
Dikamar Rafi
Vano dan Farel saling menatap melihat kondisi Rafi didalam kamar, matanya kosong dan sebagian isi ruangan itu hancur.
Mereka semakin yakin sesuatu telah terjadi pada Rafi dan itu pasti berkaitan dengan Rifka.
"Ehem!" Sapa Vano.
Rafi melirik sedikit lalu kembali menutup matanya disofa, dia seakan tidak peduli dan takut pada Vano yang biasa mengancamnya.
"Rafi bisa kita bicara?" Tanya Farel.
"Sedang apa kalian mencari ku" jawab Rafi datar tanpa berniat membuka matanya.
"Rifka" saut Vano.
Rafi menyunggingkan senyum tipis mendengar satu nama yang berhasil mengacaukan hidupnya.
"Rifka? Siapa dia?" Tanya Rafi.
"Jangan pura pura bodoh! Kau pasti tau sesuatu tentang Rifka" saut Farel tegas agar Rafi takut.
"Aku tidak tau,,,"
"Lalu kenapa kau memutuskan hubungan mu dengan nya?" Tanya Vano sebelum Rafi menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku tidak mencintai nya lagi" jawab Rafi sinis.
"Bohong!! Tiga kalung berlian dan satu cincin ibu mu kau berikan padanya, apa itu tidak bisa dikatakan cinta?!" Ujar Vano menggebrak meja dengan pelan.
Rafi langsung terdiam, kadang ia berpikir kenapa semua orang tau seluruh kehidupannya padahal dia bukan siapa-siapa.
"Katakan kenapa kau memutuskan hubungan dengan nya!" Imbuh Vano mengulang pertanyaan Farel tadi.
Haahh!!
Rafi akhirnya membuka mata lalu berdiri sembari mengenakan Hoodie hingga kepalanya tertutup rapat.
"Saran ku kalian tidak perlu mencari tahu lebih banyak lagi atau hidup kalian tidak akan tenang. Kenapa? Karena aku sedang merasakan itu sekarang!" Ucap Rafi menepuk pundak Farel sembari menatap tajam ke arah Vano lalu keluar dari kamarnya.
"Ada yang tidak benar di keluarga Rifka" jawab Vano.
Keduanya berjalan keluar namun beberapa langkah kedepan Vano melihat sebuah foto diatas meja dekat vas bunga.
"Tunggu!" Vano berjalan mengambil foto tersebut lalu melihat gambar Rafi dan Rifka sedang merayakan hari peresmian mereka menjadi pasangan kekasih.
Namun sayangnya foto itu sudah sobek menjadi beberapa bagian dan anehnya foto itu kembali disusun Rafi, Vano mengambil foto tersebut sebagai bahan meeting mereka nanti.
Saat keluar kamar Vano melihat sekeliling rumah Ferrero dan tidak ada yang mencurigakan disana bahkan kamera pengintai pun tidak ada selain cctv dibeberapa sisi rumah.
"Rafi disana" ucap Farel menunjuk kamar yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Vano mengikuti arah pandangan Farel.
"Dia hanya berpindah kamar dan anehnya seluruh kamar gelap, gorden tertutup rapat dan dia tidur ditempat tersembunyi bukan dikasur" ujar Vano memperhatikan pergerakan Rafi.
"Apa mungkin,,,"
"Kamera tembus pandang sedang mengawasi nya?" Tanya Farel.
Vano berlari ke kamar Vallen sebelumnya untuk melihat keadaan dibalkon namun setelah tidak menemukan apapun Vano kembali berlari ke kamar Rafi dan setelah menutup pintu Vano mengaktifkan kedap suara.
Perlahan Vano membuka gorden yang sengaja ditutup oleh Rafi.
Dorr!!!!
Farel mendorong Vano ke kasur hingga pria itu tersungkur dan Farel sendiri tergores oleh peluru. Vano langsung berdiri dan menutup gorden lalu mengaktifkan pelindung darurat anti peluru dan bom dikamar Rafi.
Tidak sia sia Vano meletakkan penjagaan seketat itu dirumah Ferrero.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vano melihat darah di lengan Farel tercecer ke lantai.
Farel mengangguk datar tanpa ekspresi walaupun tangannya terasa nyeri.
"Kita harus pulang untuk membicarakan masalah ini, aku akan menghubungi Ethan untuk mengaktifkan seluruh pelindung darurat di setiap kamar, mertua ku tidak boleh terluka sedikitpun" ujar Vano meremas tangannya karena geram dengan teka teki ini.
###
__ADS_1