
Keesokan harinya Vano menjemput Vallen untuk pergi mendaftar pernikahan seperti rencana kemarin, senang sekaligus kesal karena ini adalah hari terakhir Vano bisa bertemu dengan kekasihnya.
"Masih sangat pagi mungkin belum buka, apa kita pergi ke tempat lain?" Tanya Vallen memperhatikan jam tangannya.
"Boleh, ingin kemana?" Tanya Vano balik.
"Mencari sarapan dulu, aku yakin kau belum memakan apapun" jawab Vallen.
Vano tersenyum tipis melihat jalanan, seandainya Vallen tau bahwa Vano tidak tidur semalaman memikirkan pagi ini untuk bertemu dengan nya.
"Baiklah, aku sering membeli sarapan didepan kantor kau ingin kesana?"
"Tentu"
Keduanya menuju tempat yang dikatakan oleh Vano, tak sampai setengah jam keduanya sampai disebuah restoran.
"Restoran nya bagus"
"Ini restoran milik paman ku, kau tidak tau?" Tanya Vano heran melihat ekspresi kekasihnya.
"Paman ku?"
"Iya ini restoran milik tuan Riki, kau tau dia membangun perusahaan dari nol. Bisa dikatakan dia hebat tapi tak sehebat diriku karena tuan Riki membangun perusahaan berdasarkan cinta"
"Maksudnya?"
Vano membukakan kursi terlebih dahulu sebelum menjelaskan sejarah restoran itu.
"Dia mencintai nona Syifa saat berusia 10 tahun dan itu tidak pernah luntur walau nona Syifa tidak mengetahuinya, dan kau tau? Tuan Riki menunggu nona Syifa hingga 8 tahun lamanya, cinta yang sangat mengerikan bukan"
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi?"
"Setelah nona Syifa berusia 18 tahun akhirnya tuan Riki memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaan nya namun ditolak mentah-mentah karena usia tuan Riki dengan nona Syifa berbeda 10 tahun" tutur Vano seperti pegibah handal.
"Jika aku yang menjadi nona Syifa aku pasti akan mencari pria lain, dia terlalu tua" imbuh Vano.
"Mm bagaimana dengan mu yang akan menikahi gadis berusia 18 tahun?" Tanya Vallen menatap Vano.
Vano langsung mengubah ekspresinya menjadi datar, salah besar Vallen menanyakan hal bodoh seperti itu.
"Selisih usia mu dengan ku hanya 7 tahun, ingat? Tujuh tahun!!" Ucap Vano menekan kalimatnya.
Bukankah sama saja? Kau sudah dewasa aku belum tapi tingkah mu melebihi sikap kekanakan ku. Batin Vallen
"Papa bagaimana jika kita menghabiskan waktu disini sebentar"
"Boleh sayang, kau ingin makan apa?"
Rifka mendekati Vallen dan Vano dan benar mereka adalah orang yang ada diisi kepalanya.
"Hay kak Vallen" sapa Rifka.
"Hay kau rupanya dengan siapa kemari?" Tanya Vallen.
"Dengan papa, kami ingin menghabiskan waktu sebentar sebelum papa pergi keluar negeri" jawab Rifka.
"Benarkah? Ajak papa mu kemari dan dimana Rafi?"
"Sedang sibuk membantu om David menyiapkan pernikahan kakak jadi tidak bisa ikut"
__ADS_1
Rifka memberikan isyarat pada papanya untuk mendekat lalu duduk satu meja dengan Vano dan Vallen.
"Maaf nona tuan kami mengganggu, Rifka ayo cari tempat lain"
"Tidak masalah tuan anda bisa duduk disini sekaligus berkenalan dengan kita"
"Aahh ya baiklah"
"Perkenalkan nona saya adalah Richard papa dari Rifka, apa gadis nakal ini sering merepotkan?"
"Ahh tidak tuan Rifka sangat baik, perkenalkan saya adalah Vallen kakak dari kekasihnya Rifka yaitu Rafi dan ini calon suami saya namanya Vano"
Walaupun tidak suka waktunya terganggu, Vano tersenyum tipis ketika di akui sebagai seorang calon suami.
"Tuan Vano Salvatrucha? Benarkah ini? Astaga saya tidak percaya bisa bertemu pembisnis besar level Asia" ucap tuan Richard.
Vano hanya diam seribu kata, sifat dari anak anak mantan mafia ini memang begitu jika dia tidak kenal maka keluarlah sifat dingin dan datar diwajahnya, bukan hanya Vano tapi berlaku juga untuk Farel dan Ethan.
"Rifka minggu depan kami akan menikah kau datanglah dengan papa mu" ucap Vallen mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu canggung.
"Terimakasih kak Rifka pasti akan datang"
"Baiklah Rifka kami tidak bisa terlalu lama disini karena kami harus pergi" ucap Vallen melihat ekspresi datar Vano sudah tidak ada obatnya.
Rifka mengangguk sambil tersenyum, Vallen langsung mengajak Vano keluar dari restoran. Tempat tertutup bukan tipe mereka karena ada saja yang mengenal.
"Sebaiknya kita pergi sekarang mungkin sudah buka" ucap Vallen memulai pembicaraan.
"Setelah ini jika ada yang mengganggu lagi aku akan menyiram mereka dengan bensin" kata Vano kesal.
__ADS_1
"Tidak tidak maafkan aku, aku janji tidak ada yang mengganggu kita lagi"