
Seperti janjinya tadi malam, pagi ini Vano sudah siap dengan pakaian santai untuk pergi ke rumah Vallen, dalam hatinya tentu tidak karuan namun ia lawan sekuat tenaga.
"Vallen dulu melepaskan mu sekarang jangan harap" gumam Vano didepan kaca.
"Mau berkencan pa?" Tanya Excel dari depan pintu.
"Tidak papa hanya pergi ke suatu tempat dengan ayah mu" jawab Vano tersenyum manis.
"Tumben senyumnya selebar itu, secantik apa gadis ini" kata Excel sembari meminum susu.
"Cantik sekali" jawab Vano.
"Nahkan ingin berkencan, baru beberapa hari disini sudah dapat teman untuk berbuat dosa astaghfirullah"
"Sayang yang satu ini bukan dosa, kau masih kecil jadi diamlah"
"Jadi kalian akan pergi?"
"Iya tapi ingat kalian jangan pernah mengulangi perbuatan kemarin atau papa akan mengirim kalian pulang" ancam Vano.
"Iya pa"
"Janji"
Excel mengangguk cepat namun satu tangannya mengetuk tembok dengan pelan untuk membatalkan janji nya.
Beberapa saat kemudian Ethan juga sudah siap, mereka langsung menuju ke lokasi, benar perkataan Ethan bahwa kediaman Ferrero yang baru tidak terlalu jauh dari hotel mereka sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk sampai disana.
"Sudah sampai sekarang apa rencana mu?" Tanya Ethan.
Lagi lagi Vano seperti orang gila tersenyum terus menerus sedari tadi, dia menghubungi seseorang pun masih sempat tersenyum.
Beberapa menit berakhir tiga truk memasuki kawasan rumah Ferrero, ketiga truk itu terbuka dan seluruh isinya adalah bunga mawar.
Tok,,,tok,,,tok
David keluar dari rumah dan melihat beberapa orang sedang menurunkan bunga bunga, tentu itu membuatnya sangat heran.
"Sayang kau yang memesan bunga?" Tanya David pada Bela.
__ADS_1
"Bukan!" Jawab Bela dari dalam.
"Vallen sayang kau yang melakukannya?"
"Bukan pa!" Jawab Vallen.
"Wooww!!" Gadis mungil kecil dan imut itu keluar dan berlari lari mengelilingi bunga mawar.
"Siapa yang mengirim bunga mawar pak?" Tanya David.
"Disini tertulis tuan Savero"
"Vallen rekan kerjamu yang mengirim bunga" ucap David.
"Siapa pa?"
"Tuan Savero"
Uhukk
Vallen tersedak dengan roti yang sedang ia makan mendengar nama tuan Savero, jelas bukan tuan Savero yang asli melainkan Vano.
"Vera sayang masuk disuruh mama" kata David.
"Kenapa ma? Bunga nya cantik" keluh Vera sembari mengikuti ucapan David
Dari luar Vano membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam rumah Ferrero, sontak hal itu membuat wajah David tidak percaya sampai sampai ia menjatuhkan pulpen untuk tanda tangan penerima.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh papa" sapa Vano mengambil tangan David lalu menyalami nya.
"Wa,,, waalaikumussalam"
"Va,,,Vano bagaimana kau,,,"
David memperhatikan Vano dari bawah sampai atas, penampilannya cukup menampar David bahwa pria itu sangat sempurna.
"Vallen ada pa?" Tanya Vano santai.
David refleks mengangguk lalu menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Terimakasih papa, Vano numpang makan" ucap Vano lalu masuk sembarangan tanpa permisi lagi diikuti oleh pria tak berakhlak Ethan.
"Selamat pagi semuanya" sapa Vano santai mencari meja makan.
Vallen memutar tubuhnya ke belakang dan melihat Vano dengan penampilan santainya seperti tidak ada masalah, Bela pun harus meminum habis air digelasnya menatap Vano.
"Hay sayang"
Cup!!
Vano mencium kening Vallen dengan senyum manis lalu memakan roti yang hampir sampai dibibir Vallen.
"Va,,, Vano"
"Hay ma apa kabar?" Tanya Vano santai sembari memegang tangan Vallen yang memegang roti agar disuapi.
Ethan tersenyum menggelengkan kepala lalu ikut duduk disamping Vano, syukur syukur dia bisa mengikuti keceriaan pria itu.
"Baik tapi kau,,,, sedang a,,,pa?" Tanya Bela masih terheran-heran.
"Jadi begini ma Vano kemari untuk masalah pekerjaan tapi tidak sengaja bertemu dengan istri jadi Vano rencananya akan tinggal disini"
Uhuk!!!
Roti yang belum sempat ia kunyah pun hampir keluar, Vano memberikan air minum untuk Vallen dan tak lupa diiringi senyum manis.
"Kenapa batuk sayang sakit? Ayok kerumah sakit" Vano menarik lengan Vallen untuk berdiri namun ia tepis dengan cepat.
"Vano kau tau darimana aku disini dan,,,"
"Feeling sayang" jawab Vano sembari mengelus rambut Vallen.
"Ma siapa?" Tanya Vera yang duduk dengan tatapan bingung karena suasana itu.
Vano ikut menatap Vera, jantungnya hampir berhenti mendengar panggilan mama ke Vallen, lagi lagi pikiran kotor itu menyebabkan dirinya termenung sejenak.
"Ma ajak Vera masuk dulu"
Bela mengangguk lalu mengajak Vera masuk kedalam kamarnya sedangkan Vano masih tersenyum walaupun nanti kenyataannya tidak seperti itu.
__ADS_1