
Ketika semua sedang membicarakan soal lamaran dan pernikahan, Vano mengajak Vallen ke kamar sebentar untuk membicarakan sesuatu.
"Mereka semua sudah bersatu tapi kita,,,,"
"Memangnya kau bisa menerima ku? Kekurangan ku banyak Vano, aku lumpuh dan,,,,"
"Aku sudah tau semuanya jangan di ucapkan lagi, kau kira cintaku akan luntur setelah mengetahui itu? Tidak justru rasa cinta itu semakin kuat"
"Kekurangan mu bisa tertutupi oleh kelebihan ku dan kekurangan ku bisa tertutupi oleh kelebihan mu, jangan berpikir aku manusia sempurna Vallen, satu satunya orang yang dapat mengendalikan ku hanya dirimu dan tanpa kau sadari itu adalah kelebihan utama yang kau miliki"
"Ayolah kita perbaiki kesalahan sebelumnya, anak anak kita membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya Vallen, jangan hanya karena kau memikirkan dirimu anak kita menjadi korban" bujuk Vano.
Beberapa menit keduanya hening tanpa sepatah kata, mungkin Vano membiarkan Vallen untuk berpikir sementara namun tatapan nya tidak lepas dari wajah cantik itu.
Ceklek
Vero masuk tanpa permisi dan mengambil flashdisk dimeja kerja Vallen.
"Vero sayang kau mengizinkan mama untuk kembali ke papa?" Tanya Vallen karena ia juga memikirkan itu sedari tadi.
Vero mengangkat bahu santai lalu membuka komputer milik mamanya.
__ADS_1
"Urusan kalian, yang menikah kalian bukan aku" jawab Vero seolah-olah tidak ada masalah.
Vano tersenyum, sedikit tidaknya Vero memberikan izin untuk mamanya agar mau kembali ke pelukan Vano. Setelah mengambil beberapa data game di komputer Vallen, Vero keluar lagi dan kembali ke kamarnya menunjukkan game terbaru pada Excel dan Tristan.
"Bagaimana?" Tanya Vano sekali lagi.
"Baiklah"
"Mau?" Vano hampir tidak percaya dengan jawaban Vallen.
Vallen mengangguk diiringi senyum manis, Vano langsung memeluknya dengan erat, rasanya sangat lega dan seluruh beban itu sirna dalam diri Vano, dia berhasil membujuk Vallen untuk kembali padanya.
"Terimakasih Vano, beberapa tahun aku tidak ada disamping mu kau tetap menjadi suami terbaik walau sudah tau kondisi ku"
"Mari perbaiki kesalahan kita berdua dengan memberikan banyak kasih sayang untuk anak anak kita" imbuh Vano.
Vallen mengangguk setuju dengan perkataan Vano, tidak ada yang perlu disalahkan disini karena mereka berdua sama sama bersalah akibat tidak berkomunikasi lebih jauh dan akhirnya menimbulkan akar akar lain dari masalah awal.
Sedangkan diluar Vero bersandar di depan pintu, sepertinya laki laki itu mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.
Tapi prinsip Vero tidak pernah ikut campur urusan orang lain selama itu bukan urusannya jadi mama dan papanya memutuskan untuk bersama lagi tidak ada pengaruhnya untuk Vero.
__ADS_1
Vero menjauh dari kamar mamanya dan naik ke atas menunjukkan sesuatu pada Excel, Tristan, dan saudara saudaranya dari keluarga Ferrero.
"ada apa kenapa wajah mu berubah?" tanya Excel.
"tidak, ayo masuk akan ku tunjukkan sesuatu"
"baiklah, kau ingin menunjukkan apa"
"lihat ini"
"tidak tidak lihat ini dulu aku penasaran" saut Tristan melihat file keluarga.
"hanya foto foto mama"
"bisa kami lihat?"
Vero menghela nafas dan mengikuti kemauan dua temannya.
"ini mama dan ini Alvaro"
"mm saudara kembar mu?" tanya Excel dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"ya dan hatiku sakit melihatnya" jawab Vero datar lalu memindahkan file-nya.
Excel dan Tristan saling menatap, wajah Vero berubah sendu melihat foto tadi. mereka belum terlalu mengenal Vero sehingga emosi Vero juga belum mereka fahami.