
Pelan tapi pasti, Vallen sudah meninggalkan kediaman Salvatrucha dan kini dirinya sudah berada diruma besar Ferrero. Rumah itu tak kalah mewahnya dengan rumah Vino maupun Vano.
"Pa apa kau memelihara manusia?" Tanya Vallen bingung melihat banyaknya pengawal sedang berdiri kokoh memenuhi halaman rumah David.
"Ini pekerjaan kekasih mu sayang, orang orang ini kiriman nya untuk menjaga mu" jawab David sembari mencium kening putrinya.
"Se,,,banyak ini?" Ujar Vallen menutup mulutnya.
"Biarkan saja ini juga untuk kebaikan mu sendiri sayang, sudahlah ayo masuk kita akan bersenang-senang" ajak bela merangkul putrinya berjalan mendahului David.
Sebagai seorang ayah dan suami David senang bisa melihat senyum keluarga nya kembali seperti dulu.
"Papa perkenalkan pada keluarga mau sayang?" Tanya David sedikit berteriak.
Vallen mengangkat tangannya memberi jempol untuk mengiyakan David.
Disisi lain Vano sudah gundah dirumah nya, hampir dua puluh kali ia melewati ruang keluarga lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
"Huaaaaa!!!!" Vano mengacak-acak bantal dikasurnya karena merasa sepi.
Ceklek
"Minum!!" Ucap Ethan melempar air mineral ke arah Vano.
"Kurang ajar!! Keluar!!" Kata Vano ketus namun tetap meminum air itu.
"Ada yang ingin ku bicarakan" ujar Ethan mulai serius.
"Katakan!"
"Bagaimana dengan Pian? Apa kita perlu,,,,"
"Jangan, biarkan saja berjalan sesuai alurnya asal dia sudah di tahan dan tidak membahayakan Vallen"
"Tapi Vallen belum sepenuhnya aman, masih ada atasannya"
__ADS_1
Vano diam sejenak, oleh sebab itu dia mengirim pengawal dengan jumlah banyak didampingi kamera pengintai satu orang satu kamera.
"Kurasa dia sudah menyerah,,,dia pengecut!!! Tidak pernah menunjukkan hidungnya. Untuk sementara Vallen akan baik baik saja" ujar Vano.
"Kau yakin?"
"Lagipula silahkan saja dia datang, mungkin dia ingin merasakan sakitnya dipukul oleh abi ku terutama umi" jawab Vano menyunggingkan seringainya.
"Tidak tidak aku hanya bercanda" imbuh Vano tersenyum tipis.
Kau bercanda? Kenapa aku tidak tertawa. Batin Ethan
"Baiklah kembali pada pembicaraan awal (wajah Vano datar lagi) pastikan Pian itu mau membuka mulut untuk mengatakan siapa bosnya tapi ingat satu hal jika dia tidak ingin mengaku bukan berarti kau bisa membunuhnya!' tutur Vano.
Ethan mengangguk paham sembari berpikir kembali bagaimana cara menyiksa tanpa membunuh.
"Sudahlah pergi sana aku ingin menghubungi kekasih ku" imbuh Vano seakan akan ingin memamerkan Vallen.
"Cih" Ethan langsung berdiri dan menjauhi Vano.
"Vallen punya ponsel tidak?" Tanya Ethan sembari menutup pintu.
"Bodoh!! Kenapa tidak memberikannya ponsel terlebih dahulu" gerutu Vano.
Akhirnya Vano berinisiatif untuk menghubungi David karena rasa rindunya sudah tidak bisa ia tahan padahal Vallen belum sehari pindah dari tempatnya.
"Berikan ponselnya pada Vallen"
"Tidak tidak jika aku berbicara tanpa basa-basi pasti paman David tidak merestui ku, hiiss lagipula kenapa harus dia ayah mu Vallen" gumam Vano kesal.
"Hallo?"
"As,,,, assalamu'alaikum"
Aduuh kenapa jadi gugup. Batin Vano
__ADS_1
"Waalaikumussalam ada apa!" Ujar David tanpa basa-basi.
"Mm itu anu mm apa aku boleh berbicara dengan Vallen sebentar?" Tanya Vano baik baik.
"Tidak!! Memangnya kau siapa!" Jawab David sinis.
"Hey apa perlu aku membeli perusahaan mu dan menjadikannya kandang ayam? Cepat berikan ponselnya pada Vallen" ucap Vano sudah tidak sabaran.
"Dasar setres!!" Gerutu David lalu menutup sambungannya.
"Valleeeennn!!" Teriak Vano menghempaskan tubuhnya di kasur lalu membuang ponsel tadi.
"Aku tauu keluarga mu sedang bahagia karena kau kembali tapi setidaknya rindukan aku jugaa" kata Vano merengek rengek seperti orang tidak punya nyawa.
Tapi disisi lain ia sangat bersyukur karena Vallen kembali dan baik baik saja, Vano mencoba untuk ikhlas berpisah sementara menikah tapi wajar saja ia merasa kesepian pasalnya Vallen sudah cukup lama disampingnya.
Tok,,,tok,,,tok
"Tuan makan siang sudah siap" ucap seorang pelayan.
"Ya" jawab Vano singkat.
Tak berselang lama Vano turun kebawah untuk makan siang, rencananya Vano akan kembali kerumahnya dan hidup seperti biasa tanpa keributan seisi rumah itu.
"Vano ayo makan" ucap Vira sembari menyiapkan makan siang untuk putranya.
"Aku dulu" saut Vino merebut piringnya.
"Dasar posesif, anak sendiri masih saja cemburu" gerutu Vano.
"Pulang sana, disini hanya menjadi beban keluarga" kata Vino menendang kaki putranya.
"Beban keluarga apanya, Vano ke sini membawa uang Abi jangan mengada ngada" bantah Vano.
"Bayar air dan listrik kamar bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah besok Vano bawa senter dan selang dari rumah untuk mandi, puas!!" Kata Vano sembari menyuap makanannya dengan kasar.
Tidak bisa apa makan dengan tenang, tentram ya Allah aku ingin minggat dari rumah ini. Batin Andre