
Setelah mengetahui bahwa sudah ada peluang Vano mondar mandir menunggu Vallen didalam kamar sampai kakinya pegal.
Dan beberapa saat kemudian Vallen masuk kedalam kamar untuk menemui suaminya, rencana pagi ini mereka akan sarapan bersama dengan keluarga.
"Hey ayo keluar semua sudah menunggu" ujar Vallen.
Vano mendekati istrinya dengan tatapan absurd, hari ini sudah tidak ada halangan lagi untuk menyentuh Vallen.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Vallen.
Vano terus mendekat dan mendekat hingga tangannya menyentuh gagang pintu lalu menguncinya.
"Mm apa ada yang salah?" Tanya Vallen lagi.
"Ssstt kau milikku hari ini" jawab Vano dengan senyum nakal.
"Aku sudah menjadi milik mu kenapa harus mengatakan itu lagi"
"Aiiihhh kenapa lama sekali loading, kemari ada sesuatu yang harus kita lakukan" Vano membawa Vallen ke atas ranjang.
"Tidak bisa kau saja yang melakukannya? Aku sedang membantu umi"
"Mana bisa seperti itu" jawab Vano membuka perlahan kemejanya.
"Kau benar benar tidak mengerti apa yang dilakukan oleh suami istri? Mm maksud ku proses pembuatan a,,,anak?" Tanya Vano menghentikan tangannya membuka kemeja.
"Kata umi harus berhubungan badan" jawab Vallen lugu.
Yeess umi tau kebutuhan anaknya, batin Vano.
"Jadi kau siap sekarang?" Tanya Vano antusias.
"Bukankah aku sudah memeluk mu setiap hari, itu namanya berhubungan badan bukan"
Vano membuat kepalan tangan diseprei nya, Vallen perlu diajarkan ilmu pengetahuan alam terlebih dahulu baru ia bisa mengerti itupun mustahil.
__ADS_1
"Berhubungan badan itu seperti ini" Vano memegang tengkuk Vallen lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Baru sedetik merasakan bibir hangat istrinya Vano langsung menjauh.
"Pantas saja Ethan lost control ternyata ciuman itu seperti ini" gumam Vano menatap Vallen.
Sebodoh bodohnya wanita jika diperlakukan seperti tadi pasti akan malu sama seperti Vallen, saat ini wajahnya memerah merasakan bibirnya.
"Mm bi,,,bisa kita lanjutkan?" Tanya Vano canggung.
"Si,,, silahkan tapi aku tidak tau apa maksud mu dan aku belum mengerti apa yang akan kau lakukan" jawab Vallen.
Ketika mencoba untuk kuat dan melihat seluruh tubuh putih dan mulus suaminya Vallen malah fokus melihat luka didada Vano, sakitnya sedikit berkurang walau Vano mulai bergerak cepat.
"Luka ini,,,,"
"Kau juga memiliki nya dan aku yang melakukan itu jadi jangan salahkan dirimu"
"Maafkan aku"
"Aww!! Sshhh!!
"Baiklah maaf maaf"
Diluar semua sudah menunggu pasangan itu untuk turun namun Vino berusaha mencegah Vira agar tidak naik keatas.
"Ini sudah cukup lama apa mereka tidak akan turun" ucap Vira menatap jam dinding.
"Kita makan saja nanti mereka akan turun juga" saut Vino.
"Tidak bisa ini sudah tiga jam, mereka akan sakit jika tidak sarapan"
Akhirnya Vira naik keatas untuk memanggil Vano dan Vallen, tentu Vino mengejarnya dan berusaha mencegah Vira.
"Vira Vira maksud ku begini kita harus,,,,,"
__ADS_1
"Nanti saja bicaranya, ayo panggil mereka terlebih dahulu"
Saat sampai di atas Vino berusaha menarik Vira untuk turun agar tidak menggangu sama sekali.
"Vira ayo turun" ajak Vino.
"Aahh!!!"
Langkah Vira langsung terhenti ketika mendengar suara desahan dari dalam kamar Vano, tentu mereka sedang melakukan apa yang ada didalam otak Vira.
Si bodoh ini pasti lupa mengaktifkan peredam suara kamarnya. Batin Vino
"Mm apa otak mu masih suci?" Tanya Vino pelan.
"Tadi suci sekarang sedikit kotor" jawab Vira dengan tatapan kosong.
"Sudah ku katakan jangan mengganggu kenapa kau tidak mendengar"
"Kenapa kau tidak mengatakan mereka sedang,,,"
"Sudah sudah ayo turun biarkan saja"
"Tunggu!"
"Ada apalagi Vira?" Tanya Vino frustasi harus mendengar banyak suara absurd dikamar putranya.
"Kenapa kita tidak?" Tanya Vira balik.
"Wow 26 tahun aku menikah baru kali ini kau mengajakku, sayang kau tidak bermimpi kan"
"Mm hehe mau tidak" wajah Vira tampak malu-malu melihat Vino.
"Kenapa harus ditanya, ya jelas" jawab Vino langsung membawa Vira ke kamarnya.
Dan pada akhirnya orang tua dan anak sama sama sedang melakukan sunnah pagi ini.
__ADS_1
🌱🌱🌱