Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 21


__ADS_3

Besoknya Vallen kembali menikmati sejuknya udara pagi, dia terbangun sangat pagi bahkan sebelum matahari berniat memancarkan sinarnya.


Vallen keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum dibawah karena Vano mengubah sistem perkamaran jadi Vallen harus menuruni tangga untuk mengambil kebutuhan nya.


Dan dilantai bawah masih sangat sepi, lampu masih padam sehingga menyulitkan panca indera sulit untuk melihat namun mata Vallen tertarik melihat secercah cahaya yang ada dikamar bekasnya.


Vallen berjalan kearah kamar itu lalu membukanya, Vallen melihat seorang sedang duduk bersila di atas sajadah. Dia adalah Vano.


Vallen berjalan sangat pelan hingga tak menimbulkan suara, Vallen memang lihai dalam hal itu, perlahan Vallen duduk menghadap Vano lalu bertapa mengikuti seluruh gerak gerik pria didepannya.


"Amiin" Vano mengusap wajahnya lalu membuka mata.


"Aaaaa!!!"


Plaakk!!


Satu tamparan melayang diwajah Vallen karena keterkejutan Vano yang melihat sosok gadis cantik sedang memejamkan mata didepannya.


"Va,,, Vallen kenapa disini!" Ucap Vano mengelus dadanya.


"Salah ku apa? Kenapa ditampar?" Tanya Vallen memegang pipinya.


"Maaf maaf tidak apa apa kan?" Vano memegang pipi Vallen yang memerah karena tamparan dari tangannya.


"Sedang apa?" Tanya Vallen memperhatikan sajadah dibawahnya dengan pakaian Vano yang berbeda ketika berada diluar.


"Shalat, lain kali jika masuk kedalam kamar ketuk pintu jangan masuk sembarangan" jawab Vano memberikan isyarat untuk Vallen agar berpindah tempat.


"Sudah shalat?" Tanya Vano.


Vallen menggelengkan kepala karena sebenarnya ia tidak mengerti shalat itu apa.


"Aku tidak tau apa yang kau bicarakan" jawab Vallen.


Sudah ku duga kita berbeda. Batin Vano


"Baiklah sekarang pergi ke kamar mu, ini masih sangat pagi kau bisa beristirahat beberapa menit lagi" ucap Vano mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin belajar shalat" ujar Vallen menatap Vano.


"Hehe tidak mungkin pergilah"


"Hanya belajar saja siapa tau aku bisa menggunakan ilmu shalat ketika melawan musuh" ucap Vallen bersih keras.


"Memangnya shalat ilmu silat" gerutu Vano.

__ADS_1


"Hanya belajar dasar saja ya" ucap Vano kembali membuka sajadah yang tadi ia lipat.


Vallen mengangguk tersenyum manis berharap ilmu baru yang ia pelajari akan berguna.


"Tunggu disini jangan kemana-mana" Vano meninggalkan Vallen sendiri didalam kamar.


Beberapa saat kemudian Vano kembali membawa mukena yang ia pinjam dari Zea tadi.


"Vallen!" Vano menjatuhkan mukena yang ia pegang erat melihat pakaian Vallen sama persis dengan apa yang ia kenakan.


Mulai dari peci putih, baju koko, serta sarung yang ia ikat sembarangan dipinggang, entah darimana Vallen mendapat pakaian itu yang jelas lemari pakaian yang baru saja diisi oleh Vano berantakan.


"Ayo shalat" ucap Vallen berdiri dari duduknya.


"Vallen ketika shalat pakaian laki laki dan perempuan berbeda kenapa kau menggunakan pakaian ku" ujar Vano mengambil kembali mukena yang ia jatuhkan lalu mendekati Vallen dan membuka peci dikepalanya.


Vano mengambil mukena lalu memasangkannya untuk Vallen.


"Kenapa pakaian shalat ku sangat tertutup,,,"


"Diam! Jangan banyak bicara ikuti saja petunjuk ku" ucap Vano memotong kalimat Vallen.


"Aaahhh ini panas, belajar shalat besok saja disaat musim dingin!" kata Vallen menjauhi Vano lalu membuka mukena yang ia kenakan.


Vano tersenyum tipis mendengar perkataan Vallen, selama hidupnya baru kali ini dirinya berteman dengan seorang mafia dan dia lolos dari penjara istimewa lebih tepatnya Vano belum menemukan otak dari mafia yang mengendalikan Vallen sebagai pembunuh tanpa ampun.


"ini gelang mu dan ini kalung mu" ucap Vano memberikan pengganti yang ia janjikan.


"Vallen" dia membaca namanya sendiri, "warnanya lebih cerah" ucap Vallen memperhatikan gelang dilenga nya.


"kau suka?" tanya Vano.


"sangat" jawab Vallen lalu keluar dari kamar tanpa memperhatikan Vano karena sibuk dengan kalung dan gelang nya.


Beberapa minggu ini Vallen sering bersama dengan Vano karena dirumah tidak ada yang menemaninya, Farel dan Zea pergi menyusul orangtuanya berlibur sedangkan Vano dan Ethan tetap menjalankan perusahaan, mereka juga tidak terlalu suka liburan karena akan melihat pemandangan budak cinta apalagi abinya.


Kadang Vano malu sendiri melihat abinya sangat lengket dengan Vira.


Dan hari ini berhubung Vano libur, dia dan Vallen harus bertarung untuk memenangkan pertandingan yang sengaja dibuat oleh Vano sendiri untuk mengisi waktu kosong.


"Baiklah disini pertarungan antara Vano dan Vallen akan kita mulai, kalian sudah siap?" Tanya Ethan sebagai juri.


Vallen memainkan pedang dan pistol ditangannya lalu menatap Vano dengan seringai menakutkan.


"Siap!" Jawab Vano menatap Vallen.

__ADS_1


Vano langsung menyerang Vallen dengan pisau tajam yang ia pegang, Vallen melompat ke tembok pembatas dan naik ke atas pundak Vano dengan sebelah kakinya sepersekian detik lalu turun dibelakang Vano.


"Aku hanya bisa menghindar, jika aku menyerang kau akan habis" ujar Vallen.


"Dalam pertarungan hanya ada dua kemungkinan, kau menghabisi atau kau dihabisi" ucap Vano kembali menyerang Vallen.


Dorr!!!


Vallen menembakkan peluru kearah pisau yang terus saja menyerang wajahnya sedari tadi hingga ia geram melihat pisau itu.


"Tembakannya tepat sasaran, pembunuh handal memang tidak bisa diragukan" gumam Vano menatap Vallen.


Vano mengeluarkan seringainya lalu mengambil senapan untuk menembak Vallen.


Dor!! Dorr!! Dor!!


Beberapa serangan dari senapan itu berhasil melukai pundak Vallen namun hanya tergores sedikit, Vallen mulai marah karena melihat darah mengalir ditubuhnya.


Vallen mengambil busur panah lalu menyerang Vano dengan itu, 3 anak panah sekaligus dilesatkan oleh Vallen dan itu semua tepat sasaran namun bukan pada Vano melainkan Ethan.


"Hey aku tidak ikut!!!!" Teriak Ethan dengan keras karena terkejut melihat tiga anak panah menancap diatas kepala, bagian bawah, dan samping kirinya.


"Maaf!!" Teriak Vallen lalu melanjutkan serangan nya.


Karena seluruh senjata sudah habis dikenakan oleh Vallen, dia menggunakan busur untuk menyerang Vano, terlihat jelas bagaimana brutalnya Vallen ketika membunuh seseorang, dari cara menyerangnya Vano sudah bisa memastikan musuh Vallen tidak ada yang selamat selama ini.


Diakhir serangannya Vallen mengalungkan busur dileher Vano dan bersiap untuk mematahkan lehernya namun Vallen menghentikan dirinya saat melihat wajah Vano sangat dekat dari wajahnya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Vano bingung.


"Heuh?" Vallen langsung memukul punggung Vano agar dia tidak jadi mematahkan leher pria itu.


"Baiklah baiklah hentikan sekarang, karena kekuatan kalian seimbang dan serangan kalian sama brutalnya jadi kalian berdua menang tidak ada yang kalah" ucap Ethan mengambil jalan tengah karena jika Vallen yang menang Vano akan memberontak apalagi Vano yang menang entah apa yang akan terjadi pada hidup Ethan selanjutnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Vano melihat luka dipundak Vallen.


Vallen mengangguk lalu masuk kedalam untuk mengambil perlengkapan obat. Vano merasa tidak nyaman melihat Vallen terluka banyak akibat dirinya apalagi goresan pisau yang terpampang jelas di punggung kakinya.


Vano mengikuti Vallen masuk kedalam dan melihat gadis itu sedang mengobati dirinya sendiri.


"Ku bantu" ucap Vano mengambil obat disamping Vallen.


"Terimakasih" kata Vallen lalu mengambil jarum untuk menjahit luka dikakinya.


"Hey apa yang kau lakukan" saut Ethan melihat Vallen bersiap memasukkan jarum kedalam kakinya.

__ADS_1


"Menjahit luka memangnya apalagi" ujar Vallen lalu menusukkan jarum kedalam kakinya.


__ADS_2