedua pipi mereka melayang dari tangan Vano.


Plakk!!!


"Astagfirullah!!" Ucap Farel ikut menampar dirinya.


"Tidak tidak tidak bisa seperti ini terus, gadis itu selalu menggunakan pakaian kurang bahan setiap hari. Aku harus menegurnya" ujar Ethan.


Ethan menghentikan langkahnya dan kembali duduk saat Vano melarang.


"Sarah!!" Panggil Vano.


Sarah memutar kepalanya dan melihat isyarat dari Vano, dia mengangguk lalu mendekat dan duduk disamping Ethan yang kosong.


"Du,,,duduk disana saja" ucap Ethan gugup menunjuk tempat Farel.


"Heuh?? Sudah penuh tetap disana saja!" Ujar Farel menaikkan kaki dan melonjorkan nya hingga memenuhi sofa.


"Di,,, disana" ucap Ethan menunjuk tempat Vano.


"Tidak berani, nona akan membunuh ku!" Kata Sarah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tetap disana, sekarang aku ingin bertanya padamu Sarah"


"Tubuh bagian mana tempat atasan mu menempelkan alat?" Tanya Vano.


"Nona?" Tanya Sarah menebak arah pembicaraan.


Vano mengangguk menunggu jawaban dari Sarah diiringi tatapan yang tidak bisa dibaca.


"Aku tidak tau karena kami berbeda dunia, jika nona hidup dimalam hari maka aku hidup di pagi hari, nona memang majikan ku tapi kami bertemu hanya beberapa kali begitu juga saat bos bertemu dengan nona untuk menempelkan alat itu, aku tidak tahu menahu karena aku aku belum diaktifkan" Tutur Sarah dengan tatapan kosong.


"Kira kira dibagian mana dia menaruh alat itu?" Saut Ethan mulai serius.


"Mungkin dibagian dada" jawab Sarah.


Mata Vano mengeluarkan bara mendengar jawaban Sarah, emosinya mulai tidak terkontrol sama sekali.


"Setan!!! Mereka berani menyentuh kulit gadis tidak bersalah!" Ucap Vano dingin.


"Ehem,,,,mm ini hanya dugaan saja" ujar Sarah dengan suara kecil.


"Bagaimana jika benar? Bagaimana caranya menyentuh dan memasukkan alat itu bagaimana hah!!" Teriak Vano menggebrak meja.


Farel, Ethan, dan Sarah memejamkan mata mendengar gebrakan meja yang cukup keras itu.


"Sebenarnya itu tidak masalah sama sekali kenapa kau sangat marah" saut Ethan memberanikan dirinya.


"Ulang ucapan mu! (Menarik kerah baju Ethan) jangan pernah ulangi ucapan itu atau kau akan tamat!!" Ucap Vano melepas kasar kerah baju Ethan.


"Hubungi dokter agar mereka datang untuk mendeteksi tubuh Vallen besok pagi, ingat 07.30 mereka sudah berdiri didepan pintu!!" Imbuh Vano lalu meninggalkan ketiganya masuk kedalam kamar.


"Posesif sekali!" Gerutu Ethan memperbaiki kerah bajunya.

__ADS_1


"Bos ku memang terdengar mengerikan tapi aku selalu lupa dengan wajahnya dan sekarang wajah Vano sangat menyeramkan" gumam Sarah bergidik ngeri.


__ADS_2