
Tok,,,tok,,,tok
Vano menggandeng tangan Vallen sembari mengetuk pintu rumah utama yaitu Vino Salvatrucha berserta istri yang tak lain adalah umi dan abinya.
Sebenarnya bisa dikatakan ini adalah ajang bunuh diri untuk Vano karena secara terang terangan memegang tangan Vallen seperti waktu sebelumnya saat ia menyeret Vallen keluar.
"Pagi pagi mengganggu pulang sana!!" Ucap Vino ketus lalu menutup pintu.
"Abii kali ini tidak bercanda" ujar Vano malas meladeni abinya.
Vino kembali membuka pintu dan melihat tangan Vano sedang memegang erat lengan Vallen.
"Ingin bunuh diri secara khusus rupanya" kata Vano tersenyum sinis lalu membuka lebar pintu utama membiarkan keduanya masuk kedalam.
Baru saja ingin duduk santai di sofa tiba tiba tangan Vano di pukul oleh Vira dari belakang dan menyerang Vallen secara brutal.
Vallen terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Vira tapi bagaimanapun juga dia harus berusaha bertahan seperti apa yang dikatakan oleh Vano.
Buktinya sekarang mereka menggunakan satu samurai dan satunya lagi pedang untuk saling serang, Vallen mengeluarkan seringainya melihat pergerakan Vira sangat lincah.
Bahkan Vino dan Vano bengong melihat pertarungan brutal itu, Vino bergidik ngeri melihat istrinya tidak segan ingin menebas dada Vallen namun untungnya gadis itu memiliki kecepatan luar biasa dalam menghindar.
__ADS_1
Ketika Vira kembali berjalan mendekati Vallen, gadis itu langsung menendang samurai yang dipegang oleh Vira dan berdiri disamping Vira lalu menodongkan pedang dileher Vira.
"Masih ingin bermain umi?" Tanya Vallen disamping telinga Vira.
"Ti,,, tidak" jawab Vira sedikit gugup melihat seringai Vallen lebih mengerikan dari Vano.
Si bodoh ini kenapa menyerang calon mertuanya, kita datang untuk meminta restu bodoh!!. Batin Vano
"Lepaskan pedangmu dari umi ku!!" Ucap Vano dingin karena jujur Vano tidak bisa membedakan seringai jahat Vallen ketika menjadi seorang pembunuh atau tidak.
Vallen mengangguk lalu melepaskan pedangnya dari leher Vira atas perintah seseorang yang sangat ia percayai.
"Kau baik baik saja?" Tanya Vira pada Vallen.
"Baik sayang, ayo duduk" ajak Vira.
Mereka berempat duduk diruang keluarga, Vino sudah pasti duduk disebelah Vira dan Vano duduk disebelah Vallen.
Jika saja Vallen gadis normal pasti ia akan merasa gugup ketika di ajak untuk meminta restu namun Vallen hanya duduk santai menunggu orang berbicara bahkan ia bosan melihat semua orang mematung seperti batu.
"Farel menginap disini bukan? Baiklah aku akan mencarinya sebentar, dia bilang kami akan datang ke kuburan ikannya nanti" ucap Vallen tersenyum manis.
__ADS_1
"Bisa tidak jangan bahas ikan terlebih dahulu!!" Bisik Vano ditelinga Vallen.
"Tapi,,,,"
"Umi Vano ingin menikahi Vallen bagaimana menurut kalian" ujar Vano memotong perkataan Vallen sebelum ia kembali membahas ikan lebih baik Vano langsung bicara ke intinya.
"Kau tau bukan jawaban nya" ucap Vino datar ketika mendengar ucapan putranya.
"Tau Abi tapi Vano butuh restu dari kalian, asal ada restu Vano akan tenang karena gadis ini terus saja ingin pergi karena takut keluarga kita akan celaka jika aku bersamanya" Tutur Vano menatap Vallen sekilas.
"Jadi rencana pernikahan,,,,,"
"Sudah ada hanya saja menunggu waktu yang tepat!" Ucap Vano memotong kalimat Vira.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Vallen" saut Vino menatap Vallen.
"Tidak masalah Vano akan tetap menerima dia siapapun dia dan bagaimana pun keadaannya asal tidak kembali ke masa lalu" kata Vano dengan yakin seyakin-yakinnya.
Vino dan Vira saling menatap untuk bicara dari hati ke hati, keduanya memang tidak terlalu mengekang putra mereka untuk mencari pasangan, mereka belajar dari kesalahan dulu ketika Vino menikahi paksa Vira dan hasilnya tidak terlalu baik di awal awal.
"Baiklah, kami percaya padamu untuk menjadikan Vallen sebagai pasangan mu namun sudah dipastikan dengan syarat syarat yang berlaku di keluarga ini" Tutur Vira menatap putra dan calon putrinya.
__ADS_1
"Yeeess!! Dapat restu" gumam Vano seakan akan ingin melompat kegirangan.
"Kau ingin kemana sekarang Vallen? Orang tua ku sudah mengikat mu" bisik Vano ditelinga Vallen diiringi senyum jail pria 25 tahun itu.