
"Vallen!!"
"Sarah!!"
"Zea!!"
Ketiganya memanggil nama istri masing-masing, mereka merasa sangat aneh karena tidak ada satupun orang didekat ledakan mobil dan helikopter itu.
"Apa sebaiknya kita berpencar dulu" ujar Ethan.
"Baiklah bawa pengawal masing-masing untuk menemani kalian" kata Vano.
Keduanya mengangguk lalu berpencar, belum beberapa langkah Farel mendapat panggilan darurat di ponselnya.
"Gawat tuan nona Zea dalam bahaya!! Tubuhnya hampir tenggelam didalam telaga itu, saya baru saja sampai di lokasi!" Ucap seorang mata mata.
Jangankan berdiri, bernafas saja Farel sudah lupa bagaimana caranya.
"Dan beberapa senti lagi air itu akan naik menyentuh ujung kabel tuan bagaimana ini!!" Mata mata itu juga panik melihat Zea terikat tapi dia sendiri tidak bisa berbuat banyak.
"Ada orang disana?" Tanya Farel gemetar.
"Mereka sudah pergi tuan hanya ada beberapa pengawal yang memastikan kematian nona Zea"
"Kirimkan lokasimu sekarang!! Cepat!!"
Farel memutuskan sambungan lalu membuka GPS, lokasi istrinya hanya berjarak lima ratus meter dari tempatnya berdiri.
"Zea dalam bahaya kalian carilah Sarah dan Vallen, aku pergi" ucap Farel tanpa ekspresi.
"Hati hati jangan gegabah banyak jebakan" kata Vano.
Farel mengangguk lalu berlari bersama pengawal lainnya untuk menyelamatkan Zea.
Sedangkan Vano dan Ethan melanjutkan pencarian nya tapi tidak ada tanda tanda bahwa ada seseorang disana bahkan saat matahari mulai hilang masih saja tidak ada hasil.
"Haaahhh!! Sialan!! Kau sembunyikan dimana!!!" Teriak Ethan emosi karena hanya berputar-putar ditempat sedari tadi.
__ADS_1
Perlahan Vano sadar sebenarnya tuan Richard melakukan ini karena ia ingin mengulur waktu. Seketika matanya menajam keseluruh sisi hutan dan pohon besar.
"Sial dia meletakkan kamera pengintai diseluruh penjuru hutan! Pantas saja kita tidak menemukan apapun sedari tadi" ujar Vano geram.
Dorr!! Dorr!! Dorr!!
Ethan tidak segan segan menembakkan peluru ke kamera pengintai yang terus memata matainya.
"Pengecut!! Brengsek!!! Keluar jika kau berani!!" Teriak Ethan emosi tingkat tinggi.
Vano memegang pundak Ethan lalu berpikir sejenak untuk mengatur rencana.
"Sebentar! Tuan Richard ini sangat menyukai permainan petak umpet bukan? Dalam permainan petak umpet terkadang yang mencari tidak akan menemukan lawannya"
"Aku tidak pernah bermain petak umpet jadi aku tidak tau strategi seperti itu" ucap Ethan semakin kesal.
"Jika pencari tidak berniat mencari otomatis dia akan keluar sendiri bukan?"
"Belum mengerti" kata Ethan lagi.
Ethan mengangguk lalu Vano menariknya kedalam semak semak.
"Hmm menarik sekali seluruh kamera pengintai ku habis tak tersisa, mereka cukup pintar diluar dugaan ku" gumam tuan Richard.
"Lakukan sekarang!!" Titah tuan Richard pada pengawalnya.
Mereka mulai menjalankan aksi untuk mengikat Vallen dan menggantung nya ke atas. Dan keberuntungan sedang berada pada tuan Richard karena ia mendapat lokasi yang tepat untuk membunuh Vallen, gadis itu sedang menggantung tepat ditengah tengah jurang yang kedalamannya tidak ada yang tau berapa.
Jika Vallen mati disana maka dialah orang yang pertama kali tewas ditempat itu.
"Aku ingin sedikit bereksperimen sebelum mereka datang" ujar tuan Richard.
"Maaf tuan apa ini tidak kelewatan" kata Pian.
"Kau ingin melawan ku!! Kau ingin aku menjadi orang pertama yang tewas dikurang ini hah!!" Bentak tuan Richard dengan ganas sehingga membuat Pian tunduk.
"Maaf tuan aku tidak berani"
__ADS_1
"Lakukan!!"
Pian pun gemetar memegang cairan keras ditangannya, jikapun Vallen mati setidaknya tidak terlalu mengenaskan seperti ini.
Pian menatap wajah cantik dan polos itu sedang tergantung lemas disana, tangannya semakin gemetar harus memercikkan air keras itu ke wajah Vallen.
Tuan Richard geram melihat keraguan Pian, dia sendiri yang mengambil air itu.
"Tidak berguna, setelah urusan ini selesai dan aku mendapat tahta ketiga pilar kota kau akan menjadi sampah Pian!!" Ujar tuan Richard kesal lalu menyiramkan cairan keras tadi ke wajah Vallen.
"Aaaahhhh!!! Mama!!!" Teriak Vallen sekeras kerasnya karena perih diwajah nya.
"Hahaha bagaimana Vallena sayang sakit? Ini adalah hukuman karena kau membantah perintah ku!!" Tawa tuan Richard menguasai seluruh hutan.
"Vallen!!!" Teriak Vano dari samping, matanya terbelalak melihat kondisi Vallen sudah seperti itu, wajahnya terbakar akibat air yang disiramkan tadi.
Vano tidak bisa berpikir jernih dia berlari mendekati tuan Richard.
"Satu langkah lagi kau berjalan tali ini akan putus!! Ayo melangkah!!" Tantang tuan Richard dengan seringainya.
Vano langsung berhenti bahkan bergerak pun tidak, tubuhnya mematung seketika.
Vano memberikan arahan dengan tangannya pada Ethan agar dibantu namun Pian sudah lebih dulu menyeret Sarah dari tempat tersembunyi. Rencananya gadis itu akan dibunuh setelah Vallen nanti tapi terpaksa digunakan sebagai alibi Ethan.
"Bangs*t!! Lepaskan dia!!" Teriak Ethan.
"Lepaskan senjata mu baru ku lepaskan" jawab Pian tak lupa dengan senyum liciknya.
Tanpa berpikir panjang Ethan membuang jauh-jauh senapan ditangannya.
Sreek!!!
Pian merobek pakaian Sarah hingga pakaian dalamnya terlihat.
"Sudah ku katakan semuanya!" Ucap Pian memegang leher jenjang Sarah.
Mata Ethan membara melihat istrinya diperlakukan seperti itu apalagi Pian pelakunya, Ethan mengeluarkan seluruh senjata beserta pisau pisau kecil lalu membuangnya bersama senapan tadi.
__ADS_1