
Ceklek
Vallen membuka pintu kamarnya sangat pelan agar tidak mengundang keributan, dia berjalan mencari mushalla dirumah Vino, setaunya keluarga itu sering shalat berjamaah diruangan tertentu dan disana banyak dicadangkan mukena.
Ya Tuhan aku gugup tolong. Batin Vallen
Dia mencoba memasukkan kakinya kedalam hingga tak sadar seluruh tubuhnya sudah masuk dan berjalan lebih dalam menyusuri tempat itu.
"perkenalkan aku Vallen hehe" ucap Vallen pelan.
"Ck bodoh bukan begitu caranya" Vallen kesal dengan ucapannya tadi.
"Apa jujur saja pada Vano agar dia mengajarkan ku"
"Tidak tidak aku belum siap"
Vallen berjalan menuju tempat mukena lalu mengambil satu dan memakai nya, wajah cantiknya terlihat seribu kali lipat lebih cantik dari biasanya ketika mengenakan pakaian shalat.
"Ya Allah duduk saja tidak apa apa ya Vallen tidak kuat berdiri terlalu lama" ucap Vallen seakan berbicara pada sahabat nya sendiri.
__ADS_1
Baru saja ingin membuka ponsel dan belajar bagaimana cara shalat yang benar ada suara langkah kaki menuju ke tempatnya, Vallen tentu peka dengan segala hal disekelilingnya.
Dan sekarang suara langkah kaki itu semakin mendekat dan berhenti tepat di belakang Vallen.
"Zea tumben shalat di sini" ucap Vano lalu berjalan kedepan hingga membelakangi Vallen.
Vano tidak ingin melihat siapa karena sudah pasti itu Zea, Vano melakukan shalat duha yang ia lakukan tidak selalu setiap hari melainkan beberapa kali dalam satu minggu dan hari ini memang sudah jadwalnya.
Selesai shalat duha Vano berdoa terlebih dahulu, mengucapkan syukur sebanyak banyaknya pada Tuhan karena telah membuatnya kuat melewati masa-masa sulit dan telah menyelematkan Vallen tentunya.
"Amiiinn" Vano mengusap wajahnya lalu berdiri dan memutar arah, sempat Vano tidak terlalu memperhatikan orang yang ia maksud adalah Zea namun anehnya kenapa ponsel milik Vano ada ditangan gadis itu.
Vallen menutup wajahnya dengan tangan agar tidak terlihat oleh Vano.
"Zea? Kau Zea atau,,," Vano kesal dengan pikiran kotornya tapi ia semakin ragu karena jari jari Zea kosong tanpa cincin pernikahan, seingatnya cincin pernikahan Zea masih tetap ada.
Vano berjalan dan merebut ponselnya sedikit kasar, matanya hampir keluar melihat Vallen sedang mengenakan pakaian shalat, ia tidak marah tapi ia terkejut melihat kecantikan luar biasa di depannya.
"Va,,, Vallen" Vano sampai mendudukkan diri yang tadinya hanya berjongkok biasa.
__ADS_1
Vallen menepuk keningnya lalu ingin berdiri untuk meninggalkan Vano karena jujur dari hatinya Vallen belum siap menceritakan segalanya.
Vano masih dengan sejuta kekagumannya mencoba untuk menghentikan Vallen sebisanya.
"Ka,,,kau Va,,, Vallen?" Tanya Vino.
Vallen menundukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Vano dengan pelan.
Vano ingin menangis tapi air matanya tertahan, dia ingin bahagia namun hatinya berkata jangan tersenyum, Vano hanya bisa membuat ekspresi itu itu saja untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini melihat Vallen mengenakan mukena.
"Ke,,, kenapa?"
"A,,,aku a,,aku"
"Apa itu sebabnya Pian menemukan mu di depan masjid?"
Vallen kembali mengangguk, Vano semakin lemas dia yakin ini hanya sebagian dari mimpinya tapi itu terasa sangat nyata.
"Kenapa tidak bicara padaku waktu itu, aku akan mengantarmu waktu itu juga dan kenapa kau menulis surat aneh aneh itu" ujar Vano masih tetap menghalangi Vallen untuk pergi.
__ADS_1
"Surat? Surat apa?" Tanya Vallen bingung.