
Diperjalanan menuju rumah Ferrero, Vallen terus memikirkan Vano sebab musuhnya ini adalah orang yang sangat ia kenal wataknya.
Vallen yakin orang yang telah menculiknya ini sudah membuat kejutan besar untuk mereka.
"Nona ada kucing didepan sepertinya ia kesulitan berjalan" ucap supir yang mengantar mereka.
"Minta tolong dipinggirkan sebentar ya pak" kata Vallen.
"Tapi nona kita akan ketinggalan tuan besar"
"Tidak Maslaah pak lagipula ini masih ramai dan kita tidak tertinggal jauh, pinggirkan saja dulu baru jalan kasihan kucingnya jika tertabrak kendaraan lain" ucap Vallen.
"Baiklah nona"
Supir tersebut keluar sebentar lalu meminggirkan kucing ditengah jalan tadi ke tempat yang lebih sepi dan aman.
Bugh!!
"Sudah nona"
"Baiklah ikuti mobil umi dan abi ya pak"
Supir tersebut mengangguk lalu menjalankan mobilnya. Disisi lain Vallen menatap Zea dan Sarah yang tertidur pulas.
Dia juga ingin tertidur agar tidak memikirkan Vano lagi, jalanan kota cukup ramai sehingga bagus untuk menjadi teman tidur.
Perlahan Vallen berusaha menutup matanya sembari menatap jalanan dan ia masih sadar sekarang tapi kenapa jalan yang ia lewati berbeda.
Jalanan itu tidak menuju rumah Ferrero melainkan ketempat lain, awalnya Vallen mengubur kecurigaannya namun setelah beberapa ratus meter ia sadar itu bukanlah jalan menuju rumahnya.
"Pak ini bukan jalan kerumah Ferrero" ucap Vallen.
"Kita melewati jalan pintas nona" kata sang supir.
Vallen mencoba konsentrasi dan seingatnya memang ada jalan pintas namun bukan jalan ini, semakin jauh semakin sepi dan tidak mengarah kepusat kota.
Wajah Vallen langsung berbeda namun ia tetap tenang, matanya sedikit melirik kaca spion.
Supir ini bukan supir yang tadi. Batin Vallen
Dua kali ia memastikan wajah pria itu dan hasilnya tetap sama, dia bukan orang yang sama.
Pintar sekali, kalian mengganti supir ku. Batin Vallen
"Ehem!! Sarah bangun ambilkan aku minum" ucap Vallen dengan santai seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Mm? Baik Vallen" kata Sarah sembari menyipitkan matanya menatap sekeliling.
Sarah masih ingin melanjutkan tidurnya namun Vallen mengetuk ngetuk botol dengan ujung jarinya, Sarah memperhatikan ketukan jari itu dan itu bukan ketukan biasa.
__ADS_1
Dia melihat kiri dan kanan, Sarah tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Sikap dinginnya seketika berlabuh dalam tubuhnya.
Tatapan tajam Sarah mengarah pada Vallen dan dia mengangguk, Sarah menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang.
"Mmmhh!! Apa kita sudah sampai" tanya Zea dengan suara seraknya.
Keduanya terdiam, bahkan mereka sendiri tidak bisa berbicara walau bisa melawan.
"Aahh aku lupa menghubungi Farel untuk membawakan berkas berkas kantor di laci, aku akan menghubungi nya sekarang"
Zea belum sadar sepenuhnya lokasi saat ini, dia juga tidak memperhatikan keluar yang telah penuh dengan pohon-pohon rindang.
Baru saja menghubungi Farel supir tersebut tiba-tiba mengerem mendadak hingga ponsel Zea terjatuh dan pecah.
"Aaww pak!! Kenapa tiba-tiba berhenti ponsel ku rusak" ucap Zea kesal.
Sedangkan Vallen dan Sarah hanya menunggu waktu untuk menghajar pria itu.
"Maaf nona"
"Aku ingin keluar" ucap Vallen dingin.
"Kita belum sampai nona, tuan besar akan marah pada ku nanti"
"Cihh tuan besar? Siapa? Papa ku atau bos mu" kata Vallen dengan senyum sinisnya.
Vallen dan Sarah saling menatap lalu mengangguk bersamaan, keduanya menendang pintu mobil hingga terbuka, Vallen menarik lengan Zea hingga tangannya lebam oleh ujung pintu mobil.
"Keluarlah, aku akan menghajar mu!!" Ucap Vallen dengan tatapan membunuh.
Zea panik setengah mati melihat perubahan ekspresi Vallen dan Sarah seperti ingin menelan orang.
"Keluar!!" Teriak Sarah.
"Lawan kami terlebih dahulu baru boleh pergi" ucap seseorang dibalik semak semak.
Lebih dari tiga puluh orang berpakaian hitam keluar dari tempat tersembunyi itu, mereka berdiri tanpa senjata untuk menyerang tiga gadis didepannya.
"Hanya kalian? Mana yang lain?" Tanya Vallen memberikan tatapan menusuk pada pasukan didepan.
"Apa yang kalian tunggu, serang!!!"
Vallen langsung melompat ke atas mobil lalu Sarah menyeret Zea dengan satu tangannya kepinggir agar tidak diserang sedangkan tangannya yang satu memukul wajah para pengawal.
Zea mencari ponselnya namun ia ingat sudah rusak didalam mobil.
"Hay, lama tidak bertemu" ucap Vallen dengan seringai nya meninju wajah wajah pasukan yang sering menemaninya membunuh.
"Rasakan ini!!"
__ADS_1
Vallen melihat kebawah dan ia langsung melompat menuju ke arah Zea, Vallen menendang kayu yang hampir saja mengenai gadis itu.
"Kau bisa melakukan sesuatu untuk ku?"
"Apa Vallen katakan" jawab Zea panik.
"Lari sejauh mungkin. Cepat!!"
"Tapi,,,"
"Tidak ada waktu Zea lari!!" Titah Vallen sembari menendang pengawal yang terus menerus menyerangnya.
"Baiklah aku akan mencari pertolongan secepat mungkin"
Vallen mengangguk lalu mengambil perhatian pengawal agar tidak memperhatikan kepergian Zea. Namun, baru beberapa langkah berlari Zea dihadang oleh supir tadi.
"Stop!!"
"Hentikan serangan mu atau aku akan membunuh gadis ini!!" Titah sang supir.
Refleks kedua tangan Vallen dan Sarah kaku, keduanya langsung membeku melihat pistol sedang berada di atas kepala Zea.
Supir tersebut membuka topi hitamnya dan seketika Sarah lemas melihat Pian sedang mengeluarkan seringainya menatap mereka.
"Angkat tangan kalian sekarang!!" Titah Pian.
Keduanya masih membeku melihat Pian disana, keduanya heran kenapa Pian bisa terlepas dari penjara yang dibuat Vano di markasnya.
Dorr!!!
Keduanya kembali kedalam tubuh masing-masing dan sadar bahwa Pian telah melepaskan senjata api ke udara.
"Menyerah sekarang atau gadis ini benar-benar akan mati, aahh tidak tidak dia tidak akan mati tapi dia akan melayani ku didepan mata kepala kalian" ancam Pian.
Zea kembali dengan rasa takutnya yang dulu, pria inilah yang merusak mentalnya.
"Baiklah"
Ssrrek!!
Lengan pakaian Zea robek sehingga tangan putih mulus itu terlihat begitu menggoda, siapa yang tidak tergoda dengan gadis cantik seperti itu.
"Hentikan!!"
Vallen dan Sarah serempak mengangkat kedua tangannya dan menyerah, mereka tidak bisa melawan lebih jauh lagi karena Pian terlalu jahat sebagai manusia.
Jika keduanya tidak menyerah entah apa yang akan terjadi dengan tubuh Zea, walaupun dia sudah menikah tetap saja hanya ada satu orang yang berhak atas dirinya.
"Bawa ke markas dan hubungi tuan Richard bahwa misi kita berhasil" ucap Pian dengan senyum liciknya.
__ADS_1